Cadangan Minyak Strategis AS Menyusut di Bawah 300 Juta Barel, Terendah Sejak 1983
Poin Penting
|
WASHINGTON DC, investortrust.id - Cadangan minyak mentah AS dalam Strategic Petroleum Reserve (SPR) turun di bawah 300 juta barel, pertama kalinya dalam lebih dari empat dekade. Penurunan cadangan minyak itu terjadi ketika persediaan minyak global masih berada di bawah tekanan akibat perang Iran dan gangguan pasokan melalui Selat Hormuz.
Baca Juga
Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Data Departemen Energi AS yang dirilis Senin (10/8/2026) menunjukkan persediaan SPR berkurang 6,1 juta barel dalam sepekan menjadi 298,7 juta barel. Posisi tersebut merupakan level terendah sejak Januari 1983.
SPR dibentuk pada 1975 sebagai cadangan strategis untuk menghadapi gangguan besar terhadap pasokan energi AS. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas penyimpanan resmi hingga 714 juta barel.
Penurunan stok semakin tajam setelah Presiden Donald Trump pada Maret memerintahkan pelepasan 172 juta barel menyusul terhentinya ekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat perang dengan Iran. Gangguan tersebut menjadi salah satu disrupsi pasokan minyak mentah terbesar dalam sejarah.
Sebelum Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari, persediaan SPR berada di sekitar 415 juta barel. Setelah seluruh pelepasan yang diperintahkan Trump selesai, stok pemerintah AS diperkirakan turun menjadi sekitar 243 juta barel.
Meski demikian, kondisi tersebut belum berarti cadangan minyak AS berada di ambang habis. David Goldwyn, mantan utusan khusus Departemen Luar Negeri AS untuk urusan energi internasional pada era Presiden Barack Obama, mengatakan masih terdapat cukup minyak untuk melakukan pelepasan tambahan apabila diperlukan.
"Saya tidak khawatir terhadap stabilitas cadangan ataupun kemampuan kami untuk melakukan penarikan lagi jika memang diperlukan," kata Goldwyn kepada CNBC.
Departemen Energi sebelumnya menyatakan jumlah minyak minimum yang dibutuhkan agar SPR dapat beroperasi secara aman berada di sekitar 70 juta barel.
Baca Juga
Redam Krisis Energi Akibat Perang Iran, AS Lepas 172 Juta Barel Minyak dari Cadangan Strategis
Namun, persoalan tidak hanya terletak pada jumlah minyak yang tersimpan. Kemampuan SPR untuk mengeluarkan minyak juga menghadapi risiko akibat infrastruktur yang menua.
Laporan Government Accountability Office (GAO) pada Mei menyebut lebih dari seperempat persediaan SPR tidak dapat ditarik per Desember 2025. Kondisi tersebut disebabkan oleh kombinasi penghentian operasi untuk konstruksi dan gangguan pada fasilitas penyimpanan bawah tanah.
Analisis Rapidan Energy pada Juli memperkirakan sedikitnya 103 juta barel dari persediaan SPR saat ini tidak tersedia untuk digunakan.
"Fasilitas penarikan, distribusi dan pengisian kembali SPR saat ini terbatas dan menghadapi risiko ke depan akibat persoalan infrastruktur yang telah berlangsung lama," demikian peringatan GAO.
Tekanan terhadap SPR juga meningkat karena pemerintah AS semakin sering menggunakan cadangan strategis tersebut untuk meredam gejolak pasar energi.
Pada awal 2022, Presiden Joe Biden memerintahkan pelepasan 180 juta barel setelah invasi Rusia ke Ukraina. Langkah itu menjadi pelepasan terbesar dalam sejarah SPR.
GAO menyebut pelepasan minyak pada masa perang Ukraina sebagai "uji tekanan yang tidak direncanakan" bagi sistem cadangan strategis AS.
Menurut Goldwyn, penggunaan SPR secara intensif juga dapat mempercepat penurunan kondisi sumur dan peralatan.
"Ketika Anda melakukan penarikan, Anda mempercepat degradasi sumur dan peralatannya. Sama seperti hal lainnya, semakin sering digunakan, semakin besar kebutuhan pemeliharaannya," ujarnya.
Dengan stok yang kini berada di bawah 300 juta barel dan kemampuan operasional yang menghadapi persoalan infrastruktur, ruang gerak Washington untuk menggunakan SPR sebagai penyangga ketika terjadi gangguan pasokan minyak menjadi perhatian pasar energi global.

