Blokade Pelabuhan Iran Berlanjut, AS Beri Sanksi 17 Kapal Tanker Terkait ‘Shadow Fleet’
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menjatuhkan sanksi terhadap 17 kapal tambahan yang diduga terkait shadow fleet Iran. Langkah ini menjadi bagian dari upaya Washington menekan perekonomian Teheran guna mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tujuh bulan.
Departemen Keuangan AS Kamis (8/10/2026) menyatakan, sanksi terbaru tersebut merupakan bagian dari “Operation Economic Outcast”, sebuah kampanye tekanan ekonomi terhadap Iran. Kebijakan ini ditujukan untuk semakin membatasi kemampuan Iran mengangkut serta memperoleh keuntungan dari perdagangan minyak bumi dan produk petrokimia.
Baca Juga
AS Luncurkan “Operation Economic Outcast”, China Tak Luput dari Sanksi Iran
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, pemerintahnya berupaya memutus sumber pendanaan yang digunakan pemerintah Iran untuk membiayai perang dan aktivitasnya di kawasan.
“Departemen Keuangan sedang mengeringkan sumber uang rezim tirani di Teheran yang digunakan untuk melancarkan perang di kawasan, dan kami akan terus mengungkap pihak-pihak yang memungkinkan penjualan minyak rezim tersebut,” beber Bessent dalam sebuah pernyataan, dikutip CNBC.
Ia menegaskan, pihak-pihak yang membantu Iran menghindari sanksi tidak akan terhindar dari kewenangan penindakan Departemen Keuangan AS.
Sebanyak 17 kapal yang menjadi sasaran kebijakan terbaru itu terdaftar di lebih dari selusin yurisdiksi. Menurut Departemen Keuangan AS, kapal-kapal tersebut bertanggung jawab atas pengangkutan jutaan barel minyak mentah Iran, produk minyak bumi, dan produk petrokimia.
Jalur Ilegal
Washington selama ini menuding Iran menggunakan pendapatan minyak yang diperoleh melalui jalur ilegal untuk mendanai pemerintahannya serta kelompok-kelompok proksi yang disebut AS terkait dengan aktivitas terorisme. Dengan membatasi aliran pendapatan tersebut, AS berharap dapat semakin melemahkan perekonomian Iran.
Departemen Keuangan AS menyebut seluruh kapal yang masuk dalam daftar terbaru merupakan sasaran penetapan sanksi baru. Meski kebijakan tersebut diperkirakan tidak akan langsung mengubah kondisi perekonomian Iran secara drastis, Washington menargetkan sisa jaringan shadow fleet untuk melengkapi berbagai sanksi yang telah diberlakukan sebelumnya.
Baca Juga
AS Klaim Iran Kehilangan Kendali Hormuz, Ancaman Kapal Tanker Membayangi
Kebijakan itu juga menjadi bagian dari upaya AS membatasi kemampuan Iran menyerang kapal-kapal di Selat Hormuz sekaligus mengurangi sumber pendanaan bagi pemerintahannya.
Sejumlah kapal yang masuk dalam daftar sanksi antara lain TINA 5 berbendera Vanuatu, kapal pengangkut gas minyak cair atau LPG SOGL berbendera Komoro, serta kapal tanker minyak mentah SHENZHEN berbendera Kamerun.
Departemen Keuangan AS menyatakan TINA 5 mengangkut lebih dari 1,5 juta barel minyak mentah Iran pada Agustus. Sementara itu, SOGL disebut telah mengangkut lebih dari dua juta barel propana dan butana Iran sejak September 2025.
Adapun SHENZHEN dilaporkan telah mengangkut lebih dari 3,5 juta barel minyak mentah Iran sejak November 2025.
Seorang pejabat Departemen Keuangan AS mengatakan Iran telah menghentikan kegiatan pemuatan dan pembongkaran minyak akibat blokade AS yang masih berlangsung terhadap pelabuhan-pelabuhan negara tersebut.
Data perusahaan analisis komoditas Kpler menunjukkan Iran belum memuat minyak mentah untuk ekspor sejak 25 Agustus.
Perang AS-Iran telah mengganggu perekonomian global, terutama melalui gejolak harga minyak dan gas. Situasi semakin rumit karena Iran berupaya mempertahankan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk ke pasar dunia.
Gangguan pasokan energi tersebut juga berdampak pada konsumen AS. Harga bensin di negara itu meningkat menjelang pemilihan sela Kongres pada November.
Menurut data American Automobile Association (AAA), rata-rata harga bensin nasional AS pada Kamis mencapai US$4,36 per galon.
Baca Juga
OPEC+ Pertahankan Produksi, Pasokan Minyak Global Masih Dibayangi Perang AS-Iran
Bagi pasar energi global, sanksi terhadap kapal-kapal yang terkait dengan shadow fleet Iran menambah tekanan terhadap rantai pasokan minyak di tengah konflik yang belum mereda. Efektivitas kebijakan tersebut akan bergantung pada kemampuan AS membatasi jalur pengangkutan minyak Iran, sementara perkembangan perang dan situasi di Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi harga energi.
