Paus Leo XIV Melawan Kanker, Dunia Mendaraskan Doa Rosario
Operasi 90 menit mengangkat lobus bawah paru-paru kanan Paus. Di tengah penantian hasil pemeriksaan lanjutan, doa menyatukan umat dari Roma hingga Amerika Selatan.
JAKARTA, Investortrust.id — Di Rumah Sakit Gemelli, Roma, perawatan medis dan pendampingan rohani berlangsung beriringan. Pada Selasa (13/10/2026), Paus Leo XIV menjalani operasi paru-paru. Malam harinya, Kardinal Baldassarre Reina, Vikaris Paus untuk Keuskupan Roma, memimpin Rosario di kapel rumah sakit. Umat berkumpul membawa harapan yang sama: kesembuhan Bapa Suci. Gereja dan komunitas religius di Roma juga diajak mendoakannya.
Kabar dari ruang operasi membawa kelegaan sekaligus menandai awal perjuangan menghadapi penyakit serius. Menurut keterangan dokter yang dipublikasikan Kantor Pers Takhta Suci melalui Vatican News, operasi berjalan sukses tanpa komplikasi. Pemeriksaan jaringan saat pembedahan mengonfirmasi adenokarsinoma paru, jenis kanker yang sebelumnya sudah dicurigai melalui pemeriksaan praoperasi.
Dua hari sebelumnya, seusai doa Angelus pada Minggu (11/10/2026), Paus telah menyampaikan kondisi kesehatannya kepada umat. Pemeriksaan medis menemukan nodul kecil di paru-parunya. Ia menjelaskan bahwa kelainan itu terdeteksi sangat dini dan terlokalisasi dengan baik. Mengikuti anjuran dokter, Paus memutuskan menjalani operasi.
“Saya berterima kasih atas kedekatan rohani kalian dan mempercayakan diri saya pada doa-doa kalian,” demikian pesan Paus, sebagaimana diterjemahkan dari laporan Vatican News. Pengumuman itu memperlihatkan seorang pemimpin Gereja yang bersedia berbagi kerentanan sekaligus menerima pertolongan medis.
Operasi dipimpin Profesor Stefano Margaritora, bersama tim bedah toraks Gemelli. Dokter mengangkat seluruh lobus bawah paru-paru kanan menggunakan teknik berbantuan video. Tindakan pembedahan berlangsung sekitar 90 menit, sedangkan keseluruhan waktu Paus berada di ruang operasi sekitar tiga jam. Setelah sadar kembali dan menjalani observasi singkat, beliau dipindahkan ke kamar perawatan di lantai 10. Pemeriksaan lebih lanjut terhadap jaringan yang diangkat dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari berikutnya.
Pengangkatan satu lobus disebut lobektomi. Artinya, tindakan terhadap Paus lebih luas daripada sekadar mengambil sedikit jaringan benjolan untuk diperiksa. Lobus bawah paru-paru kanan diangkat dengan tujuan melakukan reseksi menyeluruh terhadap jaringan yang menjadi sasaran operasi. Namun, istilah “radikal” dalam laporan bedah tidak boleh langsung diterjemahkan sebagai jaminan bahwa kanker telah sembuh sepenuhnya; hasil pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan.
Teknik berbantuan video, dikenal sebagai video-assisted thoracoscopic surgery atau VATS, memungkinkan dokter bekerja melalui satu atau beberapa sayatan kecil pada dinding dada. Kamera kecil mengirimkan gambar bagian dalam rongga dada ke monitor, menjadi panduan bagi dokter untuk mengoperasikan instrumen bedah. Menurut Mayo Clinic, dibandingkan operasi terbuka, pendekatan ini umumnya memberikan keuntungan berupa nyeri lebih ringan, komplikasi lebih sedikit, dan pemulihan lebih singkat.
Meski sayatannya kecil, operasi tersebut tetap merupakan tindakan besar. Secara umum, VATS dilakukan dengan anestesi umum dan memiliki risiko seperti perdarahan, pneumonia, cedera jaringan di sekitarnya, serta efek anestesi. Penjelasan ini merupakan gambaran medis umum, bukan laporan bahwa komplikasi tersebut terjadi pada Paus.
Dalam pembaruan pada Rabu pagi (14/10/2026), Vatikan menyatakan Paus melewati malam dengan tenang setelah operasi, sebagaimana dilaporkan Reuters. Kabar ini memberikan kelegaan awal, sementara perkembangan kondisi dan hasil pemeriksaan berikutnya masih dinantikan.
Adenokarsinoma paru yang diderita Paus termasuk kelompok kanker paru-paru non-sel kecil atau non-small cell lung cancer. Jenis ini berasal dari sel dengan karakteristik kelenjar pada jaringan paru. Istilah tersebut menjelaskan jenis sel kanker, bukan dengan sendirinya menunjukkan stadium atau seberapa luas penyakit telah menyebar.
Nodul sendiri merupakan istilah untuk benjolan kecil. Penemuan nodul belum otomatis berarti kanker; pada kasus Paus, kepastian keganasan diperoleh melalui pemeriksaan histologis saat operasi. Karena itu, ada perbedaan penting antara menemukan benjolan, memastikan jenis penyakit melalui pemeriksaan jaringan, dan menetapkan stadium setelah menilai luas penyebarannya.
Keterangan bahwa kelainan ditemukan “sangat dini” memberi alasan untuk berharap. Namun, tanpa pengumuman stadium patologis, ukuran tumor, dan hasil evaluasi penyebaran, publik belum dapat menyebut secara pasti bahwa Paus menderita kanker stadium tertentu. Dalam tata laksana kanker paru non-sel kecil, keputusan pengobatan bergantung pada stadium dan kondisi pasien. Operasi dapat menjadi terapi utama pada penyakit yang masih dapat diangkat; pada keadaan tertentu, dokter mempertimbangkan pengobatan tambahan seperti kemoterapi, terapi target, imunoterapi, atau radioterapi. Pilihan umum tersebut tidak berarti semuanya akan dijalani Paus.
Pertanyaan yang kemudian muncul sangat manusiawi: mengapa Paus dapat terkena kanker paru-paru? Apakah penyakit ini berasal dari gaya hidup, keturunan, atau lingkungan?
Penyebab spesifik kanker pada Paus belum dijelaskan dalam keterangan resmi yang dirujuk untuk tulisan ini. Diagnosis adenokarsinoma tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa beliau merokok, memiliki riwayat keluarga dengan kanker paru, atau pernah mengalami paparan tertentu. Penjelasan mengenai faktor risiko harus dibedakan dari kesimpulan mengenai riwayat kesehatan pribadi seseorang.
National Cancer Institute Amerika Serikat menjelaskan bahwa merokok merupakan faktor risiko utama kanker paru. Paparan asap rokok orang lain, radon, asbes dan sejumlah bahan berbahaya di tempat kerja, polusi udara, serta riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko. Pertambahan usia turut berperan. Namun, faktor risiko bukanlah kepastian: seseorang yang memiliki faktor risiko belum tentu sakit, sedangkan kanker dapat terjadi pada orang tanpa faktor risiko yang diketahui.
Pada tingkat sel, kanker berkembang ketika terjadi perubahan pada materi genetik yang mengatur pertumbuhan dan pembelahan sel. Perubahan itu dapat timbul akibat paparan lingkungan, kesalahan ketika sel membelah, atau diwariskan dari orang tua. Karena itu, menyebut kanker sebagai penyakit yang melibatkan perubahan genetik tidak sama dengan menyebutnya selalu sebagai penyakit keturunan.
Mutasi yang terbentuk sepanjang hidup seseorang berbeda dari mutasi bawaan yang diwariskan. Untuk menentukan apakah faktor keturunan berperan, diperlukan penilaian riwayat keluarga dan, bila memang berindikasi, pemeriksaan genetik. Tidak tersedia dasar untuk menarik kesimpulan tersebut pada Paus dari informasi medis yang telah diumumkan.
Penyakit ini juga mengingatkan bahwa kanker paru tidak selalu segera menimbulkan keluhan. Pada sebagian orang, penyakit ditemukan ketika pemeriksaan dilakukan untuk keperluan lain. Gejala yang mungkin muncul meliputi batuk menetap, sesak napas, nyeri dada, batuk berdarah, atau penurunan berat badan tanpa sebab jelas. Namun, gejala tersebut juga dapat disebabkan penyakit lain dan memerlukan pemeriksaan medis.
Doa Rosario
Di luar pembahasan medis, operasi Paus berlangsung pada bulan yang memiliki tempat khusus dalam kehidupan doa umat Katolik. Oktober secara khusus dikenal sebagai Bulan Rosario, sedangkan Mei lazim disebut Bulan Maria. Keduanya berkaitan erat dengan devosi kepada Bunda Maria. Gereja memperingati Santa Perawan Maria, Ratu Rosario, pada 7 Oktober.
Rosario memiliki corak Marian sekaligus berpusat pada Kristus. Dalam surat apostolik Rosarium Virginis Mariae, Santo Yohanes Paulus II menjelaskan Rosario sebagai doa yang mengajak umat merenungkan kehidupan Kristus bersama Maria. Karena itu, ketika Rosario dipanjatkan untuk orang sakit, umat membawa permohonan kepada Tuhan sambil memohon penyertaan doa Bunda Maria.
Baca Juga
Paus Leo XIV Jalani Operasi Paru-Paru di Rumah Sakit Gemelli Roma Hari Ini
Kedekatan itu tampak dalam doa di Gemelli, juga dalam perayaan Ekaristi di tempat-tempat yang memiliki hubungan dengan perjalanan hidup Paus. Laporan Catholic News Service yang dimuat Konferensi Waligereja Amerika Serikat menyebut Misa bagi Paus di Gereja St. Mary of the Angels, Chicago, serta di katedral Chiclayo, Peru, keuskupan yang pernah beliau pimpin.
Vatican News juga mencatat dukungan dari para uskup di Amerika Serikat, Malta, Uruguay, Peru, Argentina, dan Italia. Umat diajak mendoakan kesehatan Paus sekaligus tim medis yang merawatnya. Para uskup Argentina secara khusus menyerahkan beliau dalam pemeliharaan keibuan Santa Perawan Maria, sementara para uskup Peru memohon agar Tuhan memberikan kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan pelayanannya.
Kardinal Matteo Zuppi, Ketua Konferensi Waligereja Italia, merangkum kedekatan tersebut dalam ungkapan sederhana: “Kita adalah satu keluarga: Bapa Suci, Anda tidak sendirian!”
Tidak semua bentuk dukungan dari berbagai negara itu dilaporkan sebagai Rosario. Ada perayaan Misa, doa pribadi, seruan para uskup, serta pesan solidaritas. Bersama-sama, semuanya menunjukkan bagaimana kabar sakit seorang gembala menggerakkan umat lintas negara untuk mendampinginya.
Kini, harapan itu berjalan bersama ketelitian medis. Keberhasilan operasi merupakan kabar baik; pemeriksaan jaringan dan pemantauan berikutnya akan membantu dokter menentukan langkah selanjutnya. Sementara itu, umat terus membawa nama Paus dalam doa. Di tengah keterbatasan tubuh seorang manusia, Rosario menjadi ungkapan kedekatan: memohon kesembuhan, menguatkan yang sedang menderita, dan menemani penantian dengan iman. (PD)
