OPEC+ Pertahankan Produksi, Pasokan Minyak Global Masih Dibayangi Perang AS-Iran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+) sepakat mempertahankan target produksi minyak untuk November 2026. Keputusan itu mencerminkan ekspektasi pasar bahwa kelompok produsen minyak utama dunia itu tidak akan melakukan penyesuaian kebijakan produksi lebih lanjut hingga tahun depan.
Baca Juga
Harga Minyak Turun, G7 Lepas Cadangan 100 Juta Barel di Tengah Ancaman Serangan Saudi ke Houthi
Keputusan target produksi minyak itu diambil dalam pertemuan daring singkat pada Minggu (4/10/2026), oleh tujuh negara anggota inti OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman.
Ketujuh negara tersebut merupakan bagian dari kelompok OPEC+ yang mencakup negara-negara anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia.
Meski target produksi dipertahankan, pasokan minyak dari negara-negara produsen Teluk masih berada jauh di bawah kuota. Kondisi ini dipengaruhi gangguan ekspor yang berkelanjutan akibat perang Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.
Dalam beberapa bulan terakhir, ekspor minyak dari kawasan tersebut berfluktuasi pada kisaran 60% hingga 80% dari tingkat normal.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai, keputusan tujuh negara inti OPEC+ mempertahankan batas produksi telah sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat, realisasi produksi negara-negara tersebut masih jauh di bawah kuota yang ditetapkan. "Akibatnya, pasar minyak masih berada dalam kondisi ketat," kata Staunovo, dikutip CNBC.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan mempertahankan target produksi belum tentu mampu mengatasi persoalan pasokan minyak global. Gangguan distribusi dan keterbatasan ekspor masih menjadi faktor utama yang membatasi ketersediaan minyak di pasar internasional.
Harga Minyak di Atas US$100
Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026, setelah negara-negara Kelompok Tujuh (G7) menyepakati pelepasan cadangan minyak mentah dan solar untuk meredam lonjakan harga energi.
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, turun 6 sen menjadi US$102,25 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$1,76 menjadi US$91,11 per barel.
Baca Juga
AS Disebut Kirim Kapal Induk Ketiga ke Timur Tengah, Minyak Brent Melonjak Lebih dari 4%
Para pemimpin G7 sepakat melepas 100 juta barel cadangan energi selama empat bulan ke depan. Pelepasan tersebut akan dipercepat dengan penyaluran cadangan solar dalam jumlah besar pada 20 hari pertama.
G7 terdiri atas Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Kesepakatan tersebut merupakan respons atas permintaan Presiden AS Donald Trump untuk mengatasi kenaikan harga bahan bakar.
Namun, pengumuman pelepasan cadangan belum cukup untuk menurunkan harga minyak secara signifikan. Harga Brent masih bertahan di atas US$100 per barel, jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar US$73 per barel sebelum perang Iran dimulai pada akhir Februari 2026.
Bagi pasar energi, perkembangan tersebut mengindikasikan bahwa tambahan pasokan dari cadangan strategis hanya memberikan bantuan sementara apabila gangguan produksi dan distribusi minyak masih berlangsung.
Kenaikan Produksi OPEC+ Tertahan Perang Iran
Perang Iran juga menghambat peninjauan kapasitas produksi OPEC+, yang menjadi dasar penting untuk menentukan kuota produksi masing-masing anggota pada 2027.
Sejumlah sumber industri mengatakan kepada Reuters pekan lalu bahwa konflik tersebut membuat perkiraan kapasitas produksi masa depan menjadi tidak pasti. Akibatnya, proses peninjauan kapasitas yang seharusnya menjadi landasan pembagian kuota produksi tertunda.
Sepanjang 2026, OPEC+ sebenarnya telah meningkatkan target produksi setelah bertahun-tahun menerapkan pemangkasan pasokan. Namun, sebagian besar kenaikan tersebut hanya tercatat di atas kertas karena konflik di Timur Tengah menghambat kemampuan negara-negara anggota untuk meningkatkan produksi dan ekspor secara nyata.
Data OPEC menunjukkan, tujuh anggota inti memproduksi sekitar 25 juta barel per hari pada Agustus 2026. Angka tersebut meningkat 630.000 barel per hari dibandingkan Juli.
Meski demikian, produksi tersebut masih sekitar 5 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang pada Februari 2026.
OPEC+ masih mempertahankan pemangkasan produksi sekitar 2 juta barel per hari yang mencakup sebagian besar anggotanya. Hasil peninjauan kapasitas produksi diperlukan untuk menentukan distribusi kenaikan kuota berikutnya.
Dengan proses peninjauan yang belum tuntas, perubahan kebijakan produksi diperkirakan tidak akan terjadi sebelum 2027.
Pertemuan berikutnya dari tujuh anggota inti OPEC+ dijadwalkan berlangsung pada 1 November 2026.
Pada Minggu, kelompok menteri OPEC+ lainnya, yakni Komite Pemantau Menteri Bersama (Joint Ministerial Monitoring Committee/JMMC), juga menggelar pertemuan untuk mengevaluasi kondisi pasar minyak. Namun, komite tersebut tidak memiliki kewenangan menetapkan kebijakan produksi.
