Data Tenaga Kerja AS Kuat, Yield Treasury 2-Tahun Tembus Level Tertinggi sejak 2025
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada perdagangan Jumat (4/9/2026). Laporan ketenagakerjaan Agustus yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan ekspektasi bahwa Federal Reserve dapat menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Baca Juga
Nonfarm Payrolls AS Agustus Melonjak 162.000, Jauh di Atas Ekspektasi
Yield Treasury tenor 2 tahun yang paling sensitif terhadap perubahan kebijakan suku bunga The Fed naik lebih dari 4 basis poin menjadi 4,377%. Dalam transaksi hari itu, yield 2-tahun sempat menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Sementara itu, yield Treasury 10 tahun, yang menjadi acuan utama bagi suku bunga hipotek, kredit kendaraan dan kartu kredit, naik lebih dari 2 basis poin menjadi 4,784%.
Adapun yield Treasury 30 tahun relatif stabil di sekitar 5,245%.
Kenaikan yield terjadi setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan ekonomi Negeri Paman Sam menciptakan 162.000 pekerjaan pada Agustus. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan konsensus ekonom yang disurvei Dow Jones sebanyak 53.000 pekerjaan.
Tingkat Pengangguran Bertahan di 4,1%.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat meskipun harga energi tinggi dan tekanan terhadap keterjangkauan biaya hidup masih berlangsung.
“Pejabat The Fed menggambarkan pasar tenaga kerja sebagai stabil, tetapi laporan pekerjaan yang luar biasa hari ini menunjukkan perekrutan ternyata sangat kuat di tengah tingginya harga energi dan krisis keterjangkauan yang masih berlangsung,” beber Chris Rupkey, kepala ekonom FWDBONDS, dikutip CNBC.
Menurut Rupkey, satu-satunya kekhawatiran sekarang adalah apakah The Fed menilai permintaan ekonomi cukup kuat untuk membutuhkan kenaikan suku bunga dalam beberapa pekan mendatang.
Ekspektasi Kenaikan Bunga Menguat
Laporan payrolls AS yang menguat langsung mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan The Fed 15-16 September meningkat menjadi sekitar 58%, atau sekitar 9 poin persentase lebih tinggi dibandingkan sehari sebelumnya.
Kondisi tersebut memperkuat tekanan terhadap obligasi Treasury jangka pendek karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan bahwa suku bunga acuan AS kembali dinaikkan.
Kombinasi pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi yang masih berada di atas target 2% The Fed dapat memberikan alasan tambahan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan ketat, bahkan menaikkan suku bunga.
Namun, pasar belum memperoleh kepastian mengenai keputusan tersebut.
Tunggu Data Inflasi
Perhatian investor kini beralih kepada serangkaian data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan.
Data indeks harga konsumen atau CPI dan indeks harga produsen atau PPI akan menjadi indikator penting bagi The Fed menjelang pertemuan FOMC pada 15-16 September.
Baca Juga
Jelang Rapat FOMC, Pejabat Fed Christopher Waller Kirim Sinyal ‘Dovish’
Data tersebut akan menentukan apakah kekuatan pasar tenaga kerja cukup untuk mengimbangi perkembangan inflasi yang selama ini menjadi perhatian utama bank sentral.
Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan, ekspektasi kenaikan suku bunga berpotensi semakin menguat. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredam spekulasi kenaikan bunga dan memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga.
Pergerakan yield pada Jumat juga membalikkan tren sehari sebelumnya. Pada Kamis, yield Treasury 10 tahun turun lebih dari 2 basis poin, sementara yield 30 tahun melemah lebih dari 1 basis poin setelah investor merespons pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih membuka peluang untuk mempertahankan suku bunga.
Dengan data payrolls terbaru, pasar obligasi kini kembali menghadapi ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS.
Bagi investor global, kenaikan yield Treasury juga menjadi perhatian karena dapat meningkatkan imbal hasil aset berdenominasi dolar sekaligus memberikan tekanan terhadap aset berisiko dan mata uang negara berkembang.
