Wall Street Bangkit Setelah Empat Hari Terpuruk, Dow Melonjak Lebih 500 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat (AS) bangkit pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (12/9/2026) WIB, setelah mengalami penurunan selama empat hari berturut-turut. Menurunnya harga minyak memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke pasar saham, meski data inflasi terbaru memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pekan depan.
Dow Jones Industrial Average melonjak 509,19 poin atau 0,98% menjadi 52.573,29. Indeks S&P 500 naik 0,86% ke 7.656,98, sedangkan Nasdaq Composite menguat 0,96% menjadi 26.333,04.
Kenaikan tersebut menghentikan rentetan penurunan empat hari bagi ketiga indeks utama Wall Street. Bagi Dow Jones, rentetan penurunan empat hari merupakan yang terpanjang sejak akhir April. Namun, secara mingguan pasar masih mencatat kinerja negatif.
Sepanjang pekan, Dow Jones turun 1,6%, S&P 500 terkoreksi 0,8%, sedangkan Nasdaq Composite melemah sekitar 0,7%. Penurunan tersebut sekaligus menjadi pekan negatif pertama Nasdaq dalam tiga pekan terakhir.
Baca Juga
Indeks Dow Jones Anjlok Lebih dari 300 Poin, Wall Street Merah 4 Hari Beruntun
Imbas Harga Minyak
Salah satu katalis utama pembalikan arah pasar pada Jumat adalah penurunan harga minyak mentah setelah reli tajam sepanjang pekan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kontrak West Texas Intermediate (WTI) turun 2,4% dan ditutup pada US$100,05 per barel. Minyak Brent melemah 2,8% menjadi US$104,61 per barel.
Meski turun pada perdagangan terakhir pekan ini, harga minyak masih mencatat kenaikan mingguan yang tajam. WTI melonjak hampir 10% sepanjang pekan, sementara Brent naik hampir 9%.
Kenaikan harga minyak tersebut sebelumnya menjadi sumber kekhawatiran bagi investor karena dapat memperbesar tekanan inflasi sekaligus mengurangi ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Data inflasi AS yang dirilis Jumat menunjukkan indeks harga konsumen atau CPI naik 0,4% secara bulanan pada Agustus dan 3,4% secara tahunan. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan Dow Jones.
Baca Juga
Inflasi AS Agustus 3,4% YoY, Ekspektasi Kenaikan Bunga Fed Menguat
Namun, CPI inti yang tidak memasukkan harga makanan dan energi naik 0,3% secara bulanan, sedikit lebih tinggi dari ekspektasi.
Data tersebut semakin memperkuat kekhawatiran bahwa proses penurunan inflasi AS belum berjalan mulus.
Pasar obligasi juga mencerminkan perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Imbal hasil Treasury bergerak relatif stabil setelah laporan inflasi, tetapi yield Treasury 2 tahun sempat menembus 4,6% dan mencapai level tertinggi sejak Juli 2024.
Yield Treasury 2 tahun sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed sehingga kenaikannya menunjukkan investor semakin memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Menurut CME Group FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed pekan depan mencapai sekitar 86%.
Dengan demikian, fokus pasar mulai bergeser dari apakah The Fed akan menaikkan suku bunga menjadi seberapa besar pengetatan yang masih diperlukan.
“Perdebatan dengan cepat bergeser dari apakah The Fed akan menaikkan suku bunga ke pertanyaan yang lebih penting, yakni berapa banyak kenaikan suku bunga yang pada akhirnya diperlukan dalam siklus ini,” kata Seema Shah, chief global strategist Principal Asset Management, dikutip CNBC.
Menurut Shah, The Fed kemungkinan tidak akan berhenti setelah satu kali kenaikan.
“Kami tidak memperkirakan The Fed hanya melakukan satu kali kenaikan. Ini bukan lagi sekadar soal penyesuaian ekonomi,” ujarnya.
Shah menilai setelah inflasi bertahan di atas target selama bertahun-tahun, para pembuat kebijakan kemungkinan akan menyimpulkan bahwa diperlukan lebih dari satu kali kenaikan suku bunga untuk mengembalikan stabilitas harga.
Kondisi ini menciptakan tantangan bagi pasar saham. Di satu sisi, penurunan harga minyak mengurangi tekanan terhadap inflasi dan memberikan sentimen positif. Namun di sisi lain, inflasi yang masih tinggi dapat memaksa The Fed mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama.
Bagi investor, perkembangan harga minyak selanjutnya menjadi sangat penting. Jika harga minyak kembali melonjak akibat konflik AS-Iran dan gangguan lalu lintas energi di Selat Hormuz, tekanan inflasi AS berpotensi meningkat kembali.
Sebaliknya, stabilisasi atau penurunan harga minyak dapat memberikan sedikit ruang bagi pasar saham untuk mengabaikan tekanan dari kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pergerakan Wall Street pada Jumat menunjukkan investor untuk sementara memilih melihat sisi positif, yakni meredanya harga minyak, daripada kembali tertekan oleh prospek kenaikan suku bunga.
