Serangan AS ke Iran Tekan Wall Street, Dow Anjlok Hampir 400 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) melemah pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (1/9/2026) WIB. Wall Street tertekan setelah AS dan Iran kembali terlibat aksi saling serang.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 374,09 poin atau 0,7% menjadi 53.185,90. Pelemahan Dow antara lain ditekan penurunan saham Goldman Sachs dan Alphabet.
Indeks S&P 500 turun 0,33% menjadi 7.686,14, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,12% menjadi 26.370,89.
Baca Juga
Wall Street Merah, Investor Cerna Sinyal ‘Hawkish’ Kevin Warsh
Namun, penurunan indeks ini tidak menghapus kinerja positif Wall Street sepanjang Agustus. Tiga indeks utama tetap mencatat kenaikan bulanan, dengan sektor teknologi dan saham terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi motor utama penguatan.
Serangan terbaru AS terhadap Iran kembali meningkatkan kekhawatiran investor mengenai dampak konflik terhadap pasokan energi dan perekonomian global.
Komando Pusat AS (U.S. Central Command) mengonfirmasi kepada MS NOW bahwa militer AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Serangan tersebut menjadi serangan AS yang pertama kali diakui secara terbuka terhadap posisi Iran sejak akhir Juli. Media pemerintah Iran kemudian melaporkan bahwa Teheran menyerang pangkalan AS di Yordania sebagai aksi balasan.
Harga Minyak Melonjak
Kembali memanasnya konflik langsung berdampak terhadap pasar energi.
Harga minyak mentah WTI ditutup naik 2,83% menjadi US$85,76 per barel. Sementara harga Brent, yang menjadi patokan minyak global, meningkat 2,71% menjadi US$90,49 per barel.
Baca Juga
AS Serang Pulau Larak di Selat Hormuz, Minyak Brent Kembali Tembus US$ 90
Kenaikan harga minyak turut mendorong yield Treasury bertenor panjang dan menambah tekanan terhadap pasar saham.
Tom Hainlin dari U.S. Bank Asset Management mengatakan level harga minyak saat ini memang relatif tinggi, tetapi belum cukup untuk memberikan pukulan signifikan terhadap perekonomian.
“Dunia memiliki cukup minyak untuk memenuhi kebutuhannya, dan harga US$80 hingga US$90 tidak cukup membatasi hingga menyebabkan ekonomi runtuh,” ujar Hainlin, dikutip CNBC.
Menurut dia, harga minyak pada kisaran tersebut belum mengubah prospek konsumsi, dunia usaha, investasi AI, manufaktur, reshoring produksi, maupun elektrifikasi ekonomi.
Namun, Hainlin memperingatkan bahwa jika harga minyak menembus US$100 per barel, dampaknya terhadap ekonomi dapat menjadi jauh lebih berat.
Wall Street Tetap Bukukan Bulan Positif
Meskipun perdagangan pada akhir Agustus diwarnai gejolak geopolitik dan kekhawatiran inflasi, Wall Street secara keseluruhan mencatat kinerja positif.
Dow naik lebih dari 1% sepanjang Agustus dan membukukan kenaikan bulanan kelima berturut-turut. Ini juga menjadi bulan positif ke-15 bagi indeks saham unggulan tersebut dalam 16 bulan terakhir.
S&P 500 mencatat kenaikan 2,6% sepanjang Agustus, sedangkan Nasdaq Composite melonjak 3,9%. Keduanya mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Mei.
S&P 500 dan Dow juga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada awal Agustus.
Sektor teknologi menjadi salah satu penggerak utama reli pasar. Indeks sektor teknologi S&P 500 melonjak lebih dari 6% sepanjang bulan tersebut.
Saham Nvidia naik sekitar 10%, Microsoft menguat lebih dari 9%, sementara Micron Technology melesat lebih dari 16%.
Meski demikian, Agustus tetap menjadi bulan yang penuh gejolak. Kekhawatiran terhadap inflasi sempat mendorong yield Treasury ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Departemen Keuangan AS kemudian berupaya meredam tekanan pasar obligasi dengan meningkatkan pembelian kembali utang pemerintah. Namun, yield obligasi tenor panjang tetap berada pada level tinggi.
Ketua The Fed Kevin Warsh juga kembali menyatakan kekhawatirannya terhadap inflasi. Dalam pernyataan Jumat sebelumnya, Warsh mengatakan bahwa meskipun data inflasi selama musim panas lebih baik dari perkiraan, angka tersebut belum menunjukkan perbaikan berarti pada tren inflasi yang mendasarinya.
Data Ekonomi dan G20 Jadi Perhatian
Investor kini mengalihkan perhatian pada serangkaian data ekonomi penting yang akan dirilis pekan ini.
Laporan tenaga kerja AS untuk Agustus akan menjadi salah satu indikator paling penting dan dijadwalkan dirilis Jumat pagi. Selain itu, data aktivitas sektor manufaktur dan jasa juga akan menjadi perhatian pasar.
Investor juga akan memantau hasil pertemuan para menteri keuangan negara-negara G20 di Asheville, North Carolina.
Baca Juga
Kevin Warsh Soroti Inflasi, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed
Perkembangan geopolitik di Timur Tengah, arah harga minyak, data ekonomi AS, serta sinyal kebijakan The Fed akan menjadi faktor penting yang menentukan arah Wall Street memasuki September.
