Trump Ancam Tembak Kapal Iran dan Klaim Kendalikan Selat Hormuz
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id — Ketegangan di Selat Hormuz mencapai titik kritis baru setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memerintahkan militernya untuk “menembak dan membunuh” kapal Iran yang memasang ranjau di jalur pelayaran paling strategis dunia tersebut. Ancaman ini mempertegas bahwa konflik AS–Iran kini memasuki fase konfrontasi terbuka, tidak hanya militer tetapi juga ekonomi dan kontrol jalur energi global.
Mengutip laporan BBC yang diperbarui pada Kamis, 23 April 2026 pukul 11.31 EDT (22.31 WIB), Trump menyatakan Amerika Serikat memiliki “kendali penuh” atas Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan operasi militer yang semakin agresif, termasuk aksi Departemen Pertahanan AS yang menaiki kapal tanker tanpa kewarganegaraan yang membawa minyak Iran di Samudra Hindia pada 22 April 2026 waktu setempat.
Baca Juga
Demi Blokade Selat Hormuz, Hegseth Angkat Bos Angkatan Laut yang Lebih Berpengalaman
Namun di sisi lain, Iran juga menunjukkan kekuatan dan kontrolnya di lapangan. Teheran mengklaim telah mulai menerima pendapatan dari pungutan kapal yang melintas di Selat Hormuz meski klaim ini belum diverifikasi secara independen. Bahkan sehari sebelumnya, 22 April 2026, Iran dilaporkan menyerang tiga kapal kargo dan menyita dua di antaranya di perairan strategis tersebut.
Laporan media internasional menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini menjadi titik kunci perebutan pengaruh antara kedua negara. Iran secara terbuka memastikan kontrolnya dengan menyita kapal-kapal dagang dan tetap mampu menyalurkan ekspor minyak, meskipun berada di bawah tekanan blokade AS. Sementara itu, Amerika Serikat terus memperketat blokade laut sejak 13 April 2026, dengan mencegat puluhan kapal yang terkait dengan Iran.
Dalam perkembangan sebelumnya, militer Iran bahkan menyatakan telah menempatkan Selat Hormuz di bawah “kendali ketat” sejak 18 April 2026, sebagai respons atas blokade AS. Iran juga menerapkan taktik asimetris seperti ranjau laut, drone, dan penyitaan kapal untuk membatasi pergerakan armada lawan.
Secara faktual, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa tidak ada satu pihak yang sepenuhnya menguasai Selat Hormuz. Namun, jika dilihat dari karakter kontrol, terlihat bahwa Iran unggul dalam “kontrol taktis lapangan”. Iran mampu mengganggu lalu lintas kapal, menyita vessel, memasang ranjau, dan menentukan siapa yang boleh melintas. Bahkan, dalam beberapa fase konflik, Iran secara efektif menutup atau membatasi selat.
Sedang Amerika Serikat unggul dalam “kontrol militer strategis”. AS memiliki superioritas armada laut, kemampuan proyeksi kekuatan, serta operasi blokade yang mampu menekan ekspor minyak Iran dan mengintersepsi kapal di luar selat.
Baca Juga
Artinya, Selat Hormuz kini berada dalam kondisi “kontrol terfragmentasi”: Iran menguasai secara langsung di dalam selat (area choke point), sementara AS mengendalikan tekanan dari luar melalui blokade dan dominasi militer.
Situasi ini menciptakan kondisi paling berbahaya dalam geopolitik energi global: jalur vital dunia dikendalikan oleh dua kekuatan yang saling berhadapan tanpa dominasi absolut. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati selat ini, sehingga setiap eskalasi langsung memicu lonjakan harga energi dan ketidakpastian pasar global.
Informasi senada juga dilaporkan Reuters dan CNBC, yang mencatat bahwa konflik di Selat Hormuz telah kembali mendorong harga minyak naik akibat risiko gangguan pasokan. Ketidakpastian ini diperparah oleh belum adanya tenggat waktu jelas untuk mengakhiri perang maupun gencatan senjata.
Dengan ancaman tembak langsung, penyitaan kapal, hingga perang ekonomi melalui blokade dan pungutan, Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur perdagangan—melainkan arena utama perebutan kekuatan global. Dan untuk saat ini, bukan siapa yang menang, tetapi siapa yang mampu bertahan lebih lama dalam perang tekanan yang akan menentukan arah konflik ke depan.

