Bagikan

Wall Street Ambruk Dipicu Ketidakpastian Konflik Iran dan Lonjakan Harga Minyak, Saham Teknologi Rontok

Poin Penting

Indeks utama AS melemah setelah sebelumnya mencetak rekor intraday baru.
Saham perangkat lunak terpukul, dipimpin oleh penurunan tajam IBM dan ServiceNow.
Harga minyak melonjak di atas US$105 per barel akibat eskalasi geopolitik.
Ketegangan AS-Iran meningkat, termasuk ancaman militer di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasar.

NEW YORK, investortrust.id - Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu AS atau Jumat (24/4/2026) WIB. Saham sektor perangkat lunak anjlok dan lonjakan harga minyak memperburuk sentimen pasar di tengah ketidakpastian konflik Iran.

Indeks S&P 500 turun 0,41% ke level 7.108,40, setelah sempat mencetak rekor intraday baru. Indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite merosot 0,89% ke 24.438,50, juga sebelumnya menyentuh level tertinggi sepanjang masa. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average terkoreksi 179,71 poin atau 0,36% ke posisi 49.310,32.

Baca Juga

Trump Ancam Tembak Kapal Iran dan Klaim Kendalikan Selat Hormuz

Tekanan terbesar datang dari sektor teknologi, khususnya saham perangkat lunak. IBM anjlok lebih dari 8% meski melampaui ekspektasi laba dan pendapatan, karena perusahaan mempertahankan proyeksi tahunan yang dinilai kurang agresif oleh investor. Sementara ServiceNow terpuruk hampir 18% akibat pertumbuhan pendapatan langganan yang terhambat konflik Timur Tengah.

Sentimen negatif merembet ke saham teknologi lain. Microsoft turun sekitar 4%, Palantir Technologies melemah lebih dari 7%, dan Oracle terkoreksi sekitar 6%. Bahkan ETF sektor perangkat lunak, iShares Expanded Tech-Software Sector ETF (IGV), jatuh sekitar 6%.

Chris Kampitsis dari Barnum Financial Group mengatakan pasar kini sedang mencari arah setelah reli kuat sejak Maret. “Kami memperkirakan pasar akan bergerak dalam rentang terbatas dalam waktu dekat sambil menunggu katalis berikutnya,” ujarnya, seperti dikutip CNBC.

Di sisi geopolitik, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali membayangi pasar. Ketegangan kini meningkat menjadi kebuntuan militer di laut, dengan kedua negara memperebutkan kendali atas Selat Hormuz dan dilaporkan telah menyita kapal komersial dalam sepekan terakhir.

Presiden Donald Trump bahkan memerintahkan angkatan laut untuk “menembak dan menghancurkan” kapal yang menanam ranjau di selat tersebut, menandakan eskalasi serius di perpanjangan tengah gencatan senjata yang masih rapuh.

Harga minyak pun melonjak. Minyak mentah Brent ditutup di atas US$105 per barel setelah laporan media Israel menyebut Ketua Parlemen Iran mundur dari tim negosiasi, memicu kekhawatiran meningkatnya pengaruh Garda Revolusi Iran—meski laporan ini belum dikonfirmasi.

Baca Juga

Minyak Brent Tembus US$ 105 Akibat Blokade Selat Hormuz dan Ketegangan di Timur Tengah

Selain itu, laporan menyebut sistem pertahanan udara di Teheran aktif menghadapi target yang dianggap bermusuhan, menambah kekhawatiran eskalasi konflik lebih lanjut.

Trump sebelumnya menyatakan perpanjangan gencatan senjata diperlukan karena pemerintahan Iran dinilai “terpecah secara serius,” namun perkembangan terbaru menunjukkan situasi masih jauh dari stabil.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024