Iran Tegaskan Tak Akan Menyerah pada AS, Harga Minyak Melonjak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah dunia melonjak lagi, mengakhiri penurunan selama lima sesi berturut-turut. Kenaikan terjadi setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa negaranya tidak akan menyerah kepada Amerika Serikat (AS).
Harga minyak Brent, patokan global, melonjak 3,9% menjadi US$103,08 per barel pada perdagangan Rabu (23/9/2026). Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 1,8% menjadi US$92,16 per barel.
Baca Juga
Pezeshkian menyampaikan pernyataan tersebut dalam pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Rabu.
"Mereka telah menguji kekuatan dan keteguhan Iran dan telah mengetahui bahwa Iran tidak dapat dipaksa untuk menyerah," kata Pezeshkian.
Kenaikan harga minyak terjadi setelah pasar sebelumnya mengalami tekanan jual selama lima hari berturut-turut.
Meski demikian, harga minyak masih berada di bawah level pekan sebelumnya. Harga WTI tercatat turun sekitar 8% dalam sepekan, sementara Brent melemah hampir 1%.
Pasar Cermati Peluang Diplomasi
Pergerakan harga minyak juga dipengaruhi perkembangan diplomatik antara Washington dan Teheran.
Presiden AS Donald Trump pada Selasa mengatakan para pejabat AS telah menggelar pertemuan yang "sangat baik" dengan delegasi Iran. Pertemuan tersebut berlangsung sekitar tiga jam.
Namun, dalam pidatonya di PBB, Trump juga mengatakan dirinya menghadapi keputusan besar mengenai apakah akan mencapai kesepakatan dengan Teheran atau mengambil langkah militer yang lebih keras.
Situasi tersebut membuat pasar minyak menghadapi dua kekuatan yang berlawanan: risiko gangguan pasokan akibat konflik dan harapan bahwa jalur diplomasi dapat mengurangi ketegangan.
Sebelumnya, Reuters melaporkan Iran dapat membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu sekitar satu pekan jika AS bersedia mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur energi strategis yang menjadi salah satu titik penting perdagangan minyak dunia.
Upaya mediasi Pakistan terhadap Teheran juga dinilai dapat mengurangi risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
CEO bank digital swasta BankPro Paolo Broccardo mengatakan perkembangan tersebut berpotensi meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik. Upaya mediasi Pakistan dengan Teheran juga dapat mengurangi risiko eskalasi yang lebih luas.
Menurut Broccardo, harga minyak juga belum tentu langsung mengalami lonjakan besar meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
“Dalam lima sesi perdagangan sebelumnya, harga minyak telah turun hampir 12%. Penurunan tersebut kembali membawa harga menjauh dari level US$100 per barel yang sebelumnya menjadi area penting bagi pasar,” beber Broccardo, dikutip CNBC.
Broccardo mengatakan level di atas US$100 beberapa kali menjadi titik ketika upaya membangun perdamaian antara kedua pihak kembali menguat.
Pergerakan tersebut menunjukkan pasar tidak hanya memperhitungkan risiko perang, tetapi juga terus merespons perkembangan diplomasi dan potensi normalisasi jalur perdagangan energi.
Baca Juga
Akankah Perang Iran vs AS Segera Berakhir, Bagaimana Tren Harga Minyak Mentah Dunia?
Bagi pasar keuangan global, perkembangan harga minyak menjadi semakin penting karena kenaikan harga energi dapat kembali memperbesar tekanan inflasi.
Risiko tersebut juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan suku bunga.
Kenaikan harga minyak pada Rabu bahkan terjadi bersamaan dengan lonjakan imbal hasil Treasury AS. Yield Treasury 10 tahun menembus 5,1%, sementara yield 2 tahun mendekati 4,9%.
