Yield Treasury AS 2-Tahun Melonjak Setelah Warsh Beri Sinyal Hawkish
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar obligasi Amerika Serikat kembali berada di bawah tekanan setelah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh mengatakan bank sentral masih memiliki “PR (pekerjaan rumah)” untuk mengendalikan inflasi.
Imbal hasil Treasury jangka pendek melonjak setelah pidato Warsh dalam simposium tahunan The Fed di Jackson Hole, Wyoming.
Yield Treasury 2 tahun yang paling sensitif terhadap ekspektasi kebijakan moneter naik lebih dari 12 basis poin menjadi 4,356%.
Baca Juga
Yield Obligasi Global Melonjak, Pasar Cemaskan Inflasi di Tengah Kebuntuan AS-Iran
Sementara itu, yield Treasury 30 tahun, yang menjadi indikator penting biaya pinjaman jangka panjang, naik 2 basis poin menjadi 5,211%. Yield Treasury 10 tahun juga meningkat lebih dari 5 basis poin menjadi 4,726%.
Lonjakan yield terutama terjadi setelah Warsh menegaskan bahwa data inflasi terbaru belum cukup untuk meyakinkan dirinya bahwa tekanan harga mendasar telah mengalami perbaikan berarti.
“Meski pembacaan PCE dan CPI musim panas ini lebih baik dari perkiraan, data tersebut tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti,” kata Warsh.
Dia menambahkan bahwa The Fed harus memastikan inflasi bergerak menuju target secara jelas dan dengan kecepatan yang cukup.
“Jika tidak, kita masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Itulah tugas kita, mandat kita, dan tanggung jawab kita,” ujarnya.
Suku Bunga Bertahan atau Naik?
Sikap Warsh yang dinilai hawkish langsung tercermin dalam harga obligasi dan ekspektasi suku bunga. Menurut CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September meningkat menjadi 57,5%, dibandingkan 35,4% sehari sebelumnya.
Kenaikan ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan The Fed mempertahankan atau bahkan memperketat kebijakan moneter untuk memastikan inflasi kembali menuju target 2%.
Vail Hartman, strategist suku bunga AS di BMO, menilai pidato Warsh sengaja dibuat hawkish untuk memperjelas komitmen bank sentral terhadap stabilitas harga.
“Secara keseluruhan, ini merupakan pidato yang sengaja bernada hawkish dan akan menghilangkan kekhawatiran mengenai kesediaan The Fed untuk menaikkan suku bunga guna memulihkan stabilitas harga,” tulis Hartman, dikutip CNBC.
Heather Long, kepala ekonom Navy Federal Credit Union, menilai pasar obligasi menangkap pesan Warsh dengan cepat. Menurutnya, meski kenaikan suku bunga mungkin belum terjadi pada September, peluang kenaikan pada Oktober atau Desember semakin terbuka.
Treasury Jangka Panjang Tetap Jadi Perhatian
Pergerakan yield Treasury jangka pendek menjadi respons paling kuat terhadap pidato Warsh. Namun, pasar juga terus mengawasi obligasi jangka panjang.
Yield Treasury 30 tahun telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir dan berada di dekat level tertinggi dalam beberapa dekade.
Baca Juga
Kenaikan yield jangka panjang menjadi perhatian karena secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi biaya pembiayaan pemerintah, perusahaan, konsumen, hingga sektor perumahan.
Pidato Warsh setidaknya memberikan kepastian kepada investor obligasi bahwa The Fed tidak akan mengabaikan inflasi hanya karena beberapa indikator terbaru menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Sikap tersebut juga mempertegas perubahan pendekatan di bawah kepemimpinan Warsh. Dia berusaha mengurangi ketergantungan pasar terhadap pernyataan bank sentral dan tidak memberikan formula pasti mengenai kapan suku bunga akan dinaikkan atau diturunkan.
Bagi pasar obligasi, pesan utamanya cukup jelas: jika inflasi tidak bergerak cukup cepat menuju target 2%, kenaikan suku bunga masih menjadi opsi yang terbuka.
