Partai Sayap Kanan Jerman Menang Telak di Tengah Kekecewaan terhadap Pemerintahan Merz
Poin Penting
|
BERLIN, investortrust.id — Partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) mencetak kemenangan bersejarah dalam pemilu negara bagian Saxony-Anhalt, Jerman, Minggu (6/9/2026). Hasil awal menunjukkan AfD memperoleh sekitar 44,5% suara, jauh meninggalkan pesaing utamanya, Christian Democratic Union (CDU), yang hanya meraih sekitar 18,5%.
Baca Juga
Lewati Drama Pemungutan Suara, Merz Akhirnya Terpilih Jadi Kanselir Jerman
Hasil tersebut menjadi salah satu kemenangan terbesar AfD sejak partai itu berdiri pada 2013 dan menandai perubahan besar dalam peta politik Jerman. Perolehan AfD lebih dari dua kali lipat dibandingkan hasil pemilu negara bagian 2021, ketika partai tersebut memperoleh 20,8% suara.
Sebaliknya, CDU mengalami kemerosotan dramatis. Partai konservatif tersebut sebelumnya meraih 37,1% suara pada 2021 dan telah menjadi kekuatan dominan di Saxony-Anhalt. Reuters menyebut hasil tersebut sebagai pukulan besar bagi kubu konservatif Kanselir Friedrich Merz.
Kemenangan AfD juga memiliki arti lebih besar karena belum pernah ada partai kanan jauh yang memimpin pemerintahan negara bagian Jerman sejak Perang Dunia II.
Meski memperoleh kemenangan telak, AfD belum otomatis dapat membentuk pemerintahan. Proyeksi sementara menunjukkan partai tersebut memperoleh sekitar 39 kursi dari sedikitnya 83 kursi parlemen negara bagian, sementara mayoritas membutuhkan 42 kursi.
Situasi tersebut membuat pertanyaan terbesar setelah kemenangan AfD bukan lagi siapa pemenang pemilu, melainkan apakah partai tersebut dapat membentuk pemerintahan.
Masalahnya, seperti dilansir AP News, partai-partai arus utama selama ini mempertahankan apa yang dikenal sebagai firewall, yakni penolakan untuk bekerja sama dengan AfD. Kantor perlindungan konstitusi di Saxony-Anhalt juga mengklasifikasikan cabang AfD di negara bagian tersebut sebagai kelompok ekstremis sayap kanan, sebuah label yang ditolak AfD.
AfD sendiri mengeklaim kemenangan tersebut sebagai mandat untuk memerintah. Kandidat utama partai itu di Saxony-Anhalt, Ulrich Siegmund, menyebut hasil tersebut sebagai sesuatu yang "sensasional" dan mengatakan partainya ingin mulai memerintah sesegera mungkin.
Namun, Siegmund sejauh ini menolak opsi memimpin pemerintahan minoritas. Salah satu opsi yang muncul adalah pemilu baru apabila tidak ada konfigurasi pemerintahan yang dapat dibentuk.
BSW Jadi faktor penting
Komposisi parlemen negara bagian juga dipengaruhi oleh hasil partai-partai lain, terutama Bündnis Sahra Wagenknecht (BSW).
BSW berada di sekitar ambang batas 5% untuk memperoleh kursi di parlemen. Jika BSW gagal melewati ambang tersebut, distribusi kursi dapat berubah dan peluang AfD untuk memperoleh mayoritas secara tidak langsung menjadi lebih besar.
Selain AfD dan CDU, Partai Kiri, Partai Hijau dan Partai Sosial Demokrat (SPD) juga memperoleh suara yang cukup untuk masuk parlemen negara bagian berdasarkan proyeksi awal. (DW)
Dengan demikian, proses pembentukan pemerintahan diperkirakan akan berlangsung rumit. Partai-partai yang menolak bekerja sama dengan AfD harus mencari formula untuk membentuk mayoritas alternatif.
Ketidakpuasan terhadap Pemerintah Merz
Kemenangan AfD tidak hanya mencerminkan kekuatan partai tersebut, tetapi juga menjadi cerminan ketidakpuasan pemilih terhadap pemerintahan federal di Berlin.
Reuters melaporkan pemilu tersebut berlangsung di tengah kekecewaan terhadap pemerintah Merz, termasuk persoalan ekonomi Jerman yang masih menghadapi tekanan serta persepsi bahwa pemerintah belum mampu memenuhi janji reformasi.
Baca Juga
Saxony-Anhalt sendiri merupakan salah satu negara bagian di bekas Jerman Timur. Wilayah tersebut memiliki sekitar 2,1 juta penduduk dan selama bertahun-tahun menjadi salah satu basis terkuat AfD.
Reuters sebelumnya mencatat bahwa isu hubungan dengan Rusia juga menjadi faktor penting di kawasan bekas Jerman Timur. Sebagian pemilih di wilayah tersebut memiliki pandangan yang lebih akomodatif terhadap Rusia dibandingkan masyarakat di banyak wilayah Jerman Barat. AfD sendiri mendorong hubungan yang lebih dekat dengan Moskow serta menentang kelanjutan dukungan militer Jerman terhadap Ukraina.
Migrasi menjadi isu utama AfD
Dalam kampanyenya, AfD mengandalkan isu migrasi, keamanan, nasionalisme dan ketidakpuasan terhadap partai-partai mapan.
Program AfD di Saxony-Anhalt mencakup pengetatan kebijakan imigrasi dan deportasi, perubahan kebijakan pendidikan dan kebudayaan, serta penguatan simbol-simbol nasional Jerman. Partai tersebut juga menginginkan perubahan besar terhadap penyiaran publik dan sejumlah kebijakan sosial.
AfD menampilkan diri sebagai alternatif terhadap partai-partai tradisional yang dinilainya gagal mengatasi persoalan ekonomi, migrasi dan keamanan.
Namun, kebijakan tersebut juga memicu kekhawatiran dari kelompok masyarakat sipil dan partai-partai arus utama yang menilai sejumlah agenda AfD terlalu ekstrem.
Yang membuat kemenangan di Saxony-Anhalt semakin penting adalah posisi AfD di tingkat nasional.
Survei INSA yang dilakukan pada 31 Agustus–4 September dan diterbitkan 5 September menunjukkan AfD memperoleh 28%, masih menjadi partai dengan tingkat dukungan tertinggi. CDU/CSU berada di 20%, sementara SPD dan Partai Hijau masing-masing 13%.
Data agregat survei yang dihimpun Wahlrecht juga menunjukkan pola serupa: AfD berada di sekitar 28%, sementara CDU/CSU sekitar 20%.
Artinya, kemenangan di Saxony-Anhalt bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. AfD telah berkembang dari partai yang terutama kuat di wilayah bekas Jerman Timur menjadi kekuatan nasional yang secara konsisten memimpin atau berada di posisi teratas dalam sejumlah jajak pendapat.
Reuters sebelumnya mencatat AfD telah mencapai 28% dalam survei INSA pada April, menunjukkan peningkatan dukungan yang berlangsung cukup lama.
Sinyal untuk Pemilu Nasional 2029
Pemimpin AfD di Saxony-Anhalt menjadikan kemenangan tersebut sebagai pijakan menuju ambisi yang lebih besar pada pemilu federal 2029.
Meski satu kemenangan di negara bagian berpenduduk sekitar 2,1 juta orang tidak serta-merta menentukan masa depan politik Jerman, hasil tersebut memberikan AfD momentum politik yang sangat kuat.
Kemenangan ini juga menjadi ujian serius bagi strategi partai-partai arus utama yang selama ini berusaha membendung AfD dengan tidak bekerja sama dengannya.
Jika AfD berhasil masuk ke pemerintahan negara bagian untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, hal tersebut dapat mengubah perdebatan politik nasional Jerman mengenai apakah "firewall" terhadap partai kanan jauh masih dapat dipertahankan.
Bagi Kanselir Friedrich Merz dan CDU, hasil Saxony-Anhalt menjadi peringatan keras. Partai konservatif bukan hanya kehilangan posisi dominan di salah satu basis tradisionalnya, tetapi juga menghadapi kenyataan bahwa sebagian pemilih konservatif kini beralih ke AfD.
