Media Massa Rusia Soroti Penampilan Gemilang Prabowo di Vladivostok, Putin Terus Tersenyum
Poin Penting
|
VLADIVOSTOK, Investortrust— Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Eastern Economic Forum (EEF) 2026 di Vladivostok, Rusia, menyita perhatian sejumlah media setempat. Pada berita yang disiarkan, Jumat (4/9/2026), mereka tidak hanya menyoroti substansi pidato Prabowo mengenai perdagangan, konektivitas, dan kedaulatan ekonomi. Sejumlah media menyoroti gaya penyampaian Prabowo yang penuh energi, penggunaan bahasa Rusia, serta penghormatannya terhadap sejarah hubungan kedua negara.
Media bisnis terkemuka Rusia, Kommersant, menggambarkan Prabowo berpidato dengan “невероятную энергию” atau energi yang luar biasa. Dalam keterangan foto, media tersebut bahkan menulis bahwa “Presiden Prabowo Subianto tampil dengan gemilang di atas panggung”. Kommersant juga mencatat Presiden Rusia Vladimir Putin terus tersenyum selama mendengarkan pidato Prabowo.
Baca Juga
Prabowo Sebut Raksasa Alumunium Rusia Akan Berinvestasi Besar di Indonesia
Perhatian serupa diberikan Parlamentskaya Gazeta. Media resmi Majelis Federal Rusia tersebut menyoroti keberhasilan Prabowo menggunakan peribahasa Rusia, “Один в поле не воин” atau “seorang diri di medan bukanlah seorang pejuang”, yang bermakna perjuangan besar tidak dapat dimenangkan sendirian.
Prabowo kemudian menyandingkan ungkapan itu dengan peribahasa Indonesia, “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Menurutnya, kedua bangsa memiliki kearifan lama yang sama: beban berat akan menjadi lebih ringan apabila dipikul bersama.
“Dalam bahasa kita terdapat kesamaan, suatu kebijaksanaan kuno yang diwariskan oleh para leluhur,” kata Prabowo, seperti diberitakan Parlamentskaya Gazeta. Media tersebut menggambarkan Prabowo sebagai pemimpin yang menghormati sejarah, tetapi tidak ingin hubungan Indonesia dan Rusia hanya bertumpu pada kenangan masa lalu. Indonesia, kata Prabowo, tidak akan melupakan dukungan Uni Soviet pada tahun-tahun awal setelah kemerdekaan. Namun, generasi sekarang harus berani menulis babak baru hubungan kedua negara sebagai mitra yang setara dan berdaulat.
Pesan itu pula yang diangkat RBC melalui judul “Babak Baru Persahabatan dengan Rusia”. Media tersebut menekankan bahwa rasa terima kasih Indonesia terhadap bantuan Uni Soviet harus diterjemahkan menjadi hubungan modern yang berorientasi ke masa depan. “Kita akan bertindak sebagai pihak yang setara, sebagai mitra independen, demi kepentingan negara kita,” ujar Prabowo, sebagaimana dikutip RBC.
Baca Juga
Prabowo Undang Pengusaha Rusia ke Indonesia: Bekerjalah Bersama Kami
Sementara itu, Asia24/Vostochny Express menampilkan Prabowo sebagai suara tegas dari negara berpenduduk hampir 300 juta jiwa yang memperjuangkan kedaulatan ekonomi. Media itu menilai ungkapan Prabowo, “kapal-kapal akan mengangkut barang, pesawat-pesawat akan membawa persahabatan”, sebagai kalimat yang puitis, tetapi sekaligus sangat konkret.
Ungkapan tersebut juga dijadikan judul berita oleh PrimaMedia. Media Rusia itu menyebut Prabowo sebagai presiden dari sebuah “negara sahabat” yang menawarkan pembukaan hubungan laut dan udara langsung antara Indonesia dan kawasan Timur Jauh Rusia.
Di balik bahasa puitis itu, Prabowo membawa sejumlah usulan praktis. Ia mengajak kedua negara membangun jalur pelayaran langsung Indonesia–Vladivostok yang didukung sistem asuransi kargo laut, sekaligus membuka penerbangan langsung agar masyarakat Rusia dapat mengunjungi Indonesia dan warga Indonesia mengenal kawasan Timur Jauh Rusia.
Menurut EastRussia, pidato Prabowo tidak berhenti pada seremoni persahabatan. Presiden memaparkan agenda terperinci yang mencakup jalur logistik, mekanisme pembayaran yang andal, asuransi pengangkutan barang, serta percepatan implementasi Perjanjian Perdagangan Bebas Indonesia–Uni Ekonomi Eurasia atau Indonesia–EAEU Free Trade Agreement.
Kesepakatan perdagangan bebas itu ditandatangani di St Petersburg pada 25 Desember 2025 oleh Indonesia, Komisi Ekonomi Eurasia, serta lima anggota EAEU—Rusia, Armenia, Belarus, Kazakhstan, dan Kyrgyzstan. Perjanjian tersebut mencakup penurunan tarif terhadap lebih dari 11.000 jenis barang. Indonesia telah menyelesaikan proses ratifikasi dan mendorong negara-negara EAEU mempercepat prosedur domestik agar kesepakatan segera berlaku.
Prabowo juga mengusulkan target ambisius berupa pelipatgandaan nilai perdagangan Indonesia–Rusia. Berdasarkan data yang disampaikan Presiden, perdagangan bilateral pada 2025 mencapai sekitar US$5 miliar. Kerja sama yang semakin erat dinilai dapat menjadi fondasi bagi hubungan dagang yang efektif dan berjangka panjang, seperti diberitakan Komsomolskaya Pravda.
Presiden menegaskan hubungan personal dan kepercayaan di tingkat pemimpin harus diturunkan menjadi kepercayaan institusional antarkementerian, lembaga, dan pelaku usaha. Karena itu, penyelesaian tarif melalui perjanjian perdagangan bebas perlu diikuti kesiapan jalur pengangkutan, sistem pembayaran, daftar komoditas, dan rantai pasok yang tahan terhadap tekanan eksternal.
Sorotan media Rusia memperlihatkan dua sisi penampilan Prabowo di Vladivostok. Di satu sisi, ia tampil hangat melalui bahasa, sejarah, dan simbol budaya yang dekat dengan masyarakat Rusia. Di sisi lain, ia membawa agenda ekonomi yang pragmatis: menggandakan perdagangan, membuka penerbangan dan pelayaran langsung, memperkuat pembayaran lintas negara, serta mempercepat berlakunya perdagangan bebas Indonesia–EAEU.
Dari panggung Vladivostok, Prabowo ingin menunjukkan bahwa persahabatan Indonesia–Rusia tidak cukup hanya dikenang sebagai warisan sejarah. Hubungan itu harus diberi isi baru dalam bentuk perdagangan, investasi, konektivitas, dan kerja sama yang setara—sehingga kapal benar-benar membawa barang dan pesawat benar-benar membawa persahabatan.
