Wall Street Bangkit Setelah 3 Hari Tertekan, Dow Melonjak Hampir 300 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) menguat pada perdagangan Rabu atau Kamis (3/9/2026) WIB. Rebound Wall Street menghentikan penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS mulai mereda dari kenaikan tajam sebelumnya.
Indeks S&P 500 naik 0,46% menjadi 7.666,60. Nasdaq Composite menguat 0,45% ke level 26.217,83, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 295,07 poin atau 0,56% menjadi 53.061,95.
Kenaikan Dow Jones antara lain ditopang oleh penguatan saham Nvidia dan Johnson & Johnson.
Baca Juga
Pergerakan bursa terjadi setelah kenaikan yield obligasi pemerintah AS sebelumnya menekan sentimen investor. Pelaku pasar mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi, terutama di tengah kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Yield Treasury AS bertenor 10 tahun sempat mencapai 4,818% pada Rabu, level tertinggi sejak November 2023. Kenaikan yield juga terjadi di Inggris, Jerman dan Prancis.
Di Jepang, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun juga bergerak di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade.
Namun, tekanan dari kenaikan yield mulai mereda sehingga memberikan ruang bagi indeks saham utama AS untuk bangkit.
"Faktor penggerak utamanya adalah minyak," kata Jay Hatfield, CEO Infrastructure Capital Advisors, kepada CNBC.
Menurut Hatfield, pasar saham masih bergerak dalam rentang terbatas di tengah periode musiman yang cenderung lemah. Ia menilai kenaikan harga minyak yang mulai mencapai puncak turut memberikan ruang bagi pasar untuk menguat.
Minyak Masih Jadi Perhatian
Harga minyak tetap menjadi salah satu faktor utama yang diperhatikan investor.
Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik hampir 1% menjadi US$91,01 per barel. Sementara Brent naik sekitar 1% dan ditutup pada US$95,63 per barel.
Baca Juga
Eskalasi Konflik AS-Iran Meningkat, Minyak Brent Dekati US$ 95 per Barel
Kenaikan harga minyak terjadi setelah AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran, meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik di kawasan tersebut dapat kembali mengalami eskalasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena gangguan terhadap pasokan minyak dan lalu lintas energi di kawasan Timur Tengah berpotensi memperbesar tekanan inflasi global.
Hatfield mengatakan dirinya meragukan tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran dalam waktu dekat. Namun, ia memperkirakan kenaikan harga minyak saat ini kemungkinan hanya berlangsung sementara.
Ia memperkirakan indeks S&P 500 dapat mencapai titik terendah di sekitar 7.500.
"Kami meyakini harga minyak akan bergerak turun dalam enam bulan ke depan seiring meningkatnya produksi negara-negara non-OPEC dan berkembangnya jalur alternatif pengiriman minyak," ujar Hatfield.
Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan lebih dari 17 juta barel minyak melewati Selat Hormuz pada Senin. Menurutnya, volume tersebut merupakan yang tertinggi sejak perang Iran pecah pada Februari.
Data tersebut menjadi perkembangan penting bagi pasar energi karena Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan minyak global. Setiap gangguan terhadap lalu lintas kapal tanker di jalur tersebut berpotensi meningkatkan premi risiko dan harga minyak.
Dengan harga minyak Brent yang sudah mendekati US$100 per barel, investor kini menghadapi kombinasi antara risiko geopolitik, tekanan inflasi, kenaikan yield obligasi, serta perlambatan pasar tenaga kerja AS.
Baca Juga
Di Bawah Ekspektasi, Payroll Swasta AS Hanya Bertambah 38.000 pada Agustus
