Tak Mau Ketinggalan dari Exxon Mobil, Chevron Akuisisi Hess Corp Senilai Rp845,78 T
JAKARTA, Investortrust.id - Salah satu perusahaan energi raksasa yang berbasis di San Ramon, Amerika Serikat, Chevron, diberitakan tengah dalam proses mengakuisisi membeli Hess Corp senilai US$53 miliar, atau setara Rp845,78 triliun (kurs Rp15.943/dolar AS).
Hess Corporation dikenal juga dengan nama HESS adalah perusahaan asal Amerika Serikat yang sebelumnya bernama Amerada Hess. Ia bergerak di bidang eksplorasi, produksi, pengiriman dan penyulingan minyak dan gas bumi. Area operasi perusahaan ini berawal di Amerika Serikat dan berekspansi ke seluruh dunia termasuk Indonesia.
AP seperti dikutip CNBCNews menyebut akuisisi ini tampaknya bukanlah akuisisi perusahaan migas terbesar. Pasalnya dengan kondisi harga minyak yang melambung pasca serangan Rusia ke Ukraina, para produsen minyak dan gas global memang tengah memiliki kelebihan dana, dan mencari tempat untuk investasi.
Baca Juga
Harga minyak mentah naik tajam pada awal tahun 2022 sejak invasi Rusia ke Ukraina dan kini berada di sekitar US$90 per barel setelah naik 9% tahun ini.
Transaksi Chevron-Hess terjadi kurang dari dua pekan setelah Exxon Mobil mengumumkan bahwa mereka akan mengakuisisi Pioneer Natural Resources senilai US$ 60 miliar atau setara Rp956,58 triliun.
Selain tekanan harga, kas perusahaan migas makin menggelembung akibat pemotongan produksi minyak dari Arab Saudi dan Rusia, plus perang antara Israel dan Hamas. Meskipun serangan terhadap Israel tidak mengganggu pasokan minyak global, menurut analisis Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat, "kondisi ini meningkatkan potensi gangguan pasokan minyak dan kenaikan harga minyak."
Baca Juga
Berkurangnya Stok AS dan Ketegangan di Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Minyak
Pihak Chevron pada Senin (23/10/2023) menyampaikan bahwa akuisisi Hess akan menambah koleksi ladang minyak utamanya di Guyana, serta cadangan shale gas di Blok Bakken di North Dakota. Guyana adalah negara di Amerika Selatan dengan jumlah penduduk sekitar 791.000 orang, yang berpotensi menjadi produsen minyak lepas pantai terbesar keempat di dunia, melebihi Qatar, Amerika Serikat, Meksiko, dan Norwegia.
Negara ini telah menjadi produsen utama minyak mentah dalam beberapa tahun terakhir, dengan sejumlah raksasa migas seperti Exxon Mobil, CNOOC China, dan juga Hess bersaing sengit untuk mendapatkan konsesi ladang minyak.
"Kombinasi ini sejalan dengan tujuan kami memberikan return yang lebih tinggi dan emisi karbon yang lebih rendah," kata Chairman dan CEO Chevron, Mike Wirth, dalam pernyataannya. "Selain itu, akuisisi Hess akan meningkatkan proyeksi produksi dan laju pertumbuhan arus kas Chevron selama lima tahun ke depan, dan diharapkan akan memperpanjang profil pertumbuhan kami ke dekade berikutnya. Sekaligus mendukung rencana kami untuk meningkatkan pertumbuhan dividen tertinggi di kelasnya,” tutur Wirth.
Baca Juga
Ketegangan Geopolitik Meningkat, Harga Minyak Melonjak Hampir 6%
Chevron membayar akuisisi Hess dengan saham. Pemegang saham Hess akan menerima 1,0250 saham Chevron untuk setiap saham Hess yang mereka miliki. Sementara itu jika dihitung dengan utang Hess, maka nilai kesepakatan Chevron dengan Hess mencapai nilai US$ 60 miliar.
Manajemen Chevron mengatakan bahwa transaksi ini akan membantu meningkatkan besaran dana yang bisa diberikan kembali kepada pemegang saham. Perusahaan berharap pada Januari 2024 bisa merekomendasikan peningkatan dividen kuartal pertama sebesar 8% menjadi US$1,63 per lembar saham. Perusahaan juga memperkirakan dapat meningkatkan buy back saham sebesar US$2,5 miliar dari batas atas acuan tahunan yangsebesar US$20 miliar setelah menyelesaikan transaksi.
Dewan direksi Chevron dan Hess telah menyetujui kesepakatan yang diumumkan pada hari ini, Senin (23/10/2023) setelah enam bulan masa negosiasi. Transaksi diperkirakan akan closing pada paruh pertama tahun 2024, kendati masih memerlukan persetujuan dari pemegang saham Hess.
John Hess, CEO Hess Corp diperkirakan akan bergabung di dewan direksi Chevron.
Sementara itu saham Chevron Corp sempat turun lebih dari 2% sebelum opening bell pada perdagangan hari Senin.

