Rusia, China, dan AS Siapkan Pertemuan Putin, Xi Jinping, dan Donald Trump
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id – Rusia, China, dan Amerika Serikat (AS) mulai mempersiapkan kemungkinan penyelenggaraan pertemuan trilateral yang melibatkan Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden China Xi Jinping, dan Presiden AS Donald Trump. Persiapan tersebut dilakukan setelah ketiga pemerintahan menyatakan kesiapan secara prinsip untuk melanjutkan rencana pertemuan tersebut.
Dilaporkan YeniSafak, Minggu, (25/10/2026), penasihat kebijakan luar negeri Kremlin, Yury Ushakov, mengatakan kepada kantor penyiaran Rusia VGTRK bahwa persiapan untuk pertemuan tiga pemimpin negara tersebut telah dimulai. Meski demikian, belum ada kepastian mengenai penyelenggaraan pertemuan bilateral antara Putin dan Trump dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) yang dijadwalkan berlangsung pada 18–19 November di Shenzhen, China.
Ushakov menyatakan, kemungkinan pertemuan Putin dan Trump tetap terbuka seiring dengan persiapan pertemuan trilateral yang tengah dibahas.
“Saya dapat memastikan sekarang bahwa Moskow, Beijing, dan Washington pada prinsipnya siap untuk menggelar pertemuan tersebut, dan persiapannya telah dimulai,” kata Ushakov.
Dia menambahkan, apabila ketiga presiden berada di lokasi yang sama, protokol diplomatik akan membuka peluang komunikasi di antara mereka, meskipun tidak ada agenda pertemuan bilateral resmi.
“Jika dua presiden berada di tempat yang sama, setidaknya mereka akan saling menyapa, berbicara sambil duduk di meja, atau berbincang dalam acara-acara protokoler. KTT internasional berskala besar seperti ini membuka peluang yang sangat besar untuk berkomunikasi,” ujarnya.
Baca Juga
Di Gedung Putih, PM China XI Jinping Mengimbau AS Tidak Takut Bersaing
Saat ini, Moskow memusatkan perhatian pada pertemuan APEC di Shenzhen pada November sebelum mempertimbangkan KTT G20 yang dijadwalkan berlangsung di Miami, Amerika Serikat, pada Desember. Ushakov mengatakan, urutan kedua agenda internasional tersebut secara alami akan memengaruhi kalender diplomatik Rusia, termasuk keputusan mengenai partisipasi negara itu.
Rusia Siap Melanjutkan Perundingan dengan AS dan Ukraina
Di tengah upaya membuka jalur komunikasi antara para pemimpin dunia, Rusia juga menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perundingan trilateral dengan Amerika Serikat dan Ukraina guna membahas konflik yang masih berlangsung.
Ushakov mengatakan, Moskow siap melanjutkan perundingan setelah peringatan Hari Persatuan Nasional Rusia pada 4 November. Pernyataan tersebut menandai kemungkinan dimulainya kembali upaya diplomatik untuk mencari jalan keluar dari konflik Rusia-Ukraina.
“Sekarang tenggat berikutnya adalah 4 November, hari libur besar kami. Setelah itu, kami akan siap melanjutkan perundingan,” kata Ushakov.
Namun, dia mengingatkan bahwa pertemuan awal pada tingkat ahli kemungkinan masih bersifat penjajakan dan belum akan menghasilkan keputusan yang menentukan.
Ushakov juga mengungkapkan bahwa Kremlin sebelumnya berharap Washington dapat menggunakan pengaruhnya untuk menekan Ukraina agar mematuhi kesepakatan yang berpotensi dicapai melalui perundingan. Akan tetapi, menurut dia, dampak upaya tersebut dalam praktiknya masih sangat terbatas.
Selain melanjutkan dialog dengan Kyiv, Moskow menilai komunikasi dengan negara-negara Eropa juga diperlukan. Ushakov berpendapat bahwa negara-negara Eropa cenderung memperpanjang konflik, sehingga pembicaraan dengan Ukraina saja tidak cukup, terlebih Uni Eropa sepenuhnya mendukung posisi Kyiv.
Dia menilai pemerintahan Presiden Donald Trump memahami bahwa Rusia tidak dapat diabaikan, meskipun situasi politik di Washington saat ini dinilai tidak menguntungkan Moskow.
“Di Amerika Serikat, seperti yang Anda ketahui, situasi politik secara umum sangat tidak menguntungkan bagi Rusia. Namun, ada pemerintahan Trump yang berusaha mempertimbangkan kepentingan nasionalnya. Kepentingan tersebut pada dasarnya menunjukkan bahwa Rusia tidak dapat diabaikan dan bahwa berinteraksi dengan Rusia merupakan pilihan yang lebih baik,” ujar Ushakov.
Baca Juga
Trump-Putin Sepakat, Rusia Bakal Pasok Lebih dari 4 Juta Ton Solar ke Pasar Global
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan Kremlin bahwa keterlibatan Rusia tetap diperlukan dalam upaya diplomatik untuk menangani konflik, sekalipun terdapat perbedaan kepentingan dan posisi politik di antara negara-negara yang terlibat.
Kremlin Tanggapi Usulan Presiden Finlandia Jadi Negosiator Eropa
Secara terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menanggapi laporan mengenai kemungkinan Presiden Finlandia Alexander Stubb menjadi negosiator Eropa dengan Rusia untuk membahas konflik Ukraina.
Peskov menyampaikan dukungan bersyarat terhadap usulan tersebut. Menurut dia, kehadiran seorang negosiator dapat membantu membuka jalur komunikasi, terutama apabila orang yang ditunjuk benar-benar berupaya mendorong penyelesaian damai.
“Jika ada seorang negosiator, itu merupakan hal yang baik. Jika negosiator tersebut adalah seseorang yang dengan tulus berupaya memfasilitasi penyelesaian damai, hal itu akan lebih baik lagi,” kata Peskov.
Pernyataan tersebut muncul ketika Moskow berupaya memperluas saluran diplomatik di luar pembicaraan bilateral Rusia dan Amerika Serikat. Langkah ini juga membuka kemungkinan keterlibatan negara-negara Eropa dalam kerangka penyelesaian konflik Ukraina pada masa mendatang.
Menurut media pemerintah Rusia, perluasan jalur diplomasi tersebut menjadi bagian dari upaya untuk melibatkan lebih banyak pihak dalam proses yang berpotensi mengarah pada penyelesaian konflik.
Meski sejumlah rencana pertemuan dan perundingan mulai dibahas, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan pertemuan trilateral Putin, Xi, dan Trump maupun hasil yang dapat dicapai dari upaya diplomatik Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, dan negara-negara Eropa
