Futures AS Melemah, tapi Wall Street Bersiap Menutup Agustus dengan Tren Positif
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar futures saham Amerika Serikat (AS) bergerak sedikit melemah tapi relatif stabil pada perdagangan Minggu (30/8/2026) malam waktu setempat. Wall Street bersiap menutup Agustus dalam posisi menguat, dengan saham teknologi, terutama perusahaan yang terkait kecerdasan buatan (AI), menjadi motor utama kenaikan.
Dikutip dari CNBC, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average hanya turun 63 poin atau 0,1%. Kontrak berjangka S&P 500 juga melemah 0,1%, sedangkan Nasdaq-100 futures bergerak sedikit di atas level datar.
Baca Juga
Wall Street Merah, Investor Cerna Sinyal ‘Hawkish’ Kevin Warsh
Meski perdagangan awal relatif tenang, kinerja sepanjang Agustus menunjukkan momentum positif.
Dow Jones naik 2,1% sepanjang bulan dan berada di jalur untuk mencatat kenaikan bulanan kelima berturut-turut.
Sementara itu, S&P 500 dan Nasdaq Composite masing-masing naik sekitar 3% dan 4%. Keduanya bersiap mencatat kenaikan bulanan pertama sejak Mei.
S&P 500 dan Dow Jones juga sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada Agustus.
Saham AI Jadi Motor
Sektor teknologi menjadi salah satu penggerak utama pasar selama Agustus. Saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan.
Sektor teknologi dalam indeks S&P 500 naik hampir 6% sepanjang bulan.
Nvidia mencatat kenaikan lebih dari 8%, sedangkan Microsoft dan Micron Technology masing-masing menguat sekitar 11% dan 13%.
Kinerja tersebut menunjukkan bahwa investor masih memiliki selera yang kuat terhadap saham teknologi dan tema AI, meskipun pasar secara keseluruhan menghadapi sejumlah risiko makroekonomi.
Namun, perjalanan Wall Street sepanjang Agustus tidak sepenuhnya mulus.
Kekhawatiran terhadap inflasi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS atau Treasury ke level tertinggi dalam beberapa tahun. Departemen Keuangan AS kemudian berupaya meredakan tekanan di pasar obligasi dengan meningkatkan pembelian kembali utang pemerintah.
Meski demikian, imbal hasil Treasury tenor panjang masih berada pada level tinggi.
Sinyal Hawkish The Fed
Tekanan terhadap pasar obligasi juga diperkuat oleh pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada Jumat (28/8/2026).
Warsh mengatakan dirinya masih mengkhawatirkan inflasi. Menurut dia, data inflasi pada musim panas memang lebih baik dari perkiraan, tetapi belum menunjukkan bahwa tren inflasi yang mendasari telah mengalami perbaikan signifikan.
Baca Juga
Kevin Warsh Soroti Inflasi, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed
“Meski data inflasi musim panas lebih baik dari perkiraan, data tersebut belum menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti,” ujar Warsh.
Pernyataan tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter The Fed.
Ekonom Barclays Jonathan Millar menilai komentar Warsh yang cenderung hawkish meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September.
“Meski kami meragukan ini dimaksudkan untuk memberi sinyal pengetatan pada September, mengingat ketidaksukaannya terhadap pemberian sinyal kebijakan, pembahasannya yang hawkish membuat kenaikan 25 basis poin pada September lebih mungkin terjadi,” tulis Millar dalam catatan kepada klien.
Barclays juga memperkirakan kenaikan suku bunga berikutnya dapat terjadi pada Desember.
Selain inflasi dan kebijakan The Fed, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut membuat perdagangan pasar finansial bergejolak sepanjang Agustus.
Pada Minggu, U.S. Central Command mengonfirmasi bahwa militer AS menyerang dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Serangan tersebut langsung memicu kenaikan harga minyak dalam perdagangan awal.
Harga minyak mentah AS atau West Texas Intermediate (WTI) naik 2,7% menjadi US$85,64 per barel. Sementara minyak Brent menguat 2,8% menjadi US$90,57 per barel.
Kenaikan harga minyak berpotensi kembali menjadi persoalan bagi pasar saham karena dapat meningkatkan tekanan inflasi. Hal ini sekaligus memperumit ruang gerak The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Data Ekonomi Jadi Perhatian
Investor kini mengalihkan perhatian ke sejumlah data ekonomi penting pada pekan ini.
Laporan ketenagakerjaan AS untuk Agustus akan dirilis pada Jumat pagi waktu setempat. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator utama bagi investor untuk menilai kekuatan ekonomi AS dan arah kebijakan Federal Reserve.
Selain data tenaga kerja, pasar juga akan mencermati data aktivitas sektor manufaktur dan jasa.
Rangkaian data tersebut akan menjadi penting karena pasar saham saat ini berada dalam posisi yang cukup kuat, tetapi menghadapi kombinasi risiko inflasi, suku bunga tinggi, dan ketegangan geopolitik.
Dengan demikian, Wall Street memasuki akhir Agustus dengan catatan positif, tetapi investor belum dapat sepenuhnya mengabaikan risiko yang dapat mengubah arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.
