Diplomasi AS-Iran Mandek, Minyak Brent Melonjak Lebih 2%
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Harga minyak mentah melonjak setelah Gedung Putih menegaskan bahwa Amerika Serikat (AS) dan Iran belum melakukan perundingan. Pernyataan tersebut kembali menghidupkan kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian pasokan minyak dari Timur Tengah.
Minyak mentah Brent berjangka naik 2,2% menjadi US$89,79 per barel pada perdagangan Kamis (27/8/2026). Minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,7% menjadi US$83,66 per barel.
Baca Juga
Tak Gentar Ancaman ‘Sanksi Keras’ AS, Iran Klaim Mampu Bertahan
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga Brent dan WTI sebelumnya mengalami penurunan selama tiga sesi berturut-turut. Investor menilai ada peluang tercapainya terobosan diplomatik yang dapat membuka jalan bagi pemulihan arus minyak dari kawasan Timur Tengah.
“Tidak adanya kemajuan dalam perundingan, ditambah dengan arus pasokan yang masih terbatas, dapat mendorong pasar menyesuaikan kembali pandangannya,” kata analis UBS Giovanni Staunovo, dikutip CNBC.
Gedung Putih mengatakan saat ini tidak ada negosiasi yang berlangsung antara Washington dan Teheran, meskipun sejumlah negara terus berupaya membuka jalur diplomasi.
“Tidak ada negosiasi yang berlangsung saat ini, dan ini akan terus terjadi sampai presiden merasa bahwa mereka mungkin bersedia datang ke meja perundingan secara bermakna. Kami belum melihat hal itu,” beber juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dalam wawancara dengan Fox News.
Baca Juga
AS Luncurkan “Operation Economic Outcast”, China Tak Luput dari Sanksi Iran
Di tengah kebuntuan tersebut, perdana menteri Qatar mengunjungi Teheran dalam upaya menghidupkan kembali pembicaraan diplomatik untuk mengakhiri perang AS-Israel dengan Iran. Kunjungan itu dilakukan menjelang enam bulan sejak konflik tersebut dimulai.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz masih terbatas. Selat strategis tersebut sebelumnya menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap hari sebelum konflik pecah pada akhir Februari.
Data Kpler menunjukkan arus kapal melalui Selat Hormuz sedikit membaik pada Rabu. Sebanyak 10 kapal komoditas melintasi jalur tersebut, meningkat dari level terendah sebelumnya, tetapi masih di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 15 kapal.
Beberapa kapal yang keluar dari selat tersebut antara lain kapal tanker bahan bakar berukuran menengah, kapal tanker aspal, dan kapal pengangkut curah.
Persediaan AS Tekan WTI
Kenaikan harga minyak tertahan oleh kondisi pasokan domestik AS yang relatif nyaman. Energy Information Administration (EIA) pada Rabu melaporkan kenaikan persediaan minyak mentah AS, termasuk peningkatan stok di pusat pengiriman Cushing, Oklahoma.
“Pelemahan WTI mencerminkan neraca minyak mentah AS yang semakin nyaman,” kata Irina Tsukerman, presiden konsultan risiko geopolitik Scarab Rising.
Sementara itu, AS dan Iran kembali saling melontarkan pernyataan keras terkait keputusan Washington meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Pada Senin, pemerintah AS mengumumkan apa yang disebutnya sebagai “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan langkah ekonomi tersebut dapat mengurangi kebutuhan untuk melakukan operasi militer besar baru.
Namun, Ebrahim Azizi, ketua Komite Keamanan Nasional parlemen Iran, menyebut sanksi tersebut sebagai tindakan “tidak manusiawi dan bermusuhan”, meskipun menurutnya efektivitas sanksi telah menurun.
Baca Juga
Tak Gentar Ancaman ‘Sanksi Keras’ AS, Iran Klaim Mampu Bertahan
Pasar kini menghadapi risiko baru apabila harapan terhadap kesepakatan diplomatik ternyata terlalu dini.
“Risiko terbesar saat ini adalah optimisme terhadap sebuah kesepakatan ternyata terlalu dini dan perundingan kembali mandek atau gagal. Hal itu akan dengan cepat memasukkan kembali premi risiko ke dalam harga,” kata Kepala Analis Pasar KCM Tim Waterer.
Priyanka Sachdeva, head of market insights Phillip Nova, mengatakan isu utama dalam konflik tersebut tetap program nuklir Iran yang kemungkinan tidak akan diselesaikan dalam waktu dekat.
“Iran juga memahami pentingnya posisi geografisnya dan daya tawar yang diberikan oleh Selat Hormuz, sehingga risiko ketidakpastian berkepanjangan tetap ada,” ujarnya.
Ketegangan geopolitik juga meningkat di kawasan lain setelah Rusia memperingatkan dapat menyerang target militer Inggris di dalam maupun luar Ukraina sebagai respons terhadap serangan Ukraina ke wilayah Rusia menggunakan rudal jelajah jarak jauh yang dipasok Inggris.
