Wall Street Melesat Ditopang Saham Teknologi, S&P 500 dan Nasdaq Cetak ‘All Time High’
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham AS melesat pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (7/10/2026) WIB. Indeks S&P 500 mencetak rekor penutupan baru sekaligus menembus level 7.800 untuk pertama kalinya.
S&P 500 naik 0,58% dan ditutup pada rekor 7.818,93. Indeks luas ini sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa dalam perdagangan intraday.
Dow Jones Industrial Average naik 253,38 poin atau 0,49% menjadi 51.521,28. Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,45% dan ditutup pada rekor 27.599,79. Nasdaq juga mencatat rekor intraday baru.
Baca Juga
Saham AI Pimpin Reli Wall Street, Indeks Nasdaq Cetak Rekor Baru
Penguatan Wall Street terutama ditopang saham-saham perusahaan chip yang kembali menjadi favorit investor di tengah optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI).
Marvell Technology melonjak 5,8%, Advanced Micro Devices (AMD) naik hampir 3%, sementara Broadcom menguat 3,7%.
Investor semakin optimistis terhadap prospek perusahaan semikonduktor seiring meningkatnya investasi infrastruktur AI dan permintaan komputasi.
“Iinvestor saat ini masih menempatkan AI sebagai salah satu tema utama pasar,” kata Stephen Kolano, chief investment officer Integrated Financial Partners, dikutip CNBC.
Menurut dia, investor untuk sementara mengabaikan kekhawatiran inflasi, termasuk dampak harga minyak dan solar, karena menganggap tekanan tersebut berpotensi terselesaikan di masa mendatang.
Yield Treasury Turun
Penguatan saham juga mendapat dukungan dari penurunan imbal hasil Treasury. Yield Treasury 10 tahun turun sekitar 3 basis poin menjadi 5,281%, sedangkan yield obligasi 30 tahun relatif stabil di sekitar 5,655%. Sehari sebelumnya, kedua yield tersebut sempat mencapai level tertinggi sejak 2002.
Penurunan yield memberikan ruang bagi saham-saham teknologi yang memiliki valuasi tinggi. Secara historis, saham pertumbuhan sangat sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga karena sebagian besar nilai perusahaan didasarkan pada proyeksi laba di masa mendatang.
Namun, saham teknologi kali ini menunjukkan ketahanan bahkan ketika yield obligasi berada di level sangat tinggi.
Kolano mengatakan investor kini mencari sumber potensi penularan risiko yang dapat mengganggu pasar. Namun sejauh ini tekanan tersebut masih relatif terkendali dan pasar lebih banyak digerakkan momentum, pertumbuhan laba, serta investasi besar-besaran di sektor AI.
Harga minyak tidak memberikan tekanan tambahan berarti terhadap pasar saham pada Selasa. Brent naik tipis 0,26% menjadi US$100,58 per barel, sedangkan WTI hanya naik 0,01% menjadi US$89,44 per barel.
Cermati Kebijakan The Fed
Setelah reli saham teknologi, perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada risalah rapat The Fed September yang dijadwalkan dirilis Rabu.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Investor akan mencari petunjuk mengenai alasan bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan sebelumnya serta bagaimana para pejabat melihat prospek inflasi dan ekonomi.
Risalah The Fed juga akan menjadi penting karena pasar obligasi baru saja mengalami tekanan besar. Jika risalah menunjukkan bahwa The Fed masih khawatir terhadap inflasi dan membuka kemungkinan suku bunga tinggi bertahan lebih lama, tekanan terhadap saham berisiko tinggi dapat kembali muncul.
Sebaliknya, sinyal bahwa bank sentral semakin memperhatikan risiko perlambatan ekonomi dapat memberikan ruang bagi reli obligasi dan saham untuk berlanjut. Untuk saat ini, investor masih memilih melihat ke depan dan mempertahankan optimisme terhadap pertumbuhan laba perusahaan serta investasi AI.
