Wall Street Merah, Investor Cerna Sinyal ‘Hawkish’ Kevin Warsh
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS berakhir merah pada perdagangan Jumat waktu AS atau Sabtu (29/8/2026) WIB. Ketua Federal Reserve Kevin Warsh memberikan sinyal kekhawatiran terhadap perkembangan inflasi Amerika Serikat, yang mendorong investor kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada September.
Indeks S&P 500 turun 0,25% dan ditutup pada level 7.711,76. Nasdaq Composite melemah 0,52% menjadi 26.402,42, tertekan penurunan sejumlah saham semikonduktor, termasuk Nvidia dan Intel. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average turun 9,45 poin atau 0,02% menjadi 53.559,99.
Baca Juga
Kevin Warsh Soroti Inflasi, Buka Peluang Kenaikan Suku Bunga Fed
Meski ditutup di zona merah, ketiga indeks utama Wall Street tetap mencatat kinerja positif sepanjang pekan. S&P 500 naik 0,5%, Nasdaq Composite menguat 0,9%, sedangkan Dow Jones bertambah 0,5%.
Kenaikan tersebut menjadi pekan positif pertama Dow Jones dalam tiga pekan terakhir.
Warsh Soroti Tren Inflasi
Tekanan terhadap pasar muncul setelah Warsh menyampaikan pandangannya dalam simposium tahunan bank sentral AS di Jackson Hole, Wyoming.
Warsh mengatakan data inflasi terbaru memang memberikan gambaran yang lebih baik dari perkiraan, tetapi belum cukup untuk menunjukkan bahwa tekanan inflasi mendasar telah mengalami perbaikan yang berarti.
“Meski pembacaan PCE dan CPI musim panas ini lebih baik dari perkiraan, data tersebut tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara signifikan,” ujar Warsh.
Dia menegaskan The Fed membutuhkan keyakinan bahwa inflasi mendasar bergerak menuju target bank sentral secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai.
“Kita harus yakin bahwa inflasi yang mendasarinya bergerak menuju tujuan kita, secara jelas dan dengan kecepatan yang cukup. Jika tidak, masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan. Itulah tugas kita, mandat kita,” kata Warsh.
Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar mengenai arah suku bunga.
Berdasarkan CME Group FedWatch, probabilitas yang dihitung dari perdagangan futures fed funds menunjukkan peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September mencapai 57,5% pada Jumat.
Angka tersebut melonjak dari hanya 35,4% sehari sebelumnya.
Yield Treasury Melonjak
Pasar obligasi AS juga merespons pernyataan Warsh. Imbal hasil Treasury tenor pendek bergerak lebih tinggi segera setelah pidato tersebut, sementara imbal hasil tenor panjang relatif datar.
Pergerakan tenor panjang menjadi perhatian investor karena imbal hasil tersebut berhubungan erat dengan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi dan dalam beberapa waktu terakhir menjadi sumber kekhawatiran pasar.
Baca Juga
Yield Treasury AS 2-Tahun Melonjak Setelah Warsh Beri Sinyal Hawkish
Menjelang akhir perdagangan, imbal hasil tenor pendek memang sempat bergerak dari level ekstremnya, tetapi pesan dari Warsh tetap memperkuat kekhawatiran bahwa kebijakan moneter AS berpotensi lebih ketat dari perkiraan sebelumnya.
Bill Birmingham, managing director di REX Financial, menilai pidato Warsh memberikan pesan yang sangat kuat kepada pasar sekaligus menunjukkan perubahan pendekatan dalam kebijakan moneter.
“Saya menilai pidato ini secara khusus memberikan pesan yang sangat kuat, baik kepada pasar maupun secara umum, bahwa cara The Fed menjalankan bisnis selama mungkin 40 tahun terakhir dalam beberapa hal belum seketat yang seharusnya,” kata Birmingham, dikutip CNBC.
Menurut dia, komentar Warsh mengenai komposisi CPI juga menunjukkan bahwa sang ketua The Fed kemungkinan tengah mencari konsensus internal untuk menaikkan suku bunga.
Selain mencermati kebijakan moneter, investor juga mencerna sejumlah laporan keuangan perusahaan.
Saham Gap Inc melonjak sekitar 13% meskipun laporan kuartalannya menunjukkan hasil yang beragam. Kenaikan saham tersebut didorong pengumuman perusahaan mengenai penunjukan CEO baru untuk merek Old Navy yang sedang menghadapi tekanan.
Sebaliknya, saham Marvell Technology anjlok lebih dari 10% setelah perusahaan memberikan proyeksi margin kotor non-GAAP untuk kuartal berjalan yang mengecewakan pasar.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa investor tidak hanya merespons kebijakan The Fed, tetapi juga semakin selektif terhadap prospek pertumbuhan dan kinerja masing-masing perusahaan.
Dengan peluang kenaikan suku bunga September yang kembali meningkat, perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang dapat menentukan apakah The Fed benar-benar akan mengubah arah kebijakan moneternya.
