Dinilai Absurd, Trump Ancam Hentikan Perdagangan dengan Negara Penyebab Defisit Jika The Fed tak Turunkan Suku Bunga
Poin Penting
|
JAKARTA. Investortrust.id -- President Donald Trump berulang kali merespons laporan lonjakan jumlah lapangan kerja yang dirilis pada hari Jumat (4/9/2026) lalu dengan mengancam akan memblokir perdagangan terhadap negara-negara yang mengakibatkan defisit.
Ancaman tersebut dilontarkan menyusul ditemukannya lonjakan baru pada angka defisit perdagangan Amerika Serikat.
Menariknya, sejak lama ia mengaitkan sejumlah ancaman untuk menerapkan kebijakan tertentu, yang pada ujungnya menuntut agar Federal Reserve mau menurunkan tingkat suku bunganya, yang menurut Trump telah menghilangkan daya saing produk Amerika Serikat di hadapan kompetitornya, dan membuat setiap produk impor menjadi murah di hadapan konsumen domestik.
Melalui unggahan di platform Truth Social, Trump menyampaikan apa yang tampak sebagai instruksi langsung kepada Federal Reserve agar segera menurunkan suku bunga, atau ia akan menghentikan seluruh kegiatan perdagangan dengan negara-negara yang menyumbang defisit bagi Amerika Serikat.
Diberitakan Yahoo Finance, Sabtu (5/9/2026), Trump, yang sejak lama menginginkan tingkat suku bunga lebih rendah, menegaskan bahwa kebijakan embargo bisa jauh lebih efektif dibandingkan pengenaan tarif.
Dalam unggahan yang sama, ia menyatakan bahwa dewan pembuat kebijakan di Federal Reserve, bersama pemimpin barunya, harusnya mampu bertindak lebih cerdas dalam mengambil keputusan.
Tekanan dari presiden terhadap bank sentral AS sejatinya bukan merupakan hal baru. Tetapi ancaman berupa embargo perdagangan menjadi bentuk penekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Baca Juga
Trump Ancam Naikkan Tarif Otomotif Kanada Jadi 50% Usai Perundingan Dagang Gagal
Langkah embargo berpotensi menimbulkan gangguan pada skala baru bagi perekonomian global, sementara presiden dinilai memiliki kewenangan hukum yang cukup untuk merealisasikan ancaman tersebut.
Saat berbicara kepada para wartawan di Oval Office pada hari yang sama, Trump kembali menegaskan fokusnya terkait potensi penerapan embargo perdagangan tersebut. Ia menyatakan tidak memiliki kewajiban untuk terus mengizinkan kegiatan perdagangan berlangsung, sekaligus berulang kali memunculkan gagasan untuk melarang seluruh aktivitas perdagangan dengan Kanada.
Selain itu, Trump mengkritik defisit perdagangan Amerika Serikat dengan Meksiko serta Uni Eropa, seraya mengklaim bahwa penghentian hubungan perdagangan justru akan membantu perekonomian domestik dan dapat diberlakukan hanya dengan satu goresan pena.
Merujuk pada pernyataan Trump, Undang-Undang Kewenangan Ekonomi Darurat Internasional atau International Emergency Economic Powers Act tahun 1977 memberikan kewenangan penuh kepada presiden untuk memberlakukan embargo dalam kondisi yang dinilai sebagai keadaan darurat ekonomi. Kendati demikian, sebagaimana keputusan Mahkamah Agung pada bulan Februari lalu, undang-undang tersebut tidak memberi presiden wewenang untuk memungut tarif secara sepihak.
Data perdagangan terbaru memberikan gambaran yang kurang menguntungkan bagi presiden yang selama ini menjadikan penghapusan defisit perdagangan sebagai janji utamanya. Defisit perdagangan barang dan jasa Amerika Serikat membengkak pada bulan Juli dengan selisih mencapai US$ 88,6 miliar, yang menjadi level tertinggi sejak Maret 2025. Angka ini mencatatkan lonjakan tajam sebesar 24,4% dibandingkan defisit bulan Juni yang berada di angka US$ 71,2 miliar.
Rincian data berdasarkan negara menunjukkan bahwa Amerika Serikat terus mengalami defisit perdagangan dengan banyak mitra utama. Defisit perdagangan pada Juli 2026 terjadi dengan Meksiko sebesar US$ 27,5 miliar, Vietnam sebesar US$ 23,3 miliar, China sebesar 15,2 miliar dolar AS, Uni Eropa sebesar US$ 8,9 miliar, serta beberapa negara mitra lainnya.
Pertumbuhan defisit perdagangan tersebut sebagian di antaranya dipicu oleh besarnya pengeluaran untuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan, sebuah sektor industri yang kerap dibanggakan oleh sang presiden. Pada Jumat sore (4/9/2026), Trump sempat menyampaikan bahwa jika ia memimpin sebuah negara bagian, ia akan berusaha membangun pusat data sebanyak mungkin.
Impor komputer tercatat mengalami lonjakan hingga 25% antara bulan Juni dan Juli, sementara impor semikonduktor melonjak 10% seiring langkah perusahaan-perusahaan teknologi yang terus melakukan investasi besar-besaran pada fasilitas tersebut.
Pengeluaran di sektor kecerdasan buatan ini juga mendorong angka penyerapan tenaga kerja pada laporan hari Jumat, yang ditandai dengan kenaikan 22.000 lapangan kerja di sektor konstruksi pada bulan Agustus, di mana sebagian besar di antaranya ditujukan untuk proyek pembangunan pusat data tersebut.
