Ekspor Saudi dari Laut Merah Mulai Pulih, Harga Minyak Anjlok
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah turun setelah ekspor minyak Arab Saudi melalui pelabuhan di Laut Merah mulai pulih. Aktivitas ekspor lewat jaringan pipa utama East-West di negara itu sempat terganggu akibat serangan Houthi pada awal September.
Baca Juga
Dikutip dari CNBC, minyak mentah Brent, yang menjadi patokan harga minyak internasional, turun 2,6% dan ditutup pada US$102,59 per barel pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Sementara itu, minyak mentah Amerika Serikat West Texas Intermediate (WTI) merosot sekitar 3,5% menjadi US$89,38 per barel.
Pemulihan aktivitas ekspor Arab Saudi menjadi salah satu faktor yang menekan harga minyak. Berdasarkan catatan Kpler yang diterbitkan Selasa, citra satelit mengonfirmasi adanya "pemulihan operasional besar" di terminal Yanbu dan Muajjiz.
Kpler mencatat sebanyak 12,5 juta barel minyak telah dimuat ke sembilan kapal tanker di Yanbu selama periode Sabtu hingga Senin.
Aktivitas ekspor dari Yanbu sebelumnya terganggu setelah serangan drone menghantam pipa East-West Arab Saudi pada awal bulan ini. Serangan tersebut sempat memicu kekhawatiran bahwa gangguan pasokan minyak global kembali membesar.
Baca Juga
Houthi Kuasai Gerbang Laut Merah, Pipa Minyak Saudi Lumpuh Diserang 'Drone'
Namun, aliran minyak melalui pipa tersebut kini telah dipulihkan Riyadh menjadi sekitar 3,5 juta barel per hari (bph), menurut sejumlah sumber yang mengetahui masalah tersebut seperti dikutip The Wall Street Journal dan Bloomberg News.
Kapasitas maksimum pipa East-West mencapai sekitar 7 juta bph.
Pemulihan ekspor Saudi berlangsung di tengah perkembangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran. Pejabat AS dan Iran berbicara dengan mediator pada Senin dalam upaya kembali merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama tujuh bulan.
Iran pada pekan lalu menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat menyetujui persyaratan dalam nota kesepahaman yang gagal dicapai pada Juni.
Namun, Presiden AS Donald Trump pada Sabtu menolak proposal Teheran tersebut.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Data Kpler menunjukkan arus minyak melalui Selat Hormuz kini mencapai rata-rata 13,2 juta barel per hari dalam tujuh hari terakhir. Angka tersebut setara dengan sekitar 77% dari volume 17 juta bph yang melewati jalur strategis itu sebelum perang AS-Iran.
Militer AS saat ini memberikan perlindungan kepada kapal tanker milik negara-negara sekutu AS di kawasan Teluk sekaligus mempertahankan blokade terhadap ekspor Iran.
Pemulihan ekspor Arab Saudi dan peningkatan kembali arus minyak melalui Selat Hormuz berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan, meskipun risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama pergerakan harga minyak.
