Selat Hormuz Makin Berisiko, Harga Minyak Mendekati US$ 100 per Barel
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam sekitar enam pekan setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Serangan terhadap kapal tanker dan fasilitas energi memperbesar kekhawatiran mengenai gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Minyak mentah Brent, acuan harga minyak global, ditutup Senin (7/9/2026) naik 1,1% menjadi US$97,31 per barel setelah sempat menyentuh US$98,06, level tertinggi sejak 24 Juli. Sementara itu, kontrak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% menjadi US$92,65 per barel dan sempat mencapai US$93,29. Reuters melaporkan Brent telah naik sekitar 8% sepanjang pekan lalu, sedangkan WTI menguat hampir 10%.
Baca Juga
Lonjakan harga tersebut terjadi setelah AS dan Iran kembali saling menyerang di kawasan. Pada Sabtu, pasukan AS menyerang tiga kapal tanker minyak Iran, termasuk satu kapal di dekat Pulau Kharg, pusat ekspor minyak utama Iran. Serangan itu dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melancarkan serangan terhadap kapal perang AS.
Perusahaan intelejen maritim asal Yunani, Marisks, menilai perkembangan tersebut sebagai eskalasi besar karena kapal komersial kini semakin langsung terseret ke dalam konflik militer.
Marisks menyebut kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, seperti dikutip Reuters. Kondisi ini semakin mengaburkan batas antara konflik militer dan pelayaran komersial.
Lalu Lintas Kapal di Hormuz Anjlok
Dampak paling nyata terlihat di Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Data Kpler menunjukkan rata-rata hanya sekitar 10 kapal komoditas per hari yang melintas Selat Hormuz dalam 10 hari terakhir hingga 6 September. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Mei dan turun dari lebih dari 15 kapal per hari pada 4 September.
Pada 5 September, hanya dua kapal yang melintas. Sehari berikutnya, jumlahnya meningkat menjadi enam kapal, sebagian besar menggunakan jalur di sisi Iran. Pada 6 September, empat kapal bermuatan komoditas masuk ke selat, tetapi sebuah tanker yang membawa produk olahan dari pelabuhan Saudi yang berupaya keluar justru berbalik arah.
Yang lebih mengkhawatirkan, tidak ada very large crude carrier (VLCC) yang keluar dari Selat Hormuz sejak 2 September, menurut data Kpler yang dikutip Reuters.
Situasi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan utama pasar minyak saat ini bukan hanya kerusakan fasilitas produksi, tetapi juga kemampuan kapal tanker untuk membawa minyak keluar dari kawasan Teluk.
Sebelumnya, data Reuters menunjukkan lalu lintas kapal melalui Hormuz pada 1 September hanya sekitar lima kapal, jauh di bawah rata-rata 10 hari sekitar 14 kapal. Bahkan tidak ada kapal tanker cair yang tercatat melintas pada hari tersebut.
Ancaman Iran
Risiko gangguan semakin besar setelah Iran mengatakan akan mengumumkan zona terbatas baru di sekitar Selat Hormuz.
Pejabat senior Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan Teheran juga akan memperkenalkan koridor pelayaran baru. Iran menyatakan kapal yang memasuki zona tertentu dapat dimasukkan ke dalam daftar sanksi.
Teheran sebelumnya juga telah memperluas daftar kapal yang dilarang melintasi Hormuz. Pada awal September, otoritas Selat Persia Iran menambahkan 11 kapal sehingga total kapal yang masuk daftar hitam mencapai 56 kapal, termasuk kapal tanker minyak mentah, LNG, LPG dan pengangkut produk minyak.
Iran menyatakan pembatasan tersebut berkaitan dengan pelanggaran aturan navigasi yang diberlakukan Teheran. Namun, bagi industri pelayaran, kebijakan tersebut menambah ketidakpastian mengenai keamanan dan kepastian hukum dalam menggunakan jalur Hormuz.
Associated Press melaporkan AS menolak rencana Iran membentuk “exclusion zone” di sekitar Selat Hormuz dan menegaskan bahwa Washington tetap berupaya mempertahankan kendali lalu lintas maritim serta menekan ekspor minyak Iran.
Selat Hormuz sangat penting bagi pasar energi global. Sebelum perang, jalur ini menangani sekitar 20% pengiriman minyak dunia, sehingga gangguan berkepanjangan dapat memberikan dampak jauh melampaui Iran dan negara-negara Teluk.
Karena itu, penurunan lalu lintas tanker dalam beberapa hari terakhir menjadi sinyal penting bagi pasar.
Analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva mengatakan jika lalu lintas tanker terus melambat secara material, pasar dapat mulai memperhitungkan gangguan pasokan yang jauh lebih besar.
Goldman Sachs bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga US$120 per barel jika serangan terhadap kapal semakin intensif.
Saudi Aramco Diserang
Tekanan terhadap pasar energi juga meningkat setelah fasilitas Saudi Aramco di Jizan dilaporkan terkena serangan baru pada Senin.
Financial Times melaporkan kerusakan masih dalam proses penilaian. Kompleks Jizan memiliki kilang dengan kapasitas sekitar 400.000 barel per hari dan merupakan salah satu pusat pengolahan minyak penting Arab Saudi. Belum ada pihak yang secara resmi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Serangan terhadap Jizan sangat diperhatikan karena Arab Saudi tengah berusaha mengalihkan lebih banyak ekspor minyak melalui jalur alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz. Pengiriman produk minyak dari Jizan dilaporkan telah terhenti sejak Agustus.
Dengan demikian, risiko pasokan kini muncul dari beberapa arah sekaligus: serangan terhadap kapal tanker, pembatasan pelayaran di Hormuz, ancaman terhadap fasilitas minyak Arab Saudi dan gangguan terhadap jalur ekspor.
Negara-negara Teluk juga mulai mengambil langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap Selat Hormuz.
Menurut penasihat Presiden UAE Anwar Gargash, dilansir Reuters, Uni Emirat Arab (UAE) sedang membangun jalur alternatif untuk ekspor energi dan perdagangan agar tidak ‘disandera’ oleh perang AS-Iran.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa negara-negara produsen minyak Teluk semakin memperhitungkan kemungkinan bahwa gangguan di Hormuz bukan lagi risiko jangka pendek.
