Dianggap Tradisional, Warren Buffett Ternyata Punya 47,6% Saham AI
JAKARTA, Investortrust.id – Investor kakap kelas global Warren Buffett selama ini dinilai sebagai ikon investasi yang jauh dari alokasi di perusahaan-perusahaan berbasis teknologi yang kompleks. Selaam ini, lebih dari 50 tahun Buffet lewat tentakel investasinya Berkshire Hathaway, mampu mencetak tingkat return dengan strategi pasar yang relatif sederhana.
Buffett terutama berinvestasi dalam perusahaan-perusahaan yang menguntungkan dengan pertumbuhan yang stabil, khususnya jika perusahaan memiliki tim manajemen yang baik di pimpinan. Namun Buffett seringkali harus menyimpan sahamnya selama beberapa dekade.
Baru-baru ini orang kepercayaannya yang juga ikut mengelola strategi investasi Buffet, Charlie Munger, membocorkan informasi bahwa Berkshire Hathaway berpotensi mendapatkan manfaat signifikan dari saham teknologi. Pasalnya hampir setengah dari portofolio Berkshire senilai US$335 miliar yang terdaftar secara publik diinvestasikan dalam dua saham yang semakin fokus pada AI, demikian dilansir fool.com, Rabu (25/10/2023).
Baca Juga
Alokasi pertama yang terbesar di perusahaan teknologi ditempatkan di Apple Inc, dengan porsi hingga mencapai 47,2% dari seluruh portofolio Berkshire Hathaway.
Apple Inc adalah perusahaan terbesar di dunia, dengan valuasi sebesar US$2,7 triliun. Keyakinan Buffett pada raksasa teknologi ini sangat jelas, Apple memproduksi beberapa produk elektronik paling populer di dunia, terutama iPhone. Perusahaan ini juga secara diam-diam mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke seluruh portofolio produknya untuk meningkatkan pengalaman pengguna.
Beberapa fitur perangkat lunak yang tertanam dalam perangkat Apple juga sudah menggunakan AI. Misalnya, bantuan suara Siri. Teks prediksi yang terdapat dalam setiap papan ketik Apple juga didukung AI. Selain itu, banyak aplikasi juga sangat bergantung pada AI. Ambil contoh Apple Music, yang menggunakan AI untuk belajar soal selera setiap pendengar dan secara otomatis menyusun daftar putar untuk meningkatkan engagement.
Baca Juga
Amazon Luncurkan Satelit Perluas Ketersediaan Internet di Dunia
Menurut laporan dari Bloomberg, Apple saat ini juga terjun ke dunia generative AI. Perusahaan ini kabarnya telah mengembangkan model bahasa besar yang disebut Ajax, yang menggerakkan chatbot mereka sendiri yang diberi nama Apple GPT. Program ini dirancang untuk bersaing dengan chatbot AI lainnya seperti ChatGPT.
Bloomberg mengatakan bahwa Apple menginvestasikan sekitar US$1 miliar per tahun dalam teknologi generative AI. Mulai tahun depan, teknologi ini dapat diintegrasikan ke dalam Siri untuk meningkatkan kemampuan asisten suara tersebut, dan juga akan dimasukkan ke dalam alat pengembangan aplikasi Apple Xcode untuk memungkinkan pengembang aplikasi menciptakan produk lebih cepat.
Pertimbangan soal kecerdasan buatan memang tidak ada dalam pikiran Buffett ketika Berkshire mulai mengakumulasi saham Apple pada tahun 2018. Tetapi di masa depan, AI ini bisa menjadi sesuatu yang setara dengan iPhone di Apple Inc.
Selain Apple, saham Amazon juga mengisi 0,4% porsi dari portofolio Berkshire Hathaway. Sangat kecil jika dibandingkan porsi Apple.
Baca Juga
Namun sejak perusahaan pertama kali membeli saham Amazon pada tahun 2019, Buffett sering mengungkapkan penyesalannya karena tidak memahami potensi raksasa e-commerce ini lebih awal. Rasa penyesalannya semakin membesar begitu Amazon terus maju dengan strategi kecerdasan buatan (AI) yang sangat agresif.
Ini sejumlah alasan mengapa Buffet dan Munger agak menyesal tak terjun masuk ke Amazon sejak awal. Pertama, Amazon Web Services (AWS) adalah divisi komputasi awan terkemuka milik Amazon. Ia mengelola sekitar 125 pusat data di seluruh dunia, dan juga menjadi rumah bagi banyak proyek AI perusahaan. Bulan lalu, Amazon menginvestasikan sekitar US$4 miliar dalam pengembang AI generatif bernama Anthropic, yang merupakan investasi kedua terbesar dalam sebuah startup AI setelah kucuran investasi Microsoft sebesar US$10 miliar pada OpenAI, pencipta ChatGPT.
Kesepakatan ini akan membantu Amazon untuk melaksanakan pendekatan tiga arahnya dalam arena AI. Pertama, perusahaan mengembangkan chip pusat data yang disebut Inferentia dan Trainium, yang dirancang sebagai pengganti chip yang dibuat oleh Nvidia. Anthropic akan menggunakan chip Amazon untuk mengembangkan dan melatih model-model masa depan untuk chatbot-nya, yang bisa mempercepat adopsi perangkat keras tersebut, dan bisa menggoda startup AI lainnya untuk memilih Amazon ketimbang Nvidia.
Kedua, AWS memberikan model bahasa besar (LLM) sebagai layanan kepada pelanggannya. Diperlukan jumlah data yang besar dan sumber daya keuangan yang signifikan untuk mengembangkan LLM dari awal, sehingga sebagian besar industri lebih suka mengadopsi alternatif siap pakai.
Terakhir, AWS memberikan aplikasi AI siap pakai seperti alat CodeWhisperer untuk membantu pelanggan mengembangkan perangkat lunak lebih cepat dan meningkatkan produktivitas mereka secara keseluruhan.
