Harga Beras Meroket, Filipina Terapkan Batas Harga
JAKARTA, Investortrust.id - Pemerintah Filipina mengumumkan batasan harga untuk beras demi melindungi konsumen, menyusul naiknya harga bahan pokok nasional yang berpotensi menyebabkan inflasi pada Agustus 2023 meningkat untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan.
Penerapan batas harga terhadap komoditas beras ini dilakukan oleh pemerintah Filipina pada Jumat (1/9/2023), demikian dilaporkan Straitstimes.com.
Sebagai salah satu pengimpor beras terbesar di dunia, Filipina tengah mengambil tindakan tegas terhadap manipulasi hargadi dalam negeri. Seperti diketahui, tekanan harga pada beras meningkat akibat sejumlah peristiwa seperti konflik Rusia-Ukraina, larangan ekspor beras oleh India, dan harga minyak mentah yang tidak dapat diprediksi.
residen Ferdinand Marcos Jr yang juga merangkap sebagai Menteri Pertanian dikabarkan telah menyetujui harga maksimum sebesar 41 peso Filipina per kilogram atau setara dengan Rp11.054, sementara harga beras giling ditetapkan sebesar 45 peso per kilogram atau setara Rp12.133. Pembatasan ini akan tetap berlaku hingga aturan tersebut dicabut Presiden.
Sejauh ini harga beras giling kualitas premium, baik produksi lokal maupun diimpordijual antara 47 dan 56 peso di Manila. Sementara beras giling biasa, dihargai antara 42 hingga 55 peso, berdasarkan harga pada Rabu 30 Agustus 2023 lalu, demikian diinformasikan Kementerian Pertanian Filipina.
Meskipun pasokan beras cukup stabil, pihak berwenang melaporkan adanya "dugaan praktik manipulasi harga, termasuk penimbunan oleh pedagang oportunis dan kolusi antara kartel industri, menyusul musim tanam yang rendah," demikian pernyataan dari Kantor Kepresidenan dikutip Straitstimes.com.
“Negara ini juga merasakan tekanan harga akibat peristiwa global seperti konflik Rusia-Ukraina, larangan ekspor beras India, dan ketidakpastian harga minyak,” tambah pernyataan tersebut.
Sementara itu tidak terjadi penolakan dari kelompok petani setempat. “Tak ada alasan untuk kenaikan harga dalam pekan-pekan terakhir ini, karena tidak terjadi kekurangan pasokan di dalam negeri,” demikian Grup Sinag dalam pernyataannya.
Sebelumnya Presiden Marcos Jr memerintahkan otoritas untuk meningkatkan upayanya mengejar para penimbun beras dan mengambil langkah-langkah pengendalian inflasi beras, yang mencapai 4,2% pada bulan Juli, yang tertinggi sejak tahun 2019.
Filipina merupakan salah satu pengimpor beras terbesar di dunia dan harga eceran berasnya naik lebih tinggi pada bulan Agustus, dengan beberapa jenis beras harganya naik hingga 25% di beberapa pasar di sekitar Manila.
Pasokan beras Filipina untuk paruh kedua tahun ini akan mencapai 10,15 juta ton, di mana 7,2 juta ton diperkirakan berasal dari produksi lokal. Dibarengi langkah impor dan pasokan domestik, memungkinkan Filipina mengakhiri tahun ini dengan stok yang cukup untuk 64 hari kebutuhan dalam negeri.
