Aksi Jual Meluas di Wall Street, Indeks Dow Jones Terjun Lebih dari 600 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) turun tajam pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (24/10/2026 WIB. Aksi jual yang sebelumnya melanda saham teknologi merembet ke berbagai sektor pasar. Lonjakan harga minyak hingga melampaui US$100 per barel juga memperbesar kekhawatiran investor terhadap kemungkinan kembali memanasnya konflik AS-Iran.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 652,82 poin atau 1,23% menjadi 52.215,16. Indeks S&P 500 turun 0,52% ke level 7.623,68, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 0,21% menjadi 25.955,34.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Dipicu Kejatuhan Saham AI dan Lonjakan Harga Minyak, Nasdaq Anjlok 2,6%
Pelemahan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak lagi terbatas pada saham teknologi. Sejumlah sektor yang biasanya dianggap lebih defensif, seperti barang konsumsi kebutuhan pokok, utilitas, dan layanan kesehatan, juga mencatatkan penurunan.
Di antara saham-saham unggulan Dow Jones, American Express merosot lebih dari 3% setelah perusahaan tersebut mengumumkan rencana memangkas sekitar 5% tenaga kerja globalnya. Perusahaan menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari upaya mempersiapkan bisnis menghadapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Saham Caterpillar turun sekitar 2%, sementara Goldman Sachs melemah lebih dari 1%. Penurunan saham-saham tersebut turut menekan indeks Dow Jones yang terdiri atas 30 perusahaan besar AS.
Aksi Jual Meluas
Pada perdagangan Kamis, investor telah melepas sejumlah saham teknologi karena mencermati dampak besarnya utang korporasi dan kenaikan suku bunga terhadap perusahaan teknologi, termasuk bisnis yang terkait dengan pengembangan AI.
Investasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data AI membutuhkan pendanaan yang sangat besar. Ketika perusahaan semakin bergantung pada pinjaman, kenaikan biaya pendanaan dapat menekan profitabilitas sekaligus meningkatkan kekhawatiran mengenai keberlanjutan belanja modal.
Namun, pergerakan saham teknologi pada Jumat menunjukkan gambaran yang beragam.
Saham Microsoft bergerak naik tipis. Sementara itu, saham produsen semikonduktor Micron Technology menguat hampir 3%, sedangkan Advanced Micro Devices (AMD) naik hampir 2%.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor belum sepenuhnya meninggalkan sektor teknologi. Sebagian pelaku pasar masih melihat peluang pada perusahaan yang memiliki prospek pendapatan dan laba yang kuat, meskipun kekhawatiran terhadap valuasi saham dan kebutuhan pembiayaan tetap membayangi.
"Selama dua pekan terakhir investor beralih dari saham teknologi dan perusahaan penerima manfaat pembangunan pusat data menuju aset yang dianggap lebih aman," kata Jed Ellerbroek, manajer portofolio di Argent Capital Management, kepada CNBC.
Namun, menurut dia, perpindahan tersebut pada akhirnya dapat mencapai titik jenuh ketika semakin sedikit investor yang bersedia melakukan rotasi portofolio serupa.
Ellerbroek menilai laporan keuangan perusahaan teknologi yang telah dirilis pada musim pelaporan kuartal terbaru menunjukkan hasil yang baik. Kondisi itu dapat menjadi alasan bagi investor untuk kembali mempertimbangkan saham teknologi dan tidak semata-mata mengambil keputusan berdasarkan ketakutan.
Ia juga menekankan besarnya pengaruh emosi dan ketakutan terhadap keputusan investasi ketika ketidakpastian meningkat.
Tekanan Harga Minyak
Faktor lain yang membebani Wall Street adalah lonjakan harga minyak mentah. Kontrak berjangka WTI naik 3,8% menjadi US$103,27 per barel, sedangkan Brent menguat 3,1% menjadi US$116,72 per barel.
Baca Juga
Harga minyak yang tinggi meningkatkan risiko kenaikan biaya energi bagi perusahaan dan rumah tangga. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memperbesar tekanan inflasi dan mempersulit pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral.
Kekhawatiran ini semakin besar setelah muncul laporan bahwa AS dan Israel tengah menyiapkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Teheran sendiri menyatakan siap melakukan serangan balasan apabila konflik kembali meningkat.
Pasar dengan demikian menghadapi dua tekanan yang saling berkaitan: risiko geopolitik yang mendorong harga energi naik dan ketidakpastian suku bunga yang memengaruhi valuasi saham.
Bagi perusahaan, minyak yang lebih mahal dapat meningkatkan biaya produksi, transportasi, dan distribusi. Sementara itu, apabila tekanan inflasi membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama, biaya pinjaman perusahaan berpotensi tetap mahal dan daya beli konsumen dapat tertekan.
Kombinasi tersebut menjadi tantangan bagi investor yang sebelumnya mengandalkan pertumbuhan laba perusahaan untuk menopang kenaikan harga saham.
Yield Obligasi AS Kembali Mendekati 5%
Di pasar obligasi, imbal hasil atau yield Treasury AS bertenor 10 tahun berada di sekitar 4,999%, naik lebih dari 4 basis poin pada Jumat.
Sehari sebelumnya, yield obligasi acuan tersebut sempat turun di bawah ambang 5% untuk pertama kalinya dalam sebulan. Penurunan itu terjadi ketika investor mulai mencermati besarnya kebutuhan pembiayaan untuk pembangunan pusat data AI dan dampaknya terhadap pasar utang.
Baca Juga
Yield Obligasi AS 10 Tahun Anjlok di Bawah 5%, Ini Risiko yang Diwaspadai Investor
Kenaikan yield pada Jumat menambah tekanan terhadap pasar saham, terutama perusahaan yang sensitif terhadap biaya pendanaan dan valuasi berdasarkan proyeksi keuntungan masa depan.
Secara umum, kenaikan yield obligasi pemerintah AS dapat membuat aset berpendapatan tetap lebih menarik dibandingkan saham. Pada saat yang sama, tingkat diskonto yang lebih tinggi dapat mengurangi nilai sekarang dari proyeksi laba perusahaan, khususnya perusahaan pertumbuhan yang mengandalkan keuntungan pada masa mendatang.
Meski demikian, pergerakan pasar tidak sepenuhnya seragam. Saham semikonduktor tertentu masih menguat, menandakan bahwa investor tetap membedakan prospek masing-masing perusahaan di tengah tekanan pasar yang lebih luas.
Secara mingguan, S&P 500 turun 0,5%, sedangkan Nasdaq terkoreksi 0,7%. Sebaliknya, Dow Jones masih mencatatkan kenaikan 0,4% selama periode yang sama, meskipun mengalami penurunan tajam pada perdagangan Jumat.
Perbedaan kinerja tersebut mencerminkan perubahan preferensi investor dan rotasi antarsektor di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Perkembangan harga minyak, prospek konflik Timur Tengah, laporan keuangan emiten, dan pergerakan yield obligasi akan menjadi faktor penting yang menentukan arah pasar selanjutnya.
Bagi investor, risiko utamanya adalah kemungkinan terjadinya kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang melambat, inflasi energi yang meningkat, dan suku bunga yang bertahan tinggi. Namun, apabila laba perusahaan tetap kuat dan ketegangan geopolitik mereda, saham-saham yang mengalami koreksi juga berpeluang menarik minat pembeli kembali.
