Hamas vs Israel. Korban Sipil Berjatuhan Di Kedua Belah Pihak
Ekskalasi konflik antara miitan Hamas dan militer Israel di jalur Gaza terus meningkat dan mengakibatkan korban tewas baik militer maupun sipil di kedua belah pihak. Terkini, Israel sedang melakukan evakuasi terhadap warga sipil yang tinggal di dan dekat dengan perbatasan jalur Gaza.
Di pihak Israel, hampir 600 warga sipil tewas karena serangan Hamas baik menggunakan roket, penembakan warga sipil oleh militan Hamas yang menyerbu ke pemukiman warga Israel. Hamas juga menggunakan paramotor untuk menyusup ke dalam wilayah Israel, sebuah tindakan yang penuh resiko karena paramotor mudah ditembak dari darat. Selain itu hampir 2000 warga sipil Israel juga terluka.
Pasukan Pertahanan Israel menyebut sekitar 26 prajurit IDF tewas. Mengutip CNN, juru bicara IDF, Letkol Richard Hecht mengatakan pada hari Minggu, 9 Oktober 2023, "Israel bangun pagi ini dan mengalami pagi yang mengerikan. Ada banyak orang yang terbunuh. Orang-orang telah diculik di Gaza, tidak hanya tentara tetapi juga warga sipil, anak-anak, nenek-nenek."
"Kami kehilangan prajurit, kami kehilangan komandan, kami kehilangan banyak warga sipil." tambahnya. Ucapan Hecht mungkin merujuk kepada sebuah laporan bahwa Hamas telah menangkap Komandan Angkatan Darat Israel wilayah Gaza, Mayor Jenderal Nimrod Aloni. Hamas memposting gambar komandan Korps Kedalaman IDF yang mengenakan T-Shirt dan pakaian dalam yang sepertinya sedang ditangkap dan dibawa melalui jalanan di Kota Gaza.
Komandan Aloni adalah kepala Korps Kedalaman dan Sekolah Tinggi Militer Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dan ditunjuk awal tahun ini oleh Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant. Militer Israel menganggap informasi ini salah. Menurut juru bicara IDF, klaim Hamas tentang Komandan Aloni "tidak jelas dan tidak dapat dikonfirmasi".
Mayor Jenderal Nimrod Aloni adalah seorang perwira tinggi di Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang memiliki pengalaman dan kepemimpinan yang sangat berharga dalam mengelola konflik dan menjaga keamanan di sepanjang perbatasan dengan Jalur Gaza yang bergejolak.
Sementara di pihak Palestina sampai artikel ini ditayangkan telah jatuh 313 warga sipil tewas dan 1990 terluka.
Lalu mengapa bisa timbul banyak korban di pihak Israel sementara negara kecil itu memiliki sistem pertahanan udara Iron Dome yang selama ini diklaim efektif?
Sistem Pertahanan Udara Iron Dome bukannya tanpa celah. Sistem ini dilengkapi dengan baterai pertahanan rudal yang mampu melindungi terhadap serangan mortir dan roket, serupa dengan yang diluncurkan dari wilayah Palestina, dalam radius sekitar 40 mil dari lokasi baterai. Setiap baterai dilengkapi dengan tiga hingga empat peluncur yang dapat menembakkan 20 rudal pencegat. Satu dekade sejak Iron Dome mulai beroperasi, Israel kini memiliki 10 baterai yang dikerahkan di seluruh negeri. Dibuat oleh perusahaan Israel Rafael Advanced Defense Systems dan Israel Aerospace Industries dengan dukungan Amerika, Iron Dome mulai beroperasi pada tahun 2011. Dianggap sebagai salah satu sistem pertahanan tercanggih di dunia, Iron Dome menggunakan radar untuk mengidentifikasi dan menghancurkan ancaman yang datang sebelum menimbulkan kerusakan.
Bila satu baterai mampu menembakkan 20 rudal pencegat sekaligus, maka 10 baterai Iron Dome mampu meluncurkan 200 rudal pencegat sekali tembak dan membutuhkan waktu untuk mengisi ulang. Bila 5000 roket dihadang oleh 200 rudal Iron Dome, maka pasti akan ada banyak roket yang lolos dari cegatan Iron Dome. Karena itu Operasi Banjir Al Aqsa yang diinisiasi Hamas kali ini merupakan serangan tersukses selama satu dekade ini. Hamas tidak hanya meluncurkan 5000 roket, tetapi infantri militannya juga menyerbu masuk ke dalam wilayah Israel, membunuh dan menangkap puluhan personil militer Israel dan salah satunya adalah tangkapan besar mereka, Mayor Jenderal Nimrod Aloni.
“Jumlah warga Israel yang terbunuh dan terluka akan jauh lebih tinggi jika bukan karena sistem Iron Dome, yang selalu menjadi penyelamat hidup,” kata juru bicara militer Israel Letkol Jonathan Conricus minggu ini. Namun beberapa analis mengatakan intensitas serangan baru-baru ini dari Gaza menunjukkan bahwa kelompok militan berusaha untuk mengecoh Iron Dome dengan meluncurkan roket sebanyak-banyaknya secara salvo – meningkatkan kekhawatiran tentang kemungkinan keterbatasan sistem tersebut.

