Giliran Libya, Banjir Bandang Diperkirakan Tewaskan 2.000 Orang
JAKARTA, Investortrust.id – Belum lama ini curah hujan tertinggi dalam sejarah Hong Kong mengakibatkan banjir bandang yang menewaskan beberapa orang, termasuk warga negara Indonesia (WNI). Terbaru, bencana dahsyat serupa juga terjadi di Libya, setelah Badai Mediterranean Daniel mengakibatkan banjir dahsyat setelah merusak bendungan dan meluluhlantakkan seluruh lingkungan di beberapa kota pesisir di timur negara Afrika Utara itu.
Sebanyak 2.000 orang diperkirakan tewas, demikian salah seorang pejawab pemerintah setempat dikutip Times of India, Senin (11/9/2023).
Kerusakan paling parah terjadi di Derna, sebuah kota yang sebelumnya dikuasai oleh kelompok fanatik Islam dalam kekacauan lebih dari satu dekade silam. Infrastruktur diberitakan hancur dan tidak layak untuk digunakan.
Sekedar informasi, saat ini Libya terbagi antara dua pemerintahan yang saling bersaing di timur dan satu di barat, yang masing-masing didukung oleh milisi dan pemerintah asing.
Jumlah kematian yang telah dikonfirmasi otoritas kesehatan akibat banjir yang diumumkan Senin (11/9/2023) tercatat sebanyak 61 orang pada hari Senin. Namun, angka tersebut tidak termasuk Derna, yang kini tidak dapat diakses, dan banyak dari ribuan orang hilang diyakini terbawa oleh air menyusul bobolnya dua bendungan di hulu.
Video yang diposting online oleh warga kota menunjukkan kerusakan besar. Seluruh kawasan pemukiman lenyap di sepanjang sungai yang mengalir dari pegunungan melalui pusat kota. Gedung-gedung apartemen bertingkat yang dahulu berdiri jauh dari sungai sebagian runtuh ke dalam lumpur.
Dalam wawancara telepon dengan stasiun televisi pada hari Senin, Perdana Menteri Ossama Hamad dari pemerintahan Libya bagian timur mengatakan bahwa 2.000 orang diperkirakan tewas di Derna dan ribuan lainnya diyakini hilang. Dia mengatakan Derna telah dinyatakan sebagai zona bencana.
Ahmed al-Mosmari, juru bicara angkatan bersenjata yang berbasis di timur mengatakan dalam konferensi pers, jumlah kematian di Derna telah melampaui 2.000. Dia mengatakan sekitar 5.000 hingga 6.000 orang yang dilaporkan hilang. Al-Mosmari mengaitkan bencana ini dengan keruntuhan dua bendungan di dekatnya, yang menyebabkan banjir bandang mematikan.
Sejak pemberontakan tahun 2011 yang menggulingkan dan kemudian membunuh penguasa lama Moammar Gadhafi, kekuasaan pemerintahan pusat mengecil, kekacauan terjadi mengakibatkan berkurangnya investasi di layanan publik negara tersebut. Tata Kelola dan pengawasan terhadap bangunan swasta pun makin rendah. Saat ini, Libya terbagi antara pemerintahan di timur dan barat, yang masing-masing didukung oleh sejumlah milisi.
Derna sendiri, bersama dengan kota Sirte, dikuasai oleh kelompok-kelompok fanatik Islam selama bertahun-tahun, dan sempat dikaitkan dengan pemerintahan ISIS, sampai pasukan yang setia pada pemerintahan di timur mengusir mereka pada tahun 2018.
Setidaknya 46 orang dilaporkan tewas di kota timur Bayda, kata Abdel-Rahim Mazek, kepala pusat medis utama kota tersebut. Tujuh orang lain dilaporkan tewas di kota pantai Susa di Libya timur laut, melansir Otoritas Ambulans dan Kedaruratan. Tujuh orang lain dilaporkan tewas di kota-kota Shahatt dan Omar al-Mokhtar, kata Ossama Abduljaleel. Berikutnya satu orang dilaporkan tewas pada hari Minggu di kota Marj.
Bulan Sabit Merah Libya mengatakan, tiga pekerjanya tewas saat membantu keluarga di Derna. Sebelumnya, kelompok tersebut mengatakan mereka kehilangan kontak dengan salah satu pekerjanya ketika ia mencoba membantu keluarga yang terjebak di Bayda.
Belasan orang lainnya dilaporkan hilang, dan otoritas khawatir mereka mungkin tewas dalam banjir yang menghancurkan rumah dan properti lainnya di beberapa kota di Libya timur.
Di Derna, media lokal mengatakan situasinya sangat kritis akibat ketidaktersediaan listrik atau komunikasi. Essam Abu Zeriba, menteri dalam negeri pemerintahan Libya timur, mengatakan lebih dari 5.000 orang diperkirakan hilang di Derna. Dia mengatakan banyak korban tewas terseret ke arah Laut Mediterania.
"Situasinya tragis," katanya dalam wawancara telepon di saluran berita satelit milik Arab Saudi, Al-Arabiya. Dia mendesak lembaga-lembaga lokal dan internasional untuk segera membantu kota tersebut.

