Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz, Perang Berlanjut, Ekonomi Iran Kian Tertekan
Poin Penting
|
WASHINGTON, investortrust.id — Perebutan kendali atas Selat Hormuz memasuki babak baru ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Washington kini memiliki “kendali penuh” atas jalur energi paling strategis di dunia tersebut dan bahkan mengisyaratkan Amerika Serikat mungkin akan mempertahankan penguasaan itu. Iran langsung membantah klaim tersebut dan menegaskan tidak satu pun kapal dapat melewati Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran. Perseteruan ini menunjukkan perang AS-Iran yang pecah sejak 28 Februari 2026 masih jauh dari penyelesaian, sementara tekanan ekonomi terhadap hampir 88 juta rakyat Iran terus membesar.
Dalam pernyataannya pada Rabu (12/08/2026), Trump mengklaim Amerika Serikat telah menguasai Selat Hormuz secara total. Melalui akun Truth Social, Trump bahkan menulis, “I THINK WE WILL KEEP IT”, atau “Saya pikir kita akan mempertahankannya.” Pernyataan tersebut dilaporkan CBS News dalam laporan Frank Andrews dan Duarte Dias yang diperbarui Kamis, 13 Agustus 2026 pukul 06.39 EDT. Namun, klaim Trump tidak berarti pelayaran melalui Hormuz telah kembali normal. Justru sebaliknya, jumlah kapal yang berani melintas masih sangat sedikit.
Mengutip data pelacakan kapal yang dilaporkan Reuters, CBS News menyebut hanya delapan kapal terpantau melewati Selat Hormuz, terendah dalam sepekan. Angka itu sangat jauh dibandingkan sekitar 130 kapal per hari sebelum perang dimulai 28 Februari 2026. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa siapa pun yang mengklaim menguasai Hormuz, fungsi ekonomi jalur tersebut belum pulih. Ketidakpastian keamanan membuat perusahaan pelayaran dan pemilik tanker tetap enggan mengambil risiko.
Baca Juga
Dibebani Saham Teknologi dan Ketidakpastian Hormuz, Wall Street Kembali Tertekan
Teheran memberikan versi yang bertolak belakang. Pada Kamis, 13 Agustus 2026, Kepala unit paramiliter Basij Iran Hossein Taeb mengatakan Selat Hormuz berada “di bawah kontrol dan pengelolaan Iran”. Pernyataan Taeb, yang diberitakan Reuters pada hari yang sama dengan mengutip kantor berita semi-resmi Fars, sekaligus menjadi bantahan langsung terhadap Trump. Militer Iran juga menyatakan kapal tidak dapat melewati jalur tersebut tanpa izin Teheran.
Dengan demikian, terdapat dua klaim penguasaan atas satu selat. Amerika Serikat mendasarkan posisinya pada kekuatan militernya dan upaya menjamin pelayaran kapal non-Iran, sedangkan Iran mempertahankan kemampuan militernya untuk menghalangi lalu lintas kapal. Reuters melaporkan ketegangan mengenai penguasaan Hormuz meningkat setelah serangan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 mendorong Teheran menutup jalur tersebut. Amerika Serikat kemudian memberlakukan blokade laut dan menyatakan akan menjamin kebebasan navigasi bagi kapal-kapal non-Iran.
Persoalannya, Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran regional. IMF pada 15 Juli 2026 memperkirakan penutupan efektif Hormuz telah menghilangkan sekitar 20 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak dari jalur normal perdagangan—setara sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Sebagian pasokan memang dialihkan melalui jalur alternatif, termasuk jaringan pipa Arab Saudi menuju Laut Merah, tetapi kapasitas alternatif tidak cukup untuk sepenuhnya menggantikan Hormuz.
Perang Belum Berakhir
Perebutan Hormuz sekaligus memperlihatkan rapuhnya upaya mengakhiri perang. AS dan Iran sebenarnya sempat mencapai kesepahaman sementara pada Juni 2026 mengenai jalan menuju penghentian konflik. Namun, Reuters melaporkan kesepakatan sementara itu kemudian runtuh setelah Iran kembali menyerang kapal-kapal yang dianggap melanggar ketentuan dan AS melancarkan serangan balasan. Teheran kini bersikeras Hormuz hanya akan dibuka kembali apabila ketentuan kesepakatan sebelumnya dipenuhi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Kamis (13/8/2026), juga memperingatkan Washington agar tidak melakukan salah perhitungan baru mengenai Hormuz. Menurut Araghchi, Amerika Serikat sebelumnya telah salah memperhitungkan perang akibat kegagalan intelijen dan berisiko melakukan kesalahan yang lebih besar jika menganggap Iran telah kehilangan kemampuan mengendalikan jalur tersebut.
Konflik pun telah meluas melampaui wilayah Iran dan Teluk Persia. CBS News pada 13 Agustus 2026 melaporkan enam orang di sebuah kapal di Laut Merah tewas akibat serangan kelompok Houthi yang didukung Iran. Artinya, ancaman terhadap pelayaran internasional kini tidak hanya terkonsentrasi di Hormuz, tetapi juga menjalar ke jalur Laut Merah.
Ekonomi Iran Terpukul, Inflasi Diproyeksikan 68,9%
Di balik pertarungan militer dan perebutan Hormuz, tekanan paling berat akhirnya ditanggung masyarakat Iran. Data terbaru International Monetary Fund (IMF) menunjukkan ekonomi Iran diproyeksikan mengalami kontraksi 5,4% sepanjang 2026. IMF juga memperkirakan inflasi harga konsumen Iran mencapai 68,9%, sedangkan tingkat pengangguran sekitar 9,2%. Dengan populasi sekitar 87,9 juta jiwa, kombinasi resesi, inflasi sangat tinggi dan pengangguran tersebut berarti tekanan besar terhadap pendapatan riil dan daya beli rumah tangga.
IMF dalam World Economic Outlook Update yang dirilis 8 Juli 2026 bahkan merevisi proyeksi pertumbuhan Iran menjadi minus 5,4%. Angka tersebut sebenarnya sedikit lebih baik dibandingkan proyeksi April karena ekspor minyak Iran pada Maret dan April ternyata lebih kuat dari perkiraan dan terdapat pelonggaran tertentu terhadap pembatasan ekspor. Namun, secara keseluruhan perekonomian Iran tetap mengalami kontraksi dalam.
Inflasi mendekati 70% memberikan gambaran lebih konkret mengenai beban yang dipikul rakyat Iran. Ketika harga barang dan jasa meningkat sedemikian cepat, nilai riil pendapatan dan tabungan masyarakat tergerus. Kenaikan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari terutama memukul kelompok berpendapatan rendah yang mengalokasikan bagian terbesar pendapatannya untuk konsumsi dasar. Dengan ekonomi menyusut 5,4%, ruang perusahaan menciptakan pekerjaan dan menaikkan upah juga semakin terbatas.
Perang memperberat masalah ekonomi Iran yang sebelumnya telah lama menghadapi sanksi internasional dan berbagai pembatasan perdagangan serta keuangan. Di satu sisi, posisi Iran di Hormuz memberikan Teheran instrumen strategis untuk menekan lawannya. Di sisi lain, gangguan perdagangan energi dan perang berkepanjangan juga memukul aktivitas ekonomi Iran sendiri. Karena itu, Hormuz merupakan senjata geopolitik bagi Teheran sekaligus pedang bermata dua bagi perekonomian Iran.
Sama-sama Mengklaim Hormuz
Situasi hingga 13 Agustus 2026 akhirnya menghadirkan paradoks besar. Trump mengatakan Amerika Serikat mempunyai “total control” atas Hormuz dan bahkan mempertimbangkan untuk mempertahankannya. Iran mengatakan justru Teheran yang mengendalikan dan mengelola selat tersebut. Tetapi data lalu lintas kapal memberikan gambaran yang lebih objektif: pelayaran masih jauh di bawah kondisi normal.
Baca Juga
Iran Perketat Syarat Pembukaan Hormuz, Harga Minyak Kembali Melonjak
Bagi pasar global, karena itu persoalan terpenting bukan semata-mata siapa yang secara politik mengklaim menguasai Hormuz, melainkan siapa yang mampu menjamin kapal tanker dapat melintas dengan aman dan perdagangan energi kembali mendekati kondisi sebelum perang.
IMF sebelumnya mengasumsikan Hormuz mulai dibuka secara bertahap pada pertengahan Juli 2026 dan kondisi baru kembali normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Namun, IMF memperingatkan eskalasi baru dapat kembali memicu volatilitas harga komoditas, memperketat kondisi keuangan dan meningkatkan tekanan inflasi dunia.
Bagi rakyat Iran, konsekuensinya bahkan lebih langsung. Selama perang berlanjut, sanksi dan hambatan perdagangan bertahan, serta inflasi tetap sangat tinggi, perebutan kendali atas Selat Hormuz bukan hanya persoalan supremasi militer antara Washington dan Teheran. Di balik klaim siapa menguasai jalur minyak dunia itu, terdapat hampir 88 juta rakyat Iran yang harus menghadapi ekonomi yang diproyeksikan menyusut 5,4% dan inflasi mendekati 70% pada tahun ini. (Sumber: CBS News/IMF/sumber lain)

