Timur Tengah Membara, Hormuz Makin Sepi, Minyak Brent Tembus US$101
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 3% setelah konflik Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase eskalasi baru yang mengancam lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
Baca Juga
AS Hancurkan 5 Tanker Minyak Iran, Selat Hormuz Kembali Membara
Dikutip dari CNBC, harga Brent, patokan minyak internasional, naik 3,4% menjadi US$101,21 per barel pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Ini merupakan harga penutupan tertinggi sejak 22 Mei. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,3% menjadi US$96,05 per barel.
Lonjakan tersebut terjadi setelah Iran dan Amerika Serikat saling melakukan serangan terhadap kapal di kawasan Teluk Persia dan Teluk Oman. Investor semakin khawatir konflik akan mengganggu ekspor minyak melalui Selat Hormuz, salah satu jalur energi paling strategis di dunia.
Reuters melaporkan serangan Iran terhadap kapal-kapal di sekitar Hormuz pada Rabu merupakan gelombang serangan maritim terbesar sejak perang dimulai. Iran menyerang sekitar 10 kapal sebagai balasan atas penghancuran lima tanker minyak Iran oleh militer AS.
Kondisi tersebut langsung berdampak pada aktivitas pelayaran. Data Kpler menunjukkan hanya enam kapal komoditas melewati Selat Hormuz pada Selasa, dibandingkan rata-rata 12 kapal selama 10 hari sebelumnya.
Padahal, Selat Hormuz secara historis merupakan jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dan LNG dunia. Gangguan yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya angkutan, premi risiko kapal tanker dan harga energi di berbagai negara.
Analis Goldman Sachs Daan Struyven memperingatkan konflik yang memasuki bulan ketujuh tersebut meningkatkan risiko harga minyak menembus US$120 per barel apabila serangan terhadap kapal terus meningkat.
Skenario dasar Goldman Sachs masih memperkirakan ekspor minyak dari kawasan Teluk pada akhirnya dapat berangsur pulih. Produsen dapat menyesuaikan diri dengan gangguan melalui jalur pelayaran alternatif dan, dalam jangka lebih panjang, peningkatan kapasitas jaringan pipa.
Namun, eskalasi terbaru meningkatkan kemungkinan skenario yang lebih bullish bagi harga minyak. Dalam skenario tersebut, ekspor gagal pulih dalam beberapa bulan mendatang karena serangan terhadap kapal tanker terus terjadi.
“Risiko terhadap pasokan semakin meningkat,” menjadi perhatian utama pasar ketika serangan tidak lagi terbatas pada fasilitas militer, tetapi mulai menyasar infrastruktur dan kapal yang mengangkut komoditas energi.
Tekanan Inflasi
Dampaknya bahkan mulai terasa langsung pada konsumen Amerika Serikat. Harga bensin di AS mencapai rekor tertinggi untuk periode Labor Day, sekitar US$4,15 per galon pada Senin. Sementara harga diesel diperkirakan menembus US$6 per galon untuk pertama kalinya, menurut Patrick De Haan, kepala analisis minyak bumi GasBuddy.
Kenaikan harga energi juga menambah tekanan inflasi. Associated Press melaporkan harga bensin AS telah meningkat sekitar 32% dibandingkan setahun sebelumnya, sementara harga diesel mencapai rekor sekitar US$5,94 per galon. Pasar saham AS pun tertekan pada Rabu ketika harga minyak kembali menembus US$100.
Kenaikan minyak juga berpotensi memperumit kebijakan Federal Reserve. Harga energi yang lebih tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi ketika bank sentral AS sedang menentukan arah suku bunga.
Baca Juga
Redam Inflasi, Presiden The Fed Minneapolis Dorong Kenaikan Suku Bunga Bertahap
Bagi ekonomi global, ancaman terbesar bukan semata-mata harga minyak menembus US$100, melainkan kemungkinan gangguan berlangsung lama.
Selama perang belum mereda, perusahaan pelayaran dapat memilih menghindari kawasan berisiko tinggi, kapal tanker menghadapi premi asuransi lebih besar, sementara eksportir minyak harus mencari jalur alternatif.
Reuters mencatat rata-rata lalu lintas kapal komoditas di Hormuz telah jatuh ke level terendah sejak Mei setelah serangkaian serangan AS dan Iran terhadap kapal.
Kondisi ini menciptakan efek berantai: semakin sedikit kapal yang berani melintas, semakin besar risiko pasokan minyak tersendat; semakin besar risiko pasokan, semakin tinggi premi risiko yang dibebankan pasar ke harga minyak.
Dengan Brent kini kembali menembus US$100, pasar global mulai menghadapi pertanyaan yang lebih serius: apakah lonjakan ini hanya bersifat sementara atau menjadi awal dari krisis energi baru.
Jika serangan terhadap kapal tanker berlanjut dan Selat Hormuz semakin sulit dilalui, risiko harga minyak menuju US$120 per barel akan semakin nyata.
