Wall Street Mayoritas Melemah, Lonjakan Inflasi dan Harga Minyak Tekan Pasar
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat ditutup mixed pada perdagangan Selasa waktu AS atau Rabu (13/5/2026) WIB. Lonjakan inflasi dan kenaikan harga minyak memicu aksi jual pada saham-saham teknologi yang sebelumnya memimpin reli pasar.
Indeks S&P 500 turun 0,16% dan ditutup di level 7.400,96, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,71% menjadi 26.088,20. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat tipis 56,09 poin atau 0,11% ke level 49.760,56.
Baca Juga
Pesta Rekor di Wall Street Berlanjut, S&P 500 Tembus 7.400 Pertama Kali
Tekanan terbesar datang dari saham sektor semikonduktor yang sebelumnya mengalami reli tajam. Micron Technology yang pada Senin lalu menjadi pendorong utama rekor baru S&P 500 dan Nasdaq, berbalik turun 3,6%. Saham Micron sebelumnya melonjak lebih dari 37% pekan lalu dan sekitar 53% dalam sebulan terakhir seiring reli industri chip memori.
Sementara itu, Advanced Micro Devices atau AMD turun 2%, sedangkan Qualcomm anjlok 11%. Pada April lalu, saham AMD tercatat melonjak lebih dari 74%, sedangkan Qualcomm naik sekitar 39%.
Di pasar energi, harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,19% menjadi US$102,18 per barel. Minyak Brent juga naik 3,42% ke level US$107,77 per barel.
Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga minyak setelah Presiden Donald Trump menyebut gencatan senjata antara AS dan Iran yang telah berlangsung sebulan berada dalam kondisi “sangat rapuh”.
Trump juga menolak proposal balasan Iran untuk mengakhiri perang. Dalam proposal terbarunya, Iran meminta kompensasi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pencabutan sanksi ekonomi.
Lonjakan harga energi membuat investor semakin khawatir terhadap dampaknya terhadap inflasi dan belanja konsumen AS, yang menyumbang hampir dua pertiga perekonomian negara tersebut.
Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) AS naik 0,6% pada April, sehingga inflasi tahunan mencapai 3,8%, tertinggi sejak Mei 2023. Ekonom yang disurvei Dow Jones sebelumnya memperkirakan inflasi tahunan hanya 3,7%.
Baca Juga
Inflasi AS April Melonjak 3,8% YoY, Harga Energi Jadi Biang Kerok
Manajer portofolio senior Globalt Investments, Thomas Martin, mengatakan inflasi kemungkinan akan terus meningkat selama konflik Timur Tengah belum menemukan titik terang. “Ini memang belum seperti longsoran besar, tetapi kenaikannya berlangsung terus-menerus,” ujarnya kepada CNBC.
Menurut Martin, harga bensin dan berbagai kebutuhan lain yang terus meningkat akan semakin menekan daya beli masyarakat.
“Semakin lama konflik berlangsung tanpa kemajuan negosiasi antara AS dan Iran, semakin berat tekanan terhadap konsumen,” katanya.

