Harga Minyak Bergejolak, Brent Sempat Tembus US$108
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak dunia bergejolak dan sempat menembus US$108 per barel. Harga minyak Brent memangkas sebagian besar kenaikannya setelah ada laporan bahwa Arab Saudi mulai kembali meningkatkan aliran minyak melalui pipa East-West yang sempat rusak akibat serangan drone.
Baca Juga
Trump Tolak Proposal Iran Terkait Selat Hormuz, Harga Minyak Naik
Harga minyak Brent, patokan internasional, ditutup naik 96 sen atau sekitar 0,9% menjadi US$105,28 per barel pada perdagangan Senin (28/9/2026). Brent sempat melonjak hingga US$108,83 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat naik 19 sen menjadi US$92,60 per barel setelah sempat menyentuh US$96,54 per barel.
Penurunan harga minyak dari level tertinggi terjadi setelah Riyadh dilaporkan mulai memulihkan aliran minyak melalui pipa East-West ke sekitar 3,5 juta barel per hari (bph).
Pemulihan Pipa East-West Saudi
Bloomberg News dan The Wall Street Journal, mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, melaporkan bahwa ekspor minyak melalui pipa East-West telah kembali berjalan setelah dilakukan perbaikan.
Aktivitas pemuatan minyak untuk ekspor juga kembali berlangsung di pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Pipa East-West memiliki kapasitas maksimum sekitar 7 juta bph dan menjadi salah satu jalur penting bagi Arab Saudi untuk mengalihkan pengiriman minyak dari kawasan Teluk menuju Laut Merah.
Baca Juga
Saudi Tutup Pipa East-West Gara-Gara Serangan Houthi, Minyak Brent Dekati US$ 108
Arab Saudi sebelumnya menghentikan operasi pipa tersebut pada awal September setelah mengalami kerusakan akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak.
Kembalinya aliran minyak melalui jalur tersebut membantu meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan global. Namun, risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang membuat pergerakan harga minyak sangat volatil.
Pasar juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran setelah seorang pejabat Gedung Putih mengatakan kepada CNN bahwa Presiden AS Donald Trump terbuka terhadap kemungkinan keringanan sanksi terhadap Iran dan pelepasan dana Iran yang dibekukan apabila Teheran menunjukkan kemajuan konkret menuju kesepakatan nuklir. Seorang pejabat AS juga menyampaikan kepada Axios bahwa Trump terbuka terhadap kemungkinan itu.
Perkembangan positif yang mengemuka sempat mendorong harga minyak turun dari level tertingginya karena pasar melihat peluang berkurangnya tekanan geopolitik serta potensi membaiknya pasokan minyak jika hubungan Washington dan Teheran mereda.
Namun, sebelumnya Trump menolak tawaran bersyarat Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga disebut memperkirakan serangan AS terhadap Iran dapat kembali dilanjutkan setelah pemilihan umum sela atau midterm elections AS pada November.
Trump kemudian mengonfirmasi kepada wartawan bahwa dirinya telah menolak proposal terbaru Teheran. "Mereka mengajukan proposal, tetapi saya menolaknya," kata Trump.
Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman pada Sabtu mengatakan telah mencegat sejumlah proyektil yang diluncurkan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Ketegangan tersebut menambah ketidakpastian bagi jalur pelayaran dan pasokan energi di kawasan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Jumat sebelumnya menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz serta dimulainya kembali perundingan nuklir dengan Washington dalam waktu tujuh hari apabila pemerintahan Trump memenuhi sejumlah persyaratan Teheran.
"Jika sejumlah persyaratan dipenuhi, Selat Hormuz akan terbuka pada akhir tujuh hari, dan perundingan akan dimulai kembali," kata Araghchi kepada wartawan di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei, persyaratan tersebut mencakup penghentian apa yang disebut Teheran sebagai "tindakan agresi" AS, pencabutan blokade laut dan perang ekonomi, serta pelepasan aset-aset Iran.
Konflik AS dan Iran yang dimulai dengan serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari sebelumnya telah meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global dan mendorong harga minyak naik tajam.
Trump pada awal bulan ini mengatakan konflik tersebut diperkirakan berakhir setelah pemilu sela AS. Pernyataan tersebut turut membuat harga minyak bergerak turun karena pasar memperkirakan risiko geopolitik akan mereda.
Namun, pelaku pasar energi masih memperhitungkan kemungkinan konflik AS-Iran kembali meningkat setelah pemilu sela.
Cornelia Meyer, CEO Meyer Resources, mengatakan pasar energi menghadapi apa yang disebutnya sebagai "bahaya yang jelas dan nyata" terkait kemungkinan kembalinya permusuhan AS-Iran setelah pemilu.
"Menurut saya semua orang berharap hal ini tidak terjadi karena kita hidup dari barel minyak pinjaman. Banyak negara bergantung pada persediaan mereka," kata Meyer dalam acara CNBC, Senin (28/9/2026).
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski pemulihan pipa East-West Saudi memberikan ruang bagi pasokan minyak global, pasar masih menghadapi ketidakpastian tinggi akibat konflik Timur Tengah, kondisi Selat Hormuz, serta ketergantungan sejumlah negara terhadap cadangan minyak yang tersedia.
