Saham Futures Wall Street Melemah, Investor Tunggu Data PCE dan Sinyal The Fed
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Kontrak berjangka saham AS (futures) melemah tipis pada perdagangan Minggu (23/8/2026) malam waktu AS. Wall Street mengalami pekan yang berat akibat lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah.
Dikutip dari CNBC, Dow Jones Industrial Average Futures turun 44 poin atau 0,1%. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing melemah 0,1% dan 0,2%.
Tekanan tersebut terjadi setelah Dow Jones membukukan penurunan 0,8% sepanjang pekan lalu, meski pada Jumat mencatat kenaikan lebih dari 500 poin. Ini menjadi penurunan mingguan kedua berturut-turut bagi indeks tersebut.
Baca Juga
Indeks Dow Terbang Lebih dari 500 Poin, tapi Wall Street Catat Kerugian Mingguan
S&P 500 dan Nasdaq masing-masing turun 1,4% dan 2%. Penurunan itu sekaligus mengakhiri reli selama tiga pekan berturut-turut bagi kedua indeks.
Salah satu faktor utama yang menekan saham adalah kenaikan imbal hasil obligasi di berbagai negara. Yield Treasury AS tenor 30 tahun menembus 5,3% pekan lalu, mencapai level yang belum terlihat selama hampir 20 tahun.
Kenaikan imbal hasil juga terjadi di pasar obligasi Jepang, Prancis, dan Jerman yang mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun.
Investor semakin khawatir perang AS-Iran akan berlangsung lebih lama. Konflik berkepanjangan berpotensi menjaga harga minyak tetap tinggi dan memperbesar tekanan inflasi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya mengumumkan langkah untuk membantu menstabilkan bagian panjang kurva imbal hasil Treasury. Namun, dampak positif kebijakan tersebut hanya berlangsung singkat.
Baca Juga
Yield Treasury Naik, Program ‘Buyback’ Bessent Gagal Redam Gejolak di Pasar Obligasi AS
David Zervos, kepala strategi pasar di Jefferies, menilai keputusan Treasury meningkatkan pembelian kembali obligasi jangka panjang secara taktis pada dasarnya merupakan bentuk “Operation Twist” yang dipimpin Treasury untuk merespons perubahan kondisi pasar jangka pendek, bukan program pelonggaran kuantitatif atau quantitative easing (QE).
Menurut Zervos, pembelian kembali obligasi tersebut tidak menciptakan cadangan baru sehingga tidak memiliki saluran penciptaan uang secara langsung seperti QE. Namun, kebijakan tersebut tetap memberikan ruang bagi ekspansi fiskal dan dapat menghasilkan efek reflasi yang menyerupai QE.
Investor Tunggu Sinyal The Fed
Perhatian investor selanjutnya beralih ke agenda ekonomi dan kebijakan moneter pekan ini.
Data indeks harga personal consumption expenditures (PCE) Juli akan dirilis pada Rabu. Data tersebut menjadi salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama Federal Reserve.
Pada waktu yang sama, The Fed akan menggelar simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming. Ketua The Fed Kevin Warsh diperkirakan menyampaikan pidato dalam forum tersebut.
Perhatian pasar juga akan tertuju pada sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI). Nvidia dan Marvell Technology dijadwalkan merilis laporan kinerja masing-masing pada Rabu dan Kamis.
Bloomberg News pada akhir pekan melaporkan, berdasarkan sumber yang mengetahui persoalan tersebut, bahwa Nvidia telah memberitahu para kliennya mengenai kenaikan harga server yang menggunakan chip Vera Rubin dan Blackwell lebih dari 15%.
Perkembangan tersebut membuat investor menghadapi pekan yang sarat katalis, mulai dari data inflasi dan sinyal kebijakan The Fed hingga kinerja perusahaan teknologi besar. Di sisi lain, perkembangan perang AS-Iran dan arah yield Treasury tetap menjadi faktor utama yang berpotensi menentukan pergerakan Wall Street.

