Para Petinggi SKK Migas Sambangi Exxon Mobil, Pertamina EP, dan Tangguh LNG, Ada Apa?
JAKARTA, investortrust.id – Menjelang tutup tahun, para petinggi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyambangi sejumlah lapangan migas jumbo, di antaranya PT Pertamina EP Cepu (PEPC) Zona 12 dan Exxon Mobil Cepu Limited (EMCL) di Bojonegoro, Jawa Timur, serta lapangan Tangguh LNG di Teluk Bintuni, Papua Barat.
Menurut Deputi Keuangan SKK Migas, Kurnia Chairi, kunjungan kerja ke lapangan migas jumbo dilakukan untuk memastikan produksi minyak nasional sesuai target. Tahun ini, produksi minyak dan gas masing-masing ditargetkan mencapai 1 juta barel per hari (bph) dan 12 miliar standar kaki kubik per hari (bscfd).
“Agenda spesifik dari kunjungan ini adalah memantau kegiatan lifting akhir tahun sebagai upaya mendukung target produksi industri hulu migas nasional,” kata Kurnia Chairi dalam keterangan resmi yang diterima investortrust.id di Jakarta, Sabtu (23/12/2023).
Kurnia Chairi mengapresiasi kinerja tim di lapangan gas Jambaran Tiung Biru (JTB). “Dengan upaya terbaik, JTB sudah dapat beroperasi secara penuh,” ujar Kurnia yang berkunjung ke Bojonegoro, Kamis (21/12/2023).
Baca Juga
SKK Migas Setujui Investasi Dua Proyek EOR di Wilayah Rokan Rp 5,18 Triliun
Kurnia menjelaskan, saat ini produksi gas dari wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) cukup besar. Karena itu, serapan dari kalangan pembeli (buyer) perlu disesuaikan.
“Memang di Jawa Timur ada kelebihan pasokan gas. Sudah bisa di-deliver secara penuh, namun kita menunggu permintaan buyer-nya," tutur Kurnia.
General Manager PEPC Zona 12, Mefredi mengungkapkan, proses 1 dan proses 2 yang menjadi bagian penting gas processing facility (GPF) telah beroperasi stabil sejak 3 November lalu. Selain itu, proses placed into service (PIS) JTB telah dikirimkan pada 14 Desember 2023.
"Mudah-mudahan semua proses dapat berjalan lancar, sehingga JTB dapat segera masuk ke fase normal operasi dan mendukung tercapainya ketahanan energi nasional," tegas dia.
Senior VP Production EMCL, Muhammad Nurdin menambahkan, di bawah pengawasan SKK Migas, EMCL sebagai kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) bersama PEPC dan badan kerja sama participating interest (PI) Blok Cepu bakal terus mengoptimalkan efektivitas, efisiensi, dan keselamatan kerja di Lapangan Banyu Urip.
"EMCL akan menempuh berbagai upaya untuk memenuhi target produksi yang ditetapkan pemerintah dengan mengoptimalkan produksi lapangan," ucap dia.
Baca Juga
Mantap! Hanya dalam Tempo 2 Hari, Forum SKK Migas Ini Bukukan Kontrak Rp 20,2 Triliun
Data SKK Migas menunjukkan, produksi JTB mencapai 120 MMSCFD, dengan kapasitas produksi sales gas sekitar 192 MMSCFD yang dialirkan sesuai serapan gas oleh para buyer. Selain gas, JTB menghasilkan kondensat yang disalurkan ke fasilitas di Banyu Urip milik EMCL, serta produk sampingan asam sulfat, gypsum dan Na2SO4.
“Serapan gas dari Jabanusa yang saat ini mengalami kelebihan pasok (over supply) akan semakin optimal jika pipa transmisi Cirebon-Semarang rampung tersambung,” kata Kurnia Chairi.
Kunjungi Teluk Bintuni
Sementara itu, Deputi Pengawas Internal SKK Migas, Irjen (Purn) Eko Indra Heri serta Kepala Divisi Produksi dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas, Bambang Prayoga pada 18-19 Desember 2023 mengunjungi lapangan Tangguh LNG di Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat.
Mereka melihat langsung lapangan Tangguh LNG, termasuk fasilitas Train 3 yang baru saja rampung dan diresmikan Presiden Jokowi pada 24 November 2023.
“Kunjungan ini dilakukan untuk memonitor dan memastikan keberlangsungan proses lifting di Tangguh LNG menjelang akhir tahun, termasuk persiapan lifting untuk diantarkan ke PLN FSRU Lampung,” papar Bambang Prayoga.
Baca Juga
Target Lifting Minyak 2023 Tak Tercapai, Menteri ESDM: Tahun Depan Dorong Gas Bumi
Tahun ini, menurut Bambang, lapangan Tangguh telah memproduksi dan mengirimkan 130 kargo kepada para pembeli di Asia dan Indonesia. Tangguh juga telah mengapalkan kargo LNG pertama dari Train 3 ke PLN pada 18 Oktober 2023. “Sebanyak 75% kargo Tangguh Train 3 dialokasikan untuk pasar domestik melalui PLN,” tutur dia.
Eko Indra Heri mengemukakan, Tangguh saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar sepertiga produksi gas nasional. “Itu sebabnya, keandalan operasional Tangguh, termasuk safety-nya, harus dijaga betul untuk memastikan kelancaran produksi,” tandas dia.
Berdasarkan catatan investortrust.id, dalam APBN 2023, asumsi lifting minyak ditetapkan 660.000 barel per hari (bph), sedangkan lifting gas bumi dipatok 1,1 juta barel setara minyak per hari (bsmph).
Hingga Oktober 2023, lifting minyak baru terealisasi sekitar 604.300 bph atau 91,6% dari asumsi APBN 2023. Dengan demikian, realisasi lifting minyak dalam APBN tahun ini diperkirakan tidak tercapai. Di sisi lain, realisasi lifting gas bumi diprediksi terlampaui.

