Bapanas Ungkap Harga Beras Masih Meroket di Sejumlah Wilayah, Ini Penyebabnya!
JAKARTA, investortrust.id - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengungkapkan sejumlah wilayah mengalami kenaikan harga beras, baik yang jenis premium maupun medium. Kenaikan tersebut melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.
Dalam paparannya, Deputi Bidang Kerawanan Pangan dan Gizi Bapanas Nyoto Suwignyo menyebutkan, kenaikan harga beras jenis premium tertinggi terjadi pada wilayah zona 3, yakni Maluku dan Papua. "Berdasarkan data Bapanas, HET beras premium di zona 3 adalah Rp 15.800 per kilogram. Namun, rata-rata hari ini melonjak hingga Rp 19.839 per kilogram atau naik sebesar 25%. Ini terjadi karena daerah-daerah di zona 3 ini bukan penghasil (beras), sehingga ada proses dan pengolahan serta distribusinya yang membutuhkan waktu,” ucapnya saat Rapat Koordinasi Inflasi Daerah di Youtube Kemendagri, Senin (13/5/2024).
Baca Juga
Beras Medium Naik 6%
Nyoto menjelaskan lebih lanjut, beras jenis medium juga masih mengalami kenaikan harga di atas HET pemerintah sebesar 6%. Nyoto menilai, kondisi ini terjadi dikarenakan penyesuaian relaksasi yang baru dilakukan dan memerlukan sosialisasi secara masif.
“Mungkin nanti waktunya bersamaan dengan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM), atau bantuan pangan yang sebenarnya masih ada (jatah) April 2024. Ini harusnya segera digelontorkan, sehingga bisa menurunkan harga-harga di tingkat konsumen medium,” bebernya.
Baca Juga
Harga Emas Antam Masih Parkir di Rp 1.333.000 per Gram Senin Pagi
Sedangkan untuk beras premiun di wilayah yang berada di zona 1 hanya mengalami kenaikan 1,14%, bila dibandingkan minggu lalu. Ia menilai hal tersebut terjadi karena distribusi belum dilakukan secara merata.
“Hal ini hanya persoalan bahwa perlu penggelontoran sedikit, karena nilainya tidak tinggi. Hanya kemungkinan ada beberapa wilayah yang belum secara masif melakukan distribusi dan belum ada penyampaian (info) kepada konsumen dengan baik,” tandas Nyoto.

