Prospek Bank Investasi Global Membaik, Merger dan Akuisisi Bakal Marak
NEW YORK, investortrust.id - Para eksekutif bank global mengungkapkan sejumlah rencana kesepakatan bank investasi (investment banking) mulai membaik. Beberapa pihak memperkirakan prospek investasi lebih baik untuk merger dan akuisisi strategis.
Aktivitas merger dan akuisisi maupun penawaran umum perdana (IPO) sempat tersendat setelah invasi Rusia ke Ukraina di 2022 dan kenaikan suku bunga agresif bank sentral Amerika Serikat untuk mengendalikan inflasi.
“Kesepakatan merger dan akuisisi terjadi sedikit lebih cepat, ketika kondisi suku bunga stabil akan ada lebih banyak ruang untuk membuat kesepakatan,” ujar CEO Bank of America, Brian Moynihan saat Konferensi Jasa Keuangan AS Goldman Sachs, pekan ini.
Lebih lanjut, Moynihan mengatakan, Bank of America akan mengungguli industri dalam hal perolehan komisi (fee) perbankan investasi pada kuartal IV.
“Komisi kami akan mencapai sekitar US$ 1 miliar pada kuartal ini, mencerminkan penurunan satu digit yang rendah. Perolehan komisi perbankan investasi di seluruh industri diperkirakan turun 10% hingga 15%,” ucap Moynihan.
Pada kesempatan yang sama, Chief Financial Officer Goldman Sachs, Denis Coleman mengatakan banyak klien memiliki minat untuk melakukan sesuatu yang strategis, namun perusahaan ekuitas swasta harus berhati-hati karena biaya modal yang lebih tinggi.
Lingkungan pasar modal yang telah membaik akhir-akhir ini pun mendorong pencatatan (listing) besar-besaran di Amerika Serikat termasuk pencatatan Arm Holdings.
Dalam hal kesepakatan, Goldman Sachs adalah salah satu penasihat Pioneer Natural Resources yang setuju untuk menjual perusahaan itu ke Exxon Mobil dalam kesepakatan senilai US$ 60 miliar.
Dalam transaksi terbaru, perusahaan asuransi kesehatan AS Cigna sedang dalam pembicaraan untuk melakukan merger dengan Humana, kata sebuah sumber yang mengetahui masalah tersebut, seperti dikutip Reuters. Kesepakatan tersebut nilainya bisa melebihi US$ 60 miliar dan pasti menarik perhatian pengawasan anti monopoli.
Sementara itu, bank investasi independen Evercore juga optimistis terhadap prospek kesepakatan. "Tidak diragukan lagi tingkat aktivitas di perusahaan kami tinggi. Namun pengumuman tersebut bergantung pada stabilitas pasar dan tingkat kepercayaan. Tidak ada dewan direksi yang ingin mengumumkan kesepakatan dan membuat harga sahamnya hancur," tutur CEO Evercore, John S Weinberg.
Tak hanya itu, kata Coleman dari Goldman Sachs, perdagangan saham dan reksa dana pendapatan tetap, mata uang, dan komoditas berada di jalur yang datar sepanjang tahun ini. Pihaknya memperkirakan pengeluaran kompensasi akan meningkat dengan persentase di kisaran satu digit rendah hingga menengah tahun ini. “Hal ini mencerminkan kinerja bisnis intinya,” terang Coleman.
Para petinggi Goldman sedang mempertimbangkan bonus lebih besar untuk mempertahankan para pedagang dan pembuat kesepakatan yang berprestasi tahun ini, untuk mengompensasi mereka yang kecewa dengan bonus yang lebih kecil pada 2022. (CR-5)
