S&P 500 Futures Bergerak ‘Flat’, Ketidakpastian Hormuz Bayangi Bursa AS
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak relatif datar pada perdagangan berjangka Minggu (9/8/2026) malam waktu setempat. Investor menunggu kepastian mengenai kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Selain itu, pasar juga mencermati sejumlah data inflasi yang akan dirilis pekan ini.
Baca Juga
Pembukaan Hormuz Masih ‘Simpang Siur’, Iran Bantah Negosiasi Langsung dengan AS
Kontrak berjangka S&P 500 turun sekitar 0,1%. Nasdaq-100 futures naik 0,1%, sedangkan Dow Jones Industrial Average futures melemah sekitar 0,2%.
Sentimen investor kembali berhati-hati setelah Iran membantah melakukan negosiasi langsung dengan Washington mengenai pembukaan Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut mengurangi optimisme yang sebelumnya muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kesepakatan mengenai kebebasan pelayaran di Selat Hormuz berpotensi tercapai dalam waktu dekat.
Presiden Donald Trump kemudian mengatakan kepada Axios bahwa AS hanya melakukan “semi-negosiasi” dengan Iran. Trump juga menegaskan Washington ingin memberikan tekanan ekonomi kepada Teheran.
Perubahan ekspektasi tersebut turut memengaruhi pasar minyak. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 1% pada Minggu malam ke atas US$79 per barel.
Pada perdagangan Jumat, Brent naik lebih dari 1% menjadi US$83,55 per barel, sedangkan WTI bertambah sekitar 1% menjadi US$78,18 per barel. Meski demikian, kedua kontrak tersebut masih mencatat penurunan lebih dari 7% sepanjang pekan.
Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz juga masih terganggu. Menurut perusahaan intelijen perdagangan Kpler, jumlah kapal yang melintas pada Jumat turun 33% dibandingkan hari sebelumnya. Sebagian besar kapal menggunakan jalur melalui perairan Iran.
The Fed Menahan Diri?
Meski dibayangi ketidakpastian geopolitik, indeks-indeks utama Wall Street baru saja mencatat pekan terbaik sejak April. S&P 500 bahkan menutup perdagangan pekan lalu pada rekor tertinggi sepanjang masa.
Baca Juga
Wall Street Menguat Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS, Indeks S&P 500 Cetak Rekor Baru
Salah satu pendorong penguatan saham adalah laporan ketenagakerjaan AS bulan Juli yang menunjukkan kontraksi tak terduga dalam nonfarm payrolls. Data tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) mungkin menahan diri dari kenaikan suku bunga pada September.
Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September sekitar 44%, turun tajam dari 67% sepekan sebelumnya.
“Pasar saham kemungkinan menyambut implikasi dovish dari laporan ketenagakerjaan,” ujar Peter Graf, chief investment officer Amova Asset Management Americas, dikutip CNBC.
Namun, dia mengingatkan investor untuk tetap berhati-hati terhadap prospek pertumbuhan ekonomi apabila semakin sedikit orang yang bekerja.
Inflasi Jadi Fokus
Setelah data ketenagakerjaan, perhatian investor beralih ke data inflasi.
Data indeks harga konsumen (CPI) dan indeks harga produsen (PPI) AS akan dirilis pekan ini. Kedua indikator tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan moneter The Fed.
Pasar saat ini menghadapi dilema. Data ketenagakerjaan yang lebih lemah dapat meningkatkan harapan penurunan suku bunga, tetapi lonjakan harga energi akibat gangguan Selat Hormuz berpotensi kembali mendorong inflasi.
Kondisi tersebut membuat perkembangan geopolitik dan data ekonomi menjadi dua faktor yang saling berkaitan bagi pasar.
Jika Selat Hormuz tetap terganggu, harga minyak berpotensi kembali meningkat dan memperbesar tekanan inflasi. Sebaliknya, kesepakatan yang menjamin kebebasan navigasi dapat mengurangi premi risiko energi dan memberi ruang bagi pasar saham untuk melanjutkan reli.
Selain inflasi dan perkembangan Iran, investor juga akan mencermati laporan keuangan sejumlah perusahaan pekan ini, termasuk On Holding, Cava Group, Super Micro dan CoreWeave.
Dengan demikian, Wall Street memasuki pekan baru dengan tiga perhatian utama, yaitu selat Hormuz, arah suku bunga The Fed, dan inflasi AS.

