Yield US-Treasury Turun Tajam di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id - Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) turun seiring merosotnya harga minyak dunia. Harga minyak anjlok setelah muncul harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran.
Baca Juga
Imbas Lonjakan Harga Minyak, Yield Obligasi AS Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Januari 2025
Yield obligasi Treasury tenor 10 tahun, yang menjadi acuan utama biaya pinjaman pemerintah AS, turun hampir 7 basis poin menjadi 4,676%.
Sementara itu, yield Treasury tenor 2 tahun—yang lebih sensitif terhadap ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve—turun 5 basis poin menjadi 4,241%. Yield obligasi tenor 30 tahun juga melemah lebih dari 4 basis poin ke level 5,226%.
Penurunan yield terjadi bersamaan dengan anjloknya harga minyak setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan dengan Iran akan kembali dimulai menyusul keputusan Washington menunda serangan baru terhadap Republik Islam tersebut atas permintaan sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.
Namun, optimisme tersebut masih dibayangi sikap Iran yang kembali membantah adanya rencana perundingan langsung dengan Amerika Serikat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, dalam konferensi pers pada Senin menegaskan bahwa Teheran belum memiliki agenda untuk bernegosiasi dengan Washington. Menurutnya, Iran saat ini hanya melakukan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pergerakan pasar obligasi juga dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter AS. Pekan lalu, yield Treasury tenor 30 tahun sempat melonjak ke level tertinggi sejak 2007 setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuannya dalam kisaran 3,50% hingga 3,75%, dengan nada kebijakan yang dinilai masih cenderung ketat (hawkish).
Baca Juga
The Fed Tak Beri Petunjuk Arah Suku Bunga, Pasar Obligasi Bereaksi Negatif
Keputusan tersebut diambil melalui pemungutan suara 9 berbanding 3. Tiga pejabat The Fed memilih menolak keputusan tersebut karena menilai suku bunga seharusnya kembali dinaikkan guna mengendalikan tekanan inflasi.
Kepala Strategi Global Principal Asset Management, Seema Shah, mengatakan penurunan yield jangka pendek mencerminkan meningkatnya ekspektasi bahwa kebijakan moneter dalam waktu dekat akan lebih akomodatif.
Namun, menurutnya, level yield jangka panjang yang masih relatif tinggi menunjukkan pasar tetap khawatir Ketua Federal Reserve Kevin Warsh tidak akan bertindak cukup agresif apabila inflasi bertahan pada level tinggi.
"Pasar obligasi pada dasarnya sedang menguji kredibilitas Federal Reserve dalam menjaga stabilitas inflasi," ujar Shah, dilansir CNBC.
Turunnya harga minyak juga membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi, sehingga meningkatkan permintaan terhadap obligasi pemerintah AS yang dianggap sebagai aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik.
