Investor China Lepas Portofolio AS Hingga Rp330,72 Triliun, Ada Apa?
JAKARTA, Investortrust.id - Para investor dari China mulai melepas aset-aset dan portofolio yang berbasis di Amerika Serikat hingga senilai US$21,2 miliar atau setara Rp330,720 triliun pada bulan Agustus 2023. Angka tersebut merupakan pelepasan aset terbesar dalam empat tahun terakhir, demikian data Departemen Keuangan AS yang dikutip Bloomberg.
Penjualan sekuritas AS ini terjadi saat yuan onshore melemah pada bulan Agustus ke level terendahnya sejak November 2023, yang memicu spekulasi bahwa Beijing tengah mencari cara untuk memperkuat mata uangnya.
Baca Juga
Sebagian besar aset yang dijual hingga US$21,2 miliar tersebut berupa obligasi dan saham pemerintah AS. Institusi China juga mulai mengurangi atau memangkas kepemilikan surat utang yang dilansir lembaga-lembaga AS, demikian dilaporkan. Dalam periode tersebut, para investor Tiongkok melepas sekitar US$5,1 miliar atau setara Rp79,5 triliun saham AS pada bulan Agustus, jumlah terbesar sepanjang sejarah.
Menurut Bloomberg, tingkat penjualan aset AS oleh investor di China telah mendorong beberapa kelompok di Wall Street berspekulasi bahwa pejabat di Beijing tengah mencari cara untuk memperkuat nilai yuan yang melemah, dengan menjual obligasi AS demi meningkatkan cadangan dolar mereka yang dapat digunakan untuk intervensi penguatan mata uang.
Ekonomi China sendiri memang belum pulih sebagaimana yang diproyeksikan pasca pandemi COVID-19, dan Beijing sedang menghadapi pasar properti yang tidak pasti, mata uang yang melemah, perdagangan yang lesu, dan pertumbuhan ekonomi yang rendah.
Baca Juga
Sementara itu, pasar obligasi AS telah mengalami peningkatan penjualan dalam beberapa pekan terakhir, menyusul imbal hasil obligasi AS jangka waktu 10 tahun yang kini berada di level mendekati 5%, level tertinggi sejak 2007.
Para analis di Barclays mengatakan pekan ini bahwa investor sebaiknya tidak berharap bahwa tingkat imbal hasil tersebut akan turun dalam waktu dekat, kecuali dalam kasus terjadinya guncangan keuangan atau resesi.
"Hambatan bagi reli [obligasi] masih tinggi," kata para ahli strategi tersebut dalam sebuah catatan pada hari Rabu pekan lalu. "Meskipun data terus menunjukkan ekonomi yang kuat, konsensus masih memprediksi perlambatan yang sangat tajam dalam beberapa kuartal mendatang. Ada ketidaksesuaian antara pandangan mayoritas tentang kondisi ekonomi dan kebijakan moneter yang dianggap terlalu ketat. Ada potensi untuk kejutan positif dalam perkembangan ekonomi dan kebijakan moneter di masa mendatang,” demikian catatan para analis yang dikutip Bloomberg, Jumat (20/10/2023).

