Penembakan Massal di Sekolah Nonthaburi Thailand Tewaskan 7 Orang
Poin Penting
|
BANGKOK, Investortrust.id -- Keluarga korban penembakan massal di sebuah sekolah menengah atas dan sebuah rumah di luar kota Bangkok mulai mengambil jenazah orang-orang yang mereka cintai pada hari Sabtu (8/8/2026). Proses pengambilan ini dilakukan sehari setelah seorang remaja bersenjata berusia 14 tahun melepaskan tembakan dan menewaskan sedikitnya tujuh orang sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Peristiwa tragis ini bermula pada Jumat (7/8/2026) pagi ketika pelaku diduga terlebih dahulu membunuh kedua kakek-neneknya di rumah keluarga mereka. Setelah itu, sekitar pukul 10 pagi, siswa sekolah tersebut mendatangi Sekolah Debsirin Nonthaburi di provinsi Nonthaburi, wilayah barat laut Bangkok, lalu melepaskan tembakan secara membabi buta. Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa delapan jenazah yang terdiri dari lima staf sekolah, terduga pelaku, serta kedua kakek-neneknya telah dievakuasi dari Institut Kedokteran Forensik Bangkok pada Sabtu siang menggunakan ambulans untuk dibawa ke kampung halaman masing-masing guna menjalani ritual pemakaman.
Kepala Institut Kedokteran Forensik Bangkok, Wiroon Supasingsiripreecha, menjelaskan bahwa sebagian besar korban meninggal akibat luka tembak tunggal di area vital seperti dada atau kepala. Wiroon juga menambahkan bahwa luka tembak yang ditemukan pada tubuh terduga pelaku sangat konsisten dengan senjata yang digunakannya. Meski demikian, hasil forensik yang lebih terperinci termasuk hasil toksikologi masih harus menunggu pemeriksaan lanjutan. Berdasarkan keterangan resmi pejabat setempat, senjata berukuran kecil dan kompak yang digunakan dalam aksi tersebut terdaftar secara hukum atas nama kakek pelaku.
Baca Juga
Penembakan Massal di Pantai Bondi Sydney, Korban Tewas Bertambah Jadi 16
Di sisi lain, Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa 16 orang korban luka hingga Sabtu ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, dengan tujuh di antaranya berada dalam kondisi kritis. Sebagian besar korban luka yang dirawat tersebut merupakan anak-anak berusia antara 12 hingga 14 tahun. Sementara itu, motif di balik aksi nekat ini masih diselidiki, meskipun muncul laporan bahwa pelaku yang tinggal bersama kakek-neneknya sempat menunjukkan tanda-tanda stres akibat masalah sekolah. Namun, beberapa kerabat menyatakan kepada media lokal Thailand bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui adanya masalah berat yang sedang dihadapi oleh remaja tersebut.
Dampak dari insiden ini, pihak sekolah memutuskan untuk menghentikan seluruh kegiatan belajar mengajar dari tanggal 10 Agustus hingga 14 Agustus, dan menginstruksikan staf sekolah untuk bekerja dari rumah.
Dikutip dari sfchronicle, Sabtu (8/8/2026), suasana di sekitar sekolah pada Sabtu pagi tampak sangat sepi dengan penjagaan minor dari pihak kepolisian di pintu gerbang. Beberapa pelayat tampak berdatangan untuk meletakkan karangan bunga sebagai bentuk penghormatan. Salah satu warga sekitar, Charin Siriananchai, sengaja membawa kedua putranya yang berusia 9 dan 6 tahun untuk memberikan penghormatan terakhir. Walaupun anak-anaknya tidak bersekolah di tempat tersebut, Charin yang tinggal di lingkungan sekitar sering melintasi sekolah ini dan kerap berhenti untuk memberi jalan bagi para siswa yang menyeberang.
"Semua orang merasa sedih dan terkejut, karena hal seperti ini sangat tidak disangka-sangka akan terjadi di Thailand, dan ini juga merupakan sebuah kehilangan yang sangat besar," ujar Charin mengekspresikan kedukaannya.
Selain pelayat, beberapa orang tua juga tampak mendatangi sekolah bersama anak-anak mereka untuk mengambil barang-barang pribadi yang tertinggal pascapenembakan. Seorang ayah yang tidak ingin disebutkan identitasnya mengungkapkan bahwa putranya yang berada di lokasi saat penembakan terjadi masih mengalami trauma berat hingga tidak berani tidur sendirian. Tragedi ini kembali memicu sorotan terhadap tingginya angka kepemilikan senjata api di Thailand, yang tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di Asia setelah Pakistan, serta jauh melampaui negara-negara tetangganya di Asia Tenggara.
Berdasarkan data komprehensif global terakhir pada tahun 2017 oleh Small Arms Survey dan GunPolicy.org, tingkat kepemilikan senjata sipil di Thailand mencapai 15,1 senjata per 100 orang, berbanding terbalik dengan Malaysia yang mencatat kurang dari satu senjata per 100 orang. Data statistik dari World Population Review tahun 2023 juga menunjukkan Thailand mencatat 3,49 kematian akibat senjata api per 100.000 orang. Angka tersebut memang berada di belakang kawasan Amerika Latin dan Karibia, namun tergolong tinggi untuk wilayah Asia, di mana hanya Filipina yang mencatat angka lebih tinggi di Asia Tenggara.
Meskipun kasus pembunuhan massal secara acak jarang terjadi di Thailand, negara ini mengalami peningkatan kasus kematian akibat penembakan yang menarik perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir. Sebelum insiden ini, tepatnya pada bulan Februari, seorang remaja berusia 17 tahun mencuri senjata milik polisi lalu melepaskan tembakan di sebuah SMA di Thailand selatan. Aksi yang diwarnai penyanderaan selama dua jam tersebut menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya. Selain itu, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun juga sempat didakwa atas kasus penembakan massal di sebuah pusat perbelanjaan besar di Bangkok pada tahun 2023 silam.

