Wall Street Bangkit, Dow Jones Melonjak Hampir 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (26/9/2026) WIB, mengakhiri pekan yang penuh gejolak.
Indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 478,64 poin atau 0,93% menjadi 51.828,62. Sementara itu, indeks S&P 500 menguat 0,51% ke level 7.743,41 dan Nasdaq Composite bertambah 0,5% menjadi 27.068,72.
Baca Juga
Wall Street Tertekan Lonjakan Yield Obligasi AS, Dow Jones Melemah Tiga Hari Beruntun
Dengan kenaikan tersebut, ketiga indeks utama Wall Street mencatat kinerja positif sepanjang pekan. Dow naik 0,3%, S&P 500 bertambah 1,2%, sedangkan Nasdaq menguat 2%.
Kenaikan saham teknologi menjadi salah satu penopang utama pasar. Meta Platforms melonjak hampir 13% sepanjang pekan di tengah antusiasme investor terhadap pengembangan agen kecerdasan buatan (AI) Muse.
Sektor teknologi informasi dalam indeks S&P 500 naik 3,1% sepanjang pekan, menjadi sektor dengan kenaikan terbesar.
Sentimen pasar juga mendapat dukungan dari penurunan harga minyak. Harga WTI turun 2,33% pada Jumat menjadi US$92,41 per barel, sedangkan Brent turun 2,14% ke US$104,32 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi di tengah meningkatnya harapan bahwa Selat Hormuz dapat kembali dibuka. Iran telah meminta AS kembali menerapkan MOU yang dicapai pada Juni, yang sebelumnya gagal mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Tekanan di Pasar Obligasi
Yield Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007. Yield tersebut terakhir berada di sekitar 5,163%. Yield Treasury tenor 30 tahun mencapai 5,488%, level tertinggi sejak 2004.
Lonjakan yield terjadi setelah komentar bernada hawkish dari Gubernur Federal Reserve Michael Barr. Pasar juga menghadapi tekanan dari tingginya harga energi akibat perang Iran serta data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang menunjukkan tekanan harga dan aktivitas ekonomi yang masih kuat.
Baca Juga
The Fed Kerek Bunga ke 3,75%-4%, Masih Terbuka Kenaikan Lagi Tahun Ini
Pergerakan pasar berjangka suku bunga menunjukkan sekitar 64% kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga pada Oktober, berdasarkan CME FedWatch.
Kenaikan yield menjadi perhatian investor karena biaya pinjaman yang lebih tinggi dapat memberikan tekanan terhadap valuasi saham, terutama apabila tren tersebut berlangsung dalam waktu lama.
Eric Diton, Presiden The Wealth Alliance, mengatakan sentimen investor mulai melemah seiring kenaikan yield obligasi. Sentimen bearish, menurut dia, meningkat tajam dibandingkan dua pekan sebelumnya.
Meski demikian, Diton menilai pasar masih mampu bertahan menghadapi berbagai tekanan tersebut. Indeks S&P 500 dan Nasdaq masih berada sekitar 1% di bawah level tertinggi terbarunya.
“Jika suku bunga terus naik, pada titik tertentu dampaknya terhadap kinerja pasar akan semakin besar,” ujar Diton, dikutip CNBC.
Selain perkembangan kebijakan moneter, investor juga mencermati perkembangan hubungan dagang AS dan China, termasuk kunjungan Presiden China Xi Jinping ke AS pekan ini.
Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer mengatakan kepada CNBC bahwa detail mengenai perundingan perdagangan AS-China akan diumumkan pada Senin.
Sebelumnya, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara telah sepakat memperpanjang gencatan perang dagang selama dua bulan.
Perkembangan tersebut menjadi perhatian pasar karena arah hubungan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia dapat memengaruhi prospek pertumbuhan global, inflasi, serta kebijakan moneter AS.
