IMF Perkirakan Inflasi di Berbagai Belahan Dunia akan Menurun pada 2024
DAVOS, Investortrust.id - Tingkat inflasi di berbagai belahan dunia pada tahun 2023 menunjukkan tanda menggembirakan dan lebih terkendali.
Baca Juga
Dibayangi Konflik & Beban Utang, Ini Poin Penting Pertemuan IMF-Bank Dunia di Maroko
Di Amerika Serikat (AS), misalnya, inflasi CPI – yang mengukur perubahan harga sejumlah barang dan jasa – turun dari 6,5% pada Desember 2022 menjadi 3,4% pada Desember 2023.
Menurut Kristalina Georgieva, direktur pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), tren positif tersebut tampaknya akan terus berlanjut pada tahun 2024. “Tingkat inflasi rata-rata turun,” katanya dalam sebuah wawancara pada acara tahunan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) . Pertemuan yang berlangsung di Davos, Swiss, antara 15-19 Januari 2024, mengusung tema Rebuilding Trust.
Komentar Georgieva sejalan dengan pandangan Kepala Ekonom Forum Ekonomi Dunia terbaru, yang menemukan bahwa ekspektasi terhadap inflasi yang tinggi mulai berkurang di semua wilayah.
Meskipun hal ini merupakan kabar baik bagi para pemimpin di mana pun, Georgieva menekankan bahwa masih ada kesenjangan regional. “Apa yang kita miliki saat ini sangat beragam. Di beberapa negara, pekerjaan sudah selesai dan inflasi cukup rendah sehingga negara tersebut bisa menerapkan kebijakan moneter yang akomodatif. Brasil adalah salah satu contohnya. Dan di Asia, banyak negara yang awalnya tidak mengalami masalah inflasi.”
Di wilayah lain, para pembuat kebijakan masih harus menghadapi tantangan yang berat. “Bank sentral tidak boleh melakukan pengetatan sebelum waktunya karena mereka bisa kehilangan kemenangan yang kini ada di tangan mereka,” jelasnya.
“Tetapi jika mereka terlalu lambat, maka hal itu dapat berdampak buruk pada perekonomian.” Hal ini sejalan dengan saran yang diberikan IMF dalam Outlook Ekonomi bulan Oktober, yang memperingatkan bahwa terdapat “sedikit margin untuk kesalahan dalam kebijakan.”
Jadi meskipun trennya secara umum positif, Georgieva mengimbau para pembuat kebijakan di banyak negara untuk terus berhati-hati dan fokus pada data. “Amerika Serikat memiliki pasar tenaga kerja yang sangat ketat dan upah kini berada di atas inflasi. Maksudnya itu apa? Orang punya lebih banyak uang untuk dibelanjakan. Dan ketika mereka membelanjakan lebih banyak, hal itu memberikan tekanan pada kenaikan harga,” jelasnya. “Jadi jarak terakhir itu sangat, sangat rumit.”
Baca Juga
IMF Naikkan Perkiraan Pertumbuhan PDB Tiongkok Tahun 2023 Jadi 5,4%

