Wamenlu: Jadi Engine of Growth, Tiga Hal Strategis akan Dibahas di KTT Ke-43 Asean
JAKARTA, investortrust.id – Tiga hal strategis akan dibahas di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-43 Asean. Pertama, green infrastructure dan resiliensi supply chain. Kedua, digitalisasi dan industri kreatif.
“Dua hal ini yang diharapkan akan bisa menjadi engine of growth ke depan di kawasan Asean dan kawasan Indo Pasifik. Sedangkan yang ketiga, kalau kita bicara infrastruktur dan ekonomi baru, kita bicara tentang financing atau pendanaan yang inovatif,” kata Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Pahala Mansury, dalam diskusi bersama para pemimpin redaksi media massa mengenai KTT Asean Ke-43 di Jakarta, Senin (28/08/2023).
Pahala mengatakan, pihaknya sudah membuat kurasi proyek-proyek yang bisa dipromosikan melalui Asean-Indo-Pacific Forum (AIPF). Dari US$ 125 miliar awalnya, kini ada yang matang 93 proyek dengan nilai US$ 38 miliar (sekitar Rp 579,4 triliun). Indonesia juga mengidentifikasi sejumlah proyek lain yang masuk kategori potensial.
“Kita juga harus menunjuk proyek yang sudah menjadi showcase. Nanti pada saat KTT, ada kunjungan langsung untuk melihat proyek show case. Menunjukkan proyek-proyek yang sudah berjalan dan juga masih akan potensi untuk berjalan. Nanti ada one on one meeting, regulator dan pelaku bisnis,” ujar Pahala.
Indonesia Kontribusi Paling Besar
Mengenai deliverable atau project concrete,lanjut Pahala, yang diharapkan dari Asean-Indo-Pacific Forum atau AIPF dan Asean Outlook on the Indo-Pacific adalah inklusif. “Sehingga, dari sisi negara-negara yang terlibat dalam proyek ataupun deliverable yang masuk dalam AIPF diharapkan nantinya inklusif. Artinya, merepresentasikan negara-negara yang memang ada di kawasan Asean dan juga melibatkan negara negara mitra kita, khususnya yang ada di kawasan Indo Pasifik. Sedangkan dari sektornyayakni yang memiliki peran penting ke depan yang terkait green infrastructuredan resiliensi rantai pasok, digitalisasi dan industri kreatif, serta pembiayaan,” tegasnya.
Dari sisi representasi sektornya, juga diharapkan bisa menunjukkan bahwa sektor-sektor ini yang akan masuk di dalam proyek-proyek deliverable dan memang konkret. Proyek ini sesuai juga dengan kebutuhan negara masing-masing.
“Unit dan jumlahnya, tadi telah kami sampaikan, tentunya dokumen-dokumen yang masih dalam tahapan proses penyelesaian juga terus dinegosiasikan dan didiskusikan. Karena, tentunya masing-masing negara akan bisa mememiliki peran untuk bisa deliverable, akan masuk ke dalam ke proyek-proyek seperti apa yang juga merepresentasikan masing-masing negara tersebut,” ucapnya.
Sampai saat ini, Indonesia memiliki kontribusi yang paling besar terhadap total keseluruhan proyek deliverable tersebut. Hal ini juga merepresentasikan size ekonomi di Indonesia yang besar. Saat ini, kurang lebih di atas 50% dari proyek deliverable itu berasal dari proyek di Indonesia. (pd)

