Risalah The Fed: Kenaikan Suku Bunga Masih Diperlukan
Poin Penting
|
WASHINGTON D.C., investortrust.id - Pejabat Federal Reserve (The Fed) memperkirakan kenaikan suku bunga tambahan masih diperlukan sebelum akhir tahun untuk meredam inflasi yang telah bertahan di atas target selama lebih dari lima tahun. Namun, risalah rapat terbaru tidak memberikan petunjuk kapan kenaikan tersebut akan dilakukan.
Risalah rapat yang dirilis Rabu (7/10/2026) menunjukkan mayoritas pejabat The Fed menilai kenaikan kembali suku bunga acuan kemungkinan tepat dilakukan sebelum akhir tahun. The Fed dijadwalkan mengambil keputusan kebijakan berikutnya pada 28 Oktober dan kembali pada 9 Desember.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
“Sebagian besar peserta menilai bahwa kenaikan lain pada kisaran target federal funds rate kemungkinan tepat dilakukan pada akhir tahun,” demikian isi risalah tersebut, dikutip CNBC.
Meski demikian, para pejabat menekankan bahwa keputusan tersebut tidak bersifat otomatis. Setiap pertemuan akan mempertimbangkan perkembangan data ekonomi terbaru serta perubahan keseimbangan risiko terhadap prospek ekonomi.
“Para peserta menekankan bahwa mereka memasuki setiap pertemuan dengan pikiran terbuka,” kata risalah tersebut.
Pasar sebelumnya sempat memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir Oktober, setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga 25 basis poin pada 16 September.
Namun, data inflasi terbaru dan pernyataan sejumlah pejabat The Fed menunjukkan kenaikan pada Oktober kemungkinan tidak menjadi pilihan utama.
Indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang menjadi indikator inflasi pilihan The Fed, menunjukkan inflasi inti mencapai 3% secara tahunan pada Agustus, sedangkan inflasi umum berada di 3,4%. Keduanya masih jauh di atas target The Fed sebesar 2%.
Meski demikian, angka tersebut lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, sebagian dipengaruhi perubahan metode perhitungan sejumlah komponen indeks.
Risalah FOMC (Federal Open Market Committee) September juga menunjukkan para pejabat melihat risiko inflasi tetap tinggi dalam waktu lebih lama. Di sisi lain, pasar tenaga kerja dinilai berada “dekat dengan tingkat kesempatan kerja maksimum”, sementara pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan mengalami penguatan.
Kenaikan suku bunga seperempat poin persentase pada September disetujui secara bulat, meskipun sebelumnya terdapat indikasi sejumlah pejabat utama masih enggan menaikkan suku bunga.
“Banyak peserta menekankan bahwa jalur suku bunga yang lebih tinggi akan menjadi langkah yang bijaksana dari sisi manajemen risiko,” sebut risalah itu.
Menurut proyeksi para pejabat, The Fed kemungkinan melakukan satu kali kenaikan lagi tahun ini dan tidak menaikkan suku bunga lagi pada 2027. Dari 18 pejabat FOMC yang menyampaikan proyeksi, sebanyak 16 orang memperkirakan kenaikan tambahan.
Ketua The Fed Kevin Warsh belum menyampaikan proyeksi sejak menduduki jabatan tersebut pada Mei. Dalam konferensi pers setelah rapat September, Warsh mengatakan kenaikan suku bunga dilakukan untuk mengurangi “dosis akomodasi” dalam kebijakan moneter.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi perhatian Wall Street karena dinilai membuka kemungkinan adanya kenaikan lanjutan.
Namun, beberapa pejabat The Fed setelah itu menegaskan bahwa bank sentral tidak perlu terburu-buru. Data inflasi juga menunjukkan perkembangan yang sedikit lebih menggembirakan, meskipun ekspektasi inflasi jangka pendek meningkat cukup tajam.
Tekanan Inflasi Tetap Jadi Perhatian
Indikator inflasi berbasis pasar masih menunjukkan tekanan yang tinggi. Survei terbaru Federal Reserve Bank of New York yang dirilis Rabu juga menunjukkan kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga dalam setahun ke depan berada di level tertinggi sejak Mei 2023.
Baca Juga
Imbal hasil Treasury AS terus melonjak dan mencapai level tertinggi sejak 2002. Dalam rapat September, para pejabat membahas kenaikan imbal hasil tersebut. Mereka mengaitkannya dengan ekspektasi suku bunga The Fed yang lebih tinggi, perkembangan investasi kecerdasan buatan atau AI, serta pertumbuhan ekonomi yang solid.
Ekonom The Fed juga mencatat sebagian kenaikan imbal hasil kemungkinan berasal dari ketidakpastian terkait pengumuman dan pelaksanaan program pembelian kembali atau buyback surat utang pemerintah AS.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Agustus mengumumkan rencana meningkatkan pembelian kembali surat utang pemerintah yang telah diterbitkan, khususnya obligasi berjangka panjang.
Namun, langkah tersebut sejauh ini belum memberikan dampak besar terhadap imbal hasil Treasury, yang masih berada di sekitar level tertinggi sejak 2002.
Bagi pasar keuangan, risalah tersebut memperkuat pesan bahwa siklus pengetatan moneter The Fed belum sepenuhnya berakhir, tetapi waktu kenaikan berikutnya akan sangat bergantung pada data inflasi, pasar tenaga kerja dan kondisi keuangan dalam beberapa pekan mendatang.
