Yield Obligasi AS 10-Tahun Turun ke 4,95%, Pasar Menanti Sinyal The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Yield atau imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat turun, mengikuti penurunan biaya pinjaman pemerintah di berbagai pasar global setelah harga minyak mentah mengalami koreksi.
Baca Juga
Pasar Obligasi AS Bergejolak, Yield Treasury 10-Tahun Kembali Tembus 5%
Dikutip dari CNBC, yield Treasury AS bertenor 10 tahun, yang menjadi acuan pasar global, turun lebih dari 4 basis poin menjadi 4,951% pada Senin (21/9/2026). Penurunan tersebut terjadi setelah yield obligasi tersebut pekan lalu sempat menembus 5,041%, level tertinggi dalam 19 tahun.
Yield Treasury 30 tahun juga turun lebih dari 4 basis poin menjadi 5,284%.
Pergerakan serupa terjadi di pasar obligasi Eropa. Yield obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun dan surat utang pemerintah Inggris bertenor sama, masing-masing turun lebih dari 5 basis poin.
Pasar Jepang tidak memberikan acuan pada Senin karena bursa negara tersebut libur.
Penurunan yield terjadi ketika sentimen pasar membaik setelah harga minyak dunia turun. Kondisi tersebut membantu meredakan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi, meskipun konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Diplomasi menjadi perhatian utama pasar pekan ini seiring para pemimpin dunia berkumpul dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada saat yang sama, Washington terus meningkatkan tekanan terhadap Teheran untuk mencapai kesepakatan yang dapat membuka kembali arus perdagangan melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Ketegangan di Timur Tengah Meningkat, AS Keluarkan ‘Travel Warning’
Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang menentukan arah harga energi global. Ketegangan di kawasan tersebut sebelumnya mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel dan meningkatkan kekhawatiran bahwa lonjakan energi dapat kembali memperkuat inflasi.
Sinyal The Fed
Investor juga masih mencerna keputusan Federal Reserve pekan lalu yang menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Kenaikan tersebut merupakan yang pertama dilakukan bank sentral AS dalam tiga tahun.
Pasar kini memperdebatkan apakah The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Pernyataan pejabat The Fed menjadi perhatian karena bank sentral menghadapi dilema antara inflasi yang masih tinggi dan risiko perlambatan ekonomi.
Di Eropa, European Central Bank (ECB) juga telah menaikkan suku bunga pada bulan ini. Sementara itu, Bank of England memilih mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan lalu.
Data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini turut menjadi perhatian investor. Data Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global akan diterbitkan pada Rabu, sementara data klaim awal pengangguran akan dirilis Kamis.
Sejumlah pidato pejabat bank sentral juga akan menjadi perhatian, termasuk Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams dan Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Tom Barkin.
Pergerakan yield Treasury menjadi penting bagi pasar karena level yang tinggi meningkatkan biaya pendanaan pemerintah AS sekaligus memengaruhi valuasi saham, terutama perusahaan teknologi yang sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga.
Penurunan harga minyak pada awal pekan memberikan sedikit ruang bagi pasar obligasi. Namun, risiko inflasi belum sepenuhnya hilang selama konflik Timur Tengah masih mengancam produksi dan distribusi energi global.
