Trump-Putin Sepakat, Rusia Bakal Pasok Lebih dari 4 Juta Ton Solar ke Pasar Global
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan Rusia akan memasok lebih dari 4 juta ton bahan bakar diesel atau solar ke pasar global berdasarkan kesepakatan yang dicapainya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin melalui percakapan telepon.
Baca Juga
IEA Siap Lepas Cadangan Bahan Bakar Diesel, Harga Minyak Turun
Trump menyampaikan pada Jumat (9/10/2026) bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar. Pengiriman berikutnya sebanyak 500.000 ton dijadwalkan pada November, disusul 1 juta ton segera setelahnya. Rusia kemudian akan mengirimkan tambahan 3 juta ton, bergantung pada kondisi kilang minyak negara tersebut.
Dalam unggahan di platform Truth Social, seperti dikutip CNBC, Trump mengatakan kesepakatan itu ditujukan untuk menambah pasokan solar di pasar global, termasuk Amerika Serikat.
Departemen Keuangan AS pada Jumat juga memberikan pengecualian sementara terhadap sanksi untuk solar Rusia hingga April 2027 melalui penerbitan izin umum. Kebijakan ini membuka jalan bagi penjualan solar Rusia yang sebelumnya dibatasi oleh sanksi.
Namun, kesepakatan tersebut langsung mendapat kecaman dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Ia memperingatkan bahwa pelonggaran sanksi tanpa komitmen Rusia untuk meredakan konflik hanya akan memperpanjang perang.
“Hadiah kepada Putin tidak akan membawa perdamaian ataupun manfaat bagi dunia beradab,” tulis Zelenskyy dalam unggahan di media sosial.
Ia menilai Rusia akan membalas kelonggaran tersebut dengan meningkatkan teror dan tindakan yang tidak dapat dipercaya. Menurut Zelenskyy, mengizinkan Rusia menjual produk minyak bumi sama dengan memberikan investasi bagi perang yang seharusnya diakhiri, bukan diperpanjang.
Pasokan Solar Global Tertekan
Harga solar melonjak di berbagai negara seiring terganggunya kapasitas pengolahan minyak dunia. Ukraina telah melancarkan serangan terhadap sejumlah kilang minyak Rusia, sehingga Moskow memberlakukan larangan ekspor solar ke pasar global.
Gangguan pasokan juga diperburuk oleh serangan Iran dan sekutu-sekutu Houthi terhadap fasilitas pengolahan minyak di Timur Tengah. Serangkaian serangan tersebut semakin membatasi ketersediaan bahan bakar di pasar internasional.
Baca Juga
Harga Minyak Bergejolak, Serangan Tanker di Hormuz dan Badai Isaias di Meksiko Jadi Sorotan
Kondisi ini menempatkan Trump di bawah tekanan politik yang semakin besar untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan sela AS pada November. Partai Republik menghadapi persaingan ketat di sejumlah wilayah yang secara tradisional menjadi basis pendukungnya, termasuk Iowa, tempat para petani turut merasakan dampak kenaikan harga solar.
Meski demikian, ruang gerak pemerintah AS untuk menekan harga bahan bakar dinilai terbatas akibat kerusakan kapasitas pengolahan minyak di Eropa Timur dan Timur Tengah.
Bulan lalu, Trump sempat mempertimbangkan larangan ekspor solar AS. Namun, rencana tersebut akhirnya tidak dilanjutkan setelah industri minyak dan perusahaan-perusahaan besar memperingatkan bahwa kebijakan itu justru dapat meningkatkan harga bensin.
Awal pekan ini, Trump juga menerbitkan perintah eksekutif yang memungkinkan pengemudi truk menggunakan solar nonjalan raya yang bebas pajak untuk berkendara di jalan umum tanpa menghadapi sanksi federal.
Namun, kebijakan tersebut hanya menangguhkan kewajiban pajak, bukan menghapusnya. Ketidakjelasan mengenai kemungkinan pembayaran pajak di kemudian hari pun memunculkan kebingungan di kalangan pengemudi truk.
Kesepakatan pasokan dengan Rusia menjadi langkah terbaru pemerintahan Trump untuk meredakan tekanan harga bahan bakar. Akan tetapi, efektivitas kebijakan tersebut masih bergantung pada realisasi pengiriman, kondisi kilang Rusia, serta perkembangan konflik yang terus mengganggu rantai pasok energi dunia.
