Saham Alphabet Jeblok 13%, Kapitalisasi Pasar Menguap Rp 9.000 Triliun
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Saham Alphabet, induk perusahaan Google, anjlok hampir 13% pada perdagangan Kamis (29/10/2026), mencatatkan penurunan harian terdalam sejak Google melantai di bursa pada 2004. Penurunan tersebut menghapus sekitar US$500 miliar dari kapitalisasi pasar perusahaan teknologi raksasa itu. Nilai penurunan ini setara Rp 9.000 triliun, dengan kurs Rp 18.000 per dolar AS.
Tekanan terhadap saham Alphabet muncul setelah laporan keuangan kuartal III-2026 menunjukkan arus kas bebas negatif sebesar US$9,07 miliar. Angka tersebut jauh lebih buruk dibandingkan perkiraan analis yang memperkirakan arus kas bebas positif sebesar US$2,7 miliar.
Alphabet tetap mempertahankan proyeksi belanja modal sepanjang 2026 di kisaran US$195 miliar hingga US$205 miliar. Besarnya investasi tersebut menjadi perhatian investor yang semakin mempertanyakan seberapa cepat belanja infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dapat menghasilkan keuntungan.
Baca Juga
Model AI Gemini 3 Tebar Optimisme Baru, Saham Alphabet Melonjak 3%
Berbeda dengan Alphabet, saham Microsoft relatif stabil pada awal perdagangan sebelum akhirnya ditutup sedikit melemah. Perusahaan tersebut melaporkan belanja modal dan sewa pembiayaan sebesar US$45,2 miliar pada kuartal terakhir, naik 30% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tetapi masih di bawah perkiraan analis sebesar US$50,67 miliar.
Arus kas bebas Microsoft turun 27% menjadi US$18,63 miliar, tetapi masih berada di wilayah positif.
Ben Barringer, kepala riset teknologi global di Quilter Cheviot, menilai Microsoft menjalankan ekspansi infrastrukturnya secara lebih terukur sehingga memberikan lebih sedikit kejutan kepada investor. Sebaliknya, Alphabet menghadapi tekanan akibat hasil keuangan yang dinilai mengecewakan dan penyampaian hasil yang kurang meyakinkan dalam konferensi dengan investor.
Bisnis Pencarian Google Hadapi Tekanan
Selain persoalan arus kas dan belanja AI, kinerja bisnis utama Google turut membebani saham Alphabet. Pendapatan iklan pencarian Google meningkat 12% menjadi US$63,35 miliar pada kuartal yang berakhir September. Namun, pencapaian tersebut masih di bawah ekspektasi analis.
Kepala Bisnis Alphabet Philipp Schindler mengatakan, sebagian tekanan terhadap monetisasi bisnis pencarian berasal dari produk AI Mode. Perusahaan kini memperluas penayangan iklan dalam fitur AI Overviews dan AI Mode, termasuk di pasar internasional.
Google menghadapi persaingan yang semakin ketat dari chatbot AI seperti ChatGPT milik OpenAI dan Claude milik Anthropic. Kehadiran layanan tersebut membuka alternatif bagi pengguna untuk mencari informasi tanpa harus mengandalkan mesin pencari Google.
Sementara itu, Gemini, chatbot AI milik Google, dinilai belum mampu menyamai kemajuan sejumlah pesaingnya dalam persaingan AI.
Barringer menilai Google menghadapi dilema inovasi: mempertahankan bisnis pencarian yang selama ini menjadi sumber pendapatan utama atau mempercepat transformasi agar tidak tertinggal dalam perubahan teknologi.
Menurutnya, Alphabet berisiko kehilangan keunggulan dalam persaingan AI, terutama pada pengembangan AI agent yang dapat menjalankan tugas secara lebih mandiri.
Baca Juga
Lampaui Google dan Meta, Model AI Qwen Milik Alibaba Tembus 3 Miliar Unduhan Global
Meski demikian, dominasi Google dalam bisnis pencarian masih menjadi modal strategis. Analis Rosenblatt Securities Scott Devitt menilai basis sekitar empat miliar pengguna pencarian Google dapat menjadi keuntungan besar jika perusahaan berhasil mengubah mereka menjadi pengguna layanan AI.
“Tantangan monetisasi AI bukan hanya dihadapi Alphabet, melainkan juga perusahaan lain yang mengembangkan agen AI dan model bahasa besar,” kata Devitt kepada CNBC.
Bagi investor, persoalan utamanya kini bukan semata-mata besarnya belanja AI, melainkan kemampuan perusahaan mengubah investasi tersebut menjadi pendapatan dan arus kas yang berkelanjutan.
Penurunan tajam saham Alphabet menunjukkan bahwa pasar semakin selektif terhadap perusahaan teknologi yang menggelontorkan dana besar untuk AI. Pertumbuhan pendapatan saja tidak lagi cukup apabila tidak diikuti arus kas yang sehat dan bukti nyata pengembalian investasi.
