Wall Street Melemah Dipicu Kebuntuan Negosiasi AS-Iran dan Lonjakan Harga Minyak
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham AS melemah pada perdagangan Senin waktu AS atau Selasa (11/8/2026) WIB. Indeks S&P 500 turun tipis 0,06% menjadi 7.753,11. Nasdaq Composite melemah 0,32% ke 26.605,36, sedangkan Dow Jones Industrial Average turun 60,95 poin atau 0,11% menjadi 53.975,98.
Baca Juga
Wall Street Menguat Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS, Indeks S&P 500 Cetak Rekor Baru
Pasar semakin ragu bahwa Amerika Serikat dan Iran akan segera mencapai penyelesaian jangka panjang atas konflik yang telah mengganggu pasar energi global.
Tekanan terhadap pasar saham terjadi bersamaan dengan lonjakan harga minyak. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 5,1% menjadi US$82,13 per barel. Brent, patokan internasional, melaju sekitar 5% menjadi US$87,72 per barel.
Kenaikan harga minyak mencerminkan kembali meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek pembukaan Selat Hormuz dan keberlanjutan negosiasi antara Washington dan Teheran.
Iran sebelumnya menyatakan semakin dekat dengan kesepakatan bersama Oman untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Teheran masih menolak negosiasi langsung dengan Washington sebelum sejumlah persyaratan dipenuhi.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu mengatakan tidak ada kemungkinan dimulainya kembali perundingan selama Amerika Serikat masih dianggap melanggar nota kesepahaman Juni dan belum memberikan kompensasi atas pelanggaran tersebut.
Baca Juga
Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Pernyataan itu bertolak belakang dengan sinyal yang muncul dari Washington pada pekan sebelumnya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memberikan indikasi kuat bahwa kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz dapat segera tercapai.
Namun, Presiden Donald Trump mengatakan kepada Axios pada Minggu bahwa Amerika Serikat hanya "semi-bernegosiasi" dengan Iran dan masih ingin memberikan tekanan ekonomi kepada negara tersebut.
Perbedaan sikap tersebut kembali meningkatkan ketidakpastian di pasar minyak. Investor kini harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa gangguan pasokan energi melalui Selat Hormuz berlangsung lebih lama dari perkiraan.
“Investor mulai lelah dengan ketidakpastian yang terus berulang,” ujar Zachary Hill, kepala manajemen portofolio Horizon Investments, dikutip CNBC.
Namun, menurut dia, setiap eskalasi baru di Timur Tengah sejauh ini cenderung memiliki dampak lebih kecil dibandingkan gejolak sebelumnya. Kondisi tersebut, ditambah fundamental perusahaan yang masih kuat selama musim laporan keuangan, membantu membatasi tekanan terhadap pasar saham.
Sektor teknologi menjadi salah satu sumber tekanan utama. Saham Intel anjlok sekitar 4% setelah perusahaan mengumumkan rencana penawaran saham biasa senilai US$15 miliar.
Nvidia dan Apple juga melemah masing-masing 2,9% dan 1,5%.
Meski perdagangan Senin berlangsung hati-hati, tiga indeks utama AS masih mencatat kinerja mingguan terbaik sejak April pada pekan sebelumnya. S&P 500 bahkan menutup perdagangan Jumat di rekor tertinggi.
Sentimen positif sebelumnya didukung laporan ketenagakerjaan AS yang menunjukkan kontraksi tidak terduga pada nonfarm payrolls Juli. Data tersebut meningkatkan harapan investor bahwa Federal Reserve tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Pasar berjangka Fed kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September hampir 52%, turun dari sekitar 67% sepekan sebelumnya.
Dengan demikian, arah Wall Street dalam jangka pendek masih akan ditentukan oleh dua kekuatan yang saling berlawanan: ekspektasi kebijakan moneter AS dan perkembangan konflik Iran, khususnya kepastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz.
Bagi pasar, keberhasilan membuka kembali jalur pelayaran tersebut dapat meredakan tekanan harga energi. Sebaliknya, kegagalan mencapai kesepakatan berpotensi kembali mendorong harga minyak dan memperbesar risiko inflasi global.

