Wall Street Menguat Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS, Indeks S&P 500 Cetak Rekor Baru
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada Jumat waktu AS atau Sabtu (8/8/2026) WIB. Indeks S&P 500 naik 0,62% dan ditutup pada rekor tertinggi baru di level 7.757,64. Nasdaq Composite melonjak 1,3% menjadi 26.690,62, sedangkan Dow Jones Industrial Average menguat 151,83 poin atau 0,28% ke level 54.036,93.
Ketiga indeks utama juga membukukan kenaikan mingguan terbaik sejak April. S&P 500 naik 3,6% sepanjang pekan, Nasdaq melesat 5,2% berkat penguatan saham-saham semikonduktor, sementara Dow Jones bertambah hampir 3%.
Baca Juga
Wall Street Merah Dipicu ‘Profit Taking’ dan Ketidakpastian Hormuz, Dow Anjlok Hampir 500 Poin
Optimisme pasar dipicu laporan ketenagakerjaan Juli yang menunjukkan ekonomi AS kehilangan 23.000 pekerjaan, jauh di bawah perkiraan pasar. Mayoritas pelaku pasar kini memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan September.
“Bagi pasar kerja, angka ini tidak menunjukkan peningkatan dan bahkan mungkin mengalami penurunan, tetapi bagi pasar saham, dua area kekhawatiran terbesar adalah imbal hasil dan inflasi,” kata Saira Malik, kepala investasi Nuveen, di acara “Squawk Box” CNBC. Angka yang lebih rendah membantu untuk tidak memperkuat narasi bahwa The Fed perlu menaikkan suku bunga.
Sehari sebelumnya, pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 55%.
Saham-saham teknologi menjadi motor utama penguatan. Cloudflare melonjak lebih dari 5% setelah memberikan prospek kinerja yang positif. Atlassian melesat 35% setelah melaporkan laba dan pendapatan yang melampaui ekspektasi. Airbnb juga menguat 17% setelah membukukan hasil keuangan yang lebih baik dari perkiraan analis.
Baca Juga
Harga Minyak Naik Lebih dari 1%, Pasar Tunggu Kesepakatan Pembukaan Selat Hormuz
Di pasar komoditas, harga minyak bergerak naik. Pasar menanti kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. WTI ditutup naik menjadi US$78,18 per barel, sedangkan Brent mengakhiri perdagangan di US$83,55 per barel.
Pelaku pasar menilai meredanya risiko kenaikan suku bunga dan harapan penyelesaian ketegangan geopolitik menjadi kombinasi positif bagi aset berisiko.

