Strategi BlackRock Menggaet CEO Saudi Aramco
JAKARTA, investortrust.id – Siapa tak tahu BlackRock, perusahaan investasi dengan dana kelolaan terbesar di dunia? Bagi masyarakat finansial, khususnya pelaku pasar modal, nama BlackRock tentu sudah tak asing lagi.
Perusahaan yang berkantor pusat di New York, Amerika Serikat, itu memiliki dana kelolaan US$ 8,59 triliun atau nyaris mencapai Rp 129.000 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) pada akhir 2022. Bahkan, tahun 2021, dana kelolaannya sempat menembus US$ 10 triliun.
Baru-baru ini, BlackRock mengumumkan masuknya nama baru di jajaran dewan direksi perusahaan. Adalah Amin Nasser, CEO perusahaan minyak terbesar di dunia Saudi Aramco, yang diajak bergabung.
Mengapa BlackRock menggaet bos Aramco? Sepertinya, BlackRock melihat betapa pentingnya peran Timur Tengah dalam pengembangan bisnis ke depan. Tak heran bila Timur Tengah ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi jangka panjangnya.
Selain itu, bos BlacRock juga mempertimbangkan reputasi Amin Nasser yang luar biasa di Saudi Aramco. Karier Amin di Aramco selama lebih dari empat decade diharapkan bisa memberi perspektif tentang berbagai masalah utama yang dihadapi perusahaan dan klien.
"Pengalaman kepemimpinan, pemahaman tentang industri energi global, semangat menuju ekonomi rendah karbon, serta pengetahuannya tentang kawasan Timur Tengah, semuanya akan berkontribusi secara signifikan pada dialog direksi BlackRock," kata Larry Fink, CEO BlackRock, dalam keterangan resmi yang dikutip dari CNBC.com, Selasa (18/7/2023).
Nasser telah memimpin Aramco sejak 2015. Dia menjadi sosok utama keberhasilan pencatatan publik (IPO) perusahaan minyak tersebut pada 2019. Kemudian pada 2021, di bawah kendalinya Aramco yang merupakan perusahaan fosil raksasa dunia mengumumkan proposalnya untuk mencapai emisi gas nol bersih pada 2050.
Sementara itu, BlackRock juga ikut menerapkan pedoman dan strategi tata kelola lingkungan, sosial dan perusahaan (ESG) di industri keuangan. Perusahaan, yang menjual sejumlah fund "berkelanjutan", telah mendapat kecaman karena investasinya di perusahaan produsen bahan bakar fosil dan menjadi sasaran politik dengan kritik atas kebijakan ESG-nya.
Pada Agustus 2022, Pengawas Keuangan Texas Glenn Hegar mengecam BlackRock dan menempatkan manajer aset dalam daftar perusahaan keuangan yang "memboikot perusahaan energi".
Pada bulan Desember, kepala keuangan Florida Jimmy Patronis mengatakan departemen keuangan negara bagian tersebut akan mulai mendivestasikan US$ 2 miliar (Rp 30 triliun) aset mereka yang dikelola oleh BlackRock.
Fink sebelumnya mengatakan bahwa manajer investasi seperti BlackRock bukanlah "polisi lingkungan", tetapi merupakan kewajiban fidusia perusahaan untuk memberi investor akses ke informasi terbaik dan terlengkap untuk membuat keputusan investasi keuangan mereka. Termasuk, data terkait iklim dan ekonomi hijau berkelanjutan.

